HARIANSULSEL.COM, Makassar – Gus Dur atau dikenal dengan KH Abdurrahman Wahid adalah sosok yang akan terus hidup dalam sejarah Indonesia sebagai representasi perjuangan toleransi. Ide-idenya, wataknya, dan perbuatannya telah menunjukkan bahwa keberagaman adalah sebuah kekuatan dan bukan penghalang untuk menciptakan sebuah negara yang ramah dan damai. Meski menuai perdebatan dan penolakan dari banyak pihak, Gus Dur tak hanya menganjurkan toleransi, tapi juga mempraktikkannya.
Prinsip-prinsip yang diperjuangkan Gus Dur masih sangat relevan di masa kini, ketika perpecahan, intoleransi, dan konflik identitas menjadi fenomena sosial yang lumrah. Teladan beliau mengajarkan kepada kita bahwa siapa pun yang peduli terhadap keadilan dan kemanusiaan harus terus memperjuangkan toleransi, yang bukan merupakan domain satu generasi saja.
Gus Dur memandang toleransi lebih dari sekedar basa-basi atau retorika politik. Sikap dan perilaku nyata harus mencerminkan prinsip hidup toleransi. Menurut Gus Dur, setiap orang mempunyai hak yang sama untuk diperlakukan dengan hormat sebagai ciptaan Tuhan dan hidup damai tanpa menghadapi diskriminasi. Ide ini berakar kuat pada ilmu agama. Menurut Gus Dur, Islam adalah agama kasih sayang yang memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia (rahmatan lil alamin). Oleh karena itu, ia tidak menyetujui adanya pola pikir yang memecah belah atau mendiskriminasi kelompok lain dengan menggunakan agama.
Salah satu kutipan terkenalnya, “Tidak peduli apa agama Anda atau apa etnis Anda,” mencerminkan gagasan tolerannya. Orang tidak akan bertanya tentang agama Anda jika Anda bisa membantu semua orang. Toleransi terangkum dalam pernyataan ini: kemanusiaan harus didahulukan sebelum adanya perbedaan identifikasi. Keberanian Gus Dur dalam memperjuangkan toleransi melampaui pemikiran belaka. Dia telah menunjukkan dukungannya terhadap komunitas yang terpinggirkan dan didiskriminasi dalam beberapa kesempatan
Keputusannya untuk menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional dan menghapus larangan perayaan Tahun Baru Imlek di tempat umum merupakan salah satu tindakannya yang paling signifikan. Bagi komunitas Tionghoa, yang selama bertahun-tahun merasa dikucilkan, kebijakan ini mewakili kebebasan. Tindakan ini menunjukkan bahwa toleransi berarti memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk hidup dan mengekspresikan diri secara setara, selain menghormati perbedaan.
Tak hanya itu, Gus Dur juga membela hak umat Kristen, Ahmadiyah, dan agama minoritas lainnya. Ia meyakini, apapun keyakinan warganya, negara harus ada untuk melindungi mereka semua. Gus Dur konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan meski mendapat kritik keras dari berbagai pihak.
Penggunaan humor oleh Gus Dur sebagai teknik penghilang stres membuatnya menonjol dalam perjuangan toleransi. Gus Dur menawarkan humor sebagai perseptif yang mampu mempertemukan masyarakat dalam menghadapi perbedaan yang tak jarang berujung konflik. Baginya, humor berfungsi sebagai alat untuk mengkomunikasikan ide-ide penting tanpa menimbulkan permusuhan, selain sebagai bentuk hiburan.
Meski kerap mengangkat isu-isu sosial dan politik, humor Gus Dur dihadirkan sedemikian rupa sehingga membuat orang nyengir. Jenis humor ini sering kali berfungsi untuk mencairkan suasana dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk percakapan yang lebih bermanfaat. Kita belajar dari humor Gus Dur bahwa perbedaan tidak selalu harus disambut dengan permusuhan, mereka dapat ditangani dengan tenang dan pikiran terbuka.
Masalah toleransi menjadi semakin rumit di era digital dan globalisasi. Konflik sering kali dipicu oleh polarisasi sosial, maraknya ujaran kebencian, dan munculnya hoaks. Prinsip-prinsip yang diperjuangkan Gus Dur semakin penting dalam menghadapi keadaan ini.
Dalam meneruskan perjuangan Gus Dur, generasi muda sangat menentukan. Mereka bisa menjadi pembawa damai dan masyarakat yang toleran jika mereka mempunyai akses terhadap berbagai informasi. Namun hal ini memerlukan pengetahuan untuk memanfaatkan media sosial dan teknologi secara bertanggung jawab, tidak hanya untuk mengungkapkan kebenaran tetapi juga untuk menumbuhkan wacana yang inklusif dan produktif.
Meniru Gus Dur berarti memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan, kefanatikan, dan diskriminasi—walaupun tindakan tersebut kontroversial. Meneladani Gus Dur berarti menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan dan menggunakannya sebagai kompas dalam segala tindakan.
Meski Gus Dur tak lagi bersama kita, namun prinsip yang diperjuangkannya akan tetap bertahan. Semua generasi terinspirasi oleh keberanian, kegigihan, dan kasih sayang beliau dalam mengedepankan toleransi. Sulit untuk mempertahankan toleransi, seperti yang diajarkan Gus Dur. Dibutuhkan kesabaran untuk memulai pembicaraan, kepekaan melihat perbedaan, dan keberanian untuk menentang ekspektasi.
Gus Dur pernah menyatakan, “Kita semua sama di hadapan Tuhan,” dengan pernyataan yang lugas namun berdampak. Perilaku kita terhadap orang lain itulah yang membedakan kita. Pesan ini mengingatkan bahwa toleransi mencakup tindakan demi kepentingan terbaik kelompok dan menghargai keberagaman individu.
Gus Dur merupakan representasi perjuangan penerimaan yang terus berlangsung. Teladannya menunjukkan bahwa toleransi melibatkan lebih dari sekedar kata-kata; hal ini juga memerlukan tindakan praktis yang memerlukan keberanian, kearifan, dan kasih sayang.
Kita semua mempunyai kewajiban untuk meneruskan perjuangan tersebut saat ini, khususnya generasi muda. Kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif, adil, dan damai dengan mengadopsi semangat Gus Dur.
Mari kita adopsi konsep hidup toleransi seperti yang diajarkan Gus Dur. Bukan karena kita harus melakukannya, namun karena kita memahami bahwa menghormati umat manusia dengan segala keberagamannya adalah cara terbaik untuk menciptakan dunia yang damai. Kita sudah mengikuti jejak Gus Dur, dan sekarang giliran kita. Gus Dur adalah inspirasi di balik perlunya menjaga toleransi. Wallahu A’lam Bissawab
Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel