HARIANSULSEL.COM, Makassar – KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur, adalah sosok yang sangat lekat dengan gagasan pluralisme dan kebinekaan. Sebagai seorang ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa, Gus Dur memiliki visi yang luas tentang Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya dan keberagaman. Ia percaya bahwa kebinekaan bukanlah hambatan bagi persatuan, melainkan fondasi yang memperkokoh identitas nasional Indonesia.
Melalui pemikiran dan tindakannya, Gus Dur menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam merawat kebinekaan. Baginya, kebudayaan adalah ruang dialog yang memungkinkan berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda untuk saling memahami dan menghormati.
Gus Dur memahami bahwa kebudayaan adalah akar dari keberagaman Indonesia. Dengan ratusan suku, bahasa, dan tradisi, Indonesia memiliki mozaik kebudayaan yang luar biasa kaya. Namun, Gus Dur menekankan bahwa kekayaan ini harus dipandang sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Salah satu langkah nyata Gus Dur dalam merawat kebudayaan adalah pembelaannya terhadap tradisi lokal yang sering kali terpinggirkan. Ia percaya bahwa setiap budaya memiliki nilai dan keunikan yang harus dilestarikan. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur tidak segan untuk menghadiri acara adat, merayakan tradisi lokal, atau bahkan mempelajari seni budaya yang berbeda.
Dalam pandangannya, kebudayaan adalah jembatan yang menghubungkan perbedaan. Melalui seni, musik, tarian, dan adat istiadat, Gus Dur melihat adanya potensi besar untuk menciptakan harmoni di tengah keberagaman.
Bagi Gus Dur, kebinekaan adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Sebagai bangsa yang lahir dari keberagaman, Indonesia harus mampu mengelola perbedaan dengan cara yang inklusif dan adil. Gus Dur percaya bahwa kebinekaan bukan hanya tentang keberadaan berbagai suku, agama, dan budaya, tetapi juga bagaimana setiap elemen itu dapat hidup berdampingan secara damai.
Sebagai tokoh yang dikenal pluralis, Gus Dur sering kali membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Ia menolak diskriminasi dalam bentuk apa pun dan selalu memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas. Salah satu tindakan legendarisnya adalah mencabut larangan perayaan Imlek secara terbuka, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia.
Tindakan ini bukan hanya soal pengakuan terhadap satu kelompok tertentu, tetapi juga pesan kuat bahwa kebinekaan harus dirayakan, bukan ditakuti.
Gus Dur percaya bahwa kebudayaan dapat menjadi medium dialog antar kelompok. Dalam seni dan tradisi, manusia dapat menemukan nilai-nilai universal yang melampaui perbedaan. Ia sering kali mengutip karya sastra, seni rupa, dan musik sebagai contoh bagaimana budaya dapat menyatukan.
Misalnya, melalui wayang, Gus Dur melihat adanya ruang untuk mengajarkan nilai-nilai kebijaksanaan dan toleransi. Wayang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan moral dan mempererat hubungan antarkomunitas.
Hal serupa juga ia lihat dalam musik. Bagi Gus Dur, musik adalah bahasa universal yang dapat menjembatani perbedaan budaya. Tidak heran jika ia sering hadir di acara-acara budaya lintas agama dan etnis, seperti konser musik lintas tradisi atau pertunjukan seni yang melibatkan berbagai komunitas.
Di era modern, merawat kebinekaan menjadi tantangan besar. Meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, dan konflik berbasis identitas menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjaga warisan Gus Dur.
Namun, pemikiran Gus Dur tentang pentingnya kebudayaan sebagai alat pemersatu tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa keberagaman harus dirayakan melalui dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Generasi muda memiliki peran penting dalam melanjutkan perjuangan ini. Dengan teknologi dan akses informasi yang lebih luas, mereka memiliki kesempatan untuk menjadikan kebudayaan sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai kebinekaan.
Gus Dur adalah tokoh yang menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi kekuatan besar untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman. Ia tidak hanya berbicara tentang pentingnya kebinekaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi wadah untuk memperkuat identitas nasional.
Warisan Gus Dur dalam merawat kebinekaan melalui kebudayaan adalah pelajaran berharga bagi bangsa ini. Ia mengajarkan bahwa di tengah perbedaan, kita dapat menemukan kesamaan. Dalam kata-katanya yang terkenal, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu.”
Kebudayaan, dalam pandangan Gus Dur, adalah jembatan yang dapat menyatukan bangsa. Melalui kebudayaan pula, kita dapat terus merawat kebinekaan dalam bingkai persatuan yang kokoh. Wallahu A’lam Bissawab
Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel