HARIANSULSEL.COM, Makassar – KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, adalah tokoh besar Indonesia yang selalu dikenang karena perjuangannya dalam mengedepankan pluralisme dan perdamaian. Dalam berbagai peran yang pernah diembannya—sebagai ulama, pemikir, hingga Presiden Indonesia—Gus Dur selalu memposisikan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan perbedaan. Beliau memahami bahwa keberagaman Indonesia bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat.
Pluralisme bagi Gus Dur bukan sekadar slogan atau teori akademik, melainkan sebuah pandangan hidup. Beliau percaya bahwa perbedaan agama, budaya, dan etnis adalah bagian dari kehendak Tuhan yang harus diterima dan dihormati. Dalam salah satu pidatonya, Gus Dur pernah mengatakan, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia.” Kalimat ini menegaskan bahwa tugas manusia bukanlah memperjuangkan agama dengan cara memusuhi yang berbeda, tetapi memastikan keadilan dan kemanusiaan ditegakkan untuk semua.
Sikap pluralis Gus Dur tercermin dalam banyak tindakannya. Ketika menjabat sebagai Presiden, beliau mencabut berbagai kebijakan diskriminatif terhadap kelompok minoritas, salah satunya adalah pengakuan resmi terhadap perayaan Imlek. Tindakan ini tidak hanya memberikan ruang bagi komunitas Tionghoa untuk mengekspresikan budayanya, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap keberagaman di Indonesia.
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang mengutamakan perdamaian di atas segala hal. Bagi beliau, perdamaian adalah syarat utama untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan. Dalam banyak konflik, baik yang berskala nasional maupun internasional, Gus Dur selalu hadir sebagai pendamai yang menawarkan dialog sebagai solusi.
Salah satu contoh nyata adalah upaya Gus Dur dalam meredakan ketegangan di Maluku pada awal 2000-an. Dalam situasi yang sangat sensitif, beliau memilih untuk mendekati semua pihak dengan penuh kelembutan dan penghormatan. Gus Dur memahami bahwa konflik tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan, tetapi melalui dialog yang tulus dan saling memahami.
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga nilai-nilai pluralisme dan perdamaian. Munculnya berbagai gerakan intoleransi, polarisasi sosial, hingga konflik berbasis identitas menunjukkan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur masih sangat relevan. Di tengah situasi ini, pemikiran dan teladan Gus Dur menjadi inspirasi yang tak ternilai.
Beliau mengajarkan bahwa toleransi bukanlah sekadar hidup berdampingan secara damai, tetapi juga aktif memperjuangkan hak-hak kelompok yang terpinggirkan. Pluralisme yang sejati, menurut Gus Dur, adalah keberanian untuk melawan ketidakadilan, meskipun hal itu membuat seseorang tidak populer.
Generasi muda memiliki peran penting dalam melanjutkan perjuangan Gus Dur. Dengan kemajuan teknologi dan akses informasi yang luas, nilai-nilai pluralisme dan perdamaian dapat disebarluaskan dengan lebih efektif. Namun, hal ini membutuhkan keberanian dan ketulusan, sebagaimana yang selalu dicontohkan Gus Dur.
Media sosial, misalnya, dapat digunakan sebagai platform untuk mengkampanyekan toleransi dan dialog. Namun, di sisi lain, platform ini juga dapat menjadi alat untuk menyebarkan kebencian. Oleh karena itu, generasi muda perlu bijak dalam memanfaatkan teknologi, menjadikannya sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
Gus Dur adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat menjadi agen perubahan melalui keberanian, ketulusan, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur. Perjuangan beliau dalam mengedepankan pluralisme dan perdamaian menjadi warisan yang harus terus dilestarikan oleh setiap generasi.
Sebagaimana Gus Dur sering kali berkata, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa di tengah segala perbedaan, kemanusiaan adalah nilai yang menyatukan kita semua. Gus Dur mungkin telah tiada, tetapi gagasan dan semangatnya akan terus hidup, menjadi inspirasi bagi setiap insan yang mencintai kedamaian dan keberagaman. Wallahu A’lam Bissawab – Alfatihah
Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Penggerak NU Sulsel