Opini: Gus Dur dan Kearifan Lokal

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Selain menjabat sebagai presiden keempat Indonesia, Gus Dur yang bernama asli Abdurrahman Wahid ini merupakan seorang pemikir brilian, ikon budaya, dan representasi pluralisme. Lebih lanjut, Gus Dur adalah sosok yang mampu menggali dan melestarikan kearifan lokal sebagai landasan keberagaman bangsa.

Dalam beragam gagasannya, ia membahas politik, agama, dan budaya sebagai wadah interaksi antarmanusia.

Gus Dur kerap menekankan pentingnya “kembali ke akar” untuk menemukan jati diri, bahkan dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Dari Sabang hingga Merauke, “akar” yang dimaksudnya adalah kearifan lokal, yang dalam konteks Indonesia diwujudkan dalam bentuk tradisi, praktik, kepercayaan, dan nilai-nilai budaya.

Menurut Gus Dur, kearifan lokal merupakan garda pertahanan terakhir dalam melestarikan kebhinekaan dan persatuan bangsa. Menurut Gus Dur, kearifan lokal bersifat dinamis. Ia selalu berkembang, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Kearifan lokal dapat ditemukan di banyak tempat sebagai falsafah hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, “siri na pesse” bagi orang Bugis, ungkapan Minangkabau “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah“, dan ungkapan Toraja “Hamulung” yang menonjolkan persatuan, solidaritas, dan kepedulian. Meski berakar pada budaya daerah, banyak adat istiadat yang memuat prinsip-prinsip universal yang dapat mengarahkan masyarakat masa kini.

Bagi Gus Dur, kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah kekuatan nyata yang bisa menjadi jembatan dialog antara tradisi dan modernitas. Dari sinilah muncul pemikiran bahwa budaya lokal adalah “rumah bersama” bagi semua kelompok—tanpa membedakan suku, agama, atau latar belakang. Sikap inilah yang membuat Gus Dur begitu dihormati lintas batas.

Gus Dur sering kali menyampaikan pesan-pesan kebijaksanaan dengan cara yang ringan, bahkan lewat humor. Salah satu kisah yang sering dikaitkan dengannya adalah bagaimana ia mendekati komunitas-komunitas lokal.

Gus Dur tak pernah memandang tradisi sebagai sesuatu yang asing atau kecil. Ia justru melihatnya sebagai identitas yang perlu dirayakan.

Saat menjadi Ketua PBNU, Gus Dur dikenal sering “blusukan” ke pelosok-pelosok Nusantara. Ia duduk bersama para tokoh adat, mendengarkan cerita rakyat, bahkan menari dan menyanyikan lagu-lagu tradisional. Hal ini bukan sekadar simbol kedekatan, melainkan wujud penghormatan terhadap kebudayaan yang tumbuh dari bawah. Bagi Gus Dur, dialog budaya dan tradisi adalah cara terbaik untuk memecahkan konflik.

Ada kisah ketika Gus Dur berkunjung ke Papua. Di sana, ia ikut mendengarkan nyanyian adat sambil berdiskusi tentang nilai-nilai leluhur yang diajarkan turun-temurun. Setelah itu, dengan santai ia berkata, “Indonesia ini luas sekali. Kalau kita ribut soal siapa yang paling benar, kita bisa tersesat. Lebih baik belajar dari kebudayaan masing-masing.” Kalimat itu sederhana, namun menyimpan makna yang begitu dalam.

Pada masa kepemimpinannya, Gus Dur kerap dihadapkan pada ketegangan antaragama, antarsuku, bahkan antargolongan. Namun ia punya pendekatan khas: menyatukan perbedaan melalui kebudayaan. Baginya, agama memang penting, tetapi budaya sering kali lebih ampuh dalam merawat kerukunan.

Hal ini terlihat saat ia mendukung seni-budaya lokal untuk tumbuh dan berkembang. Ia percaya, tari-tarian tradisional, permainan rakyat, dan upacara adat adalah alat pemersatu yang bisa menembus sekat-sekat perbedaan. Sebab di sana, setiap orang—entah apa agamanya atau sukunya—bisa bersama-sama merasakan kegembiraan yang sama.

Tak jarang Gus Dur menyebut “humor dan kebudayaan” sebagai dua senjata paling ampuh untuk meredam konflik. Ia percaya, humor mampu membuat orang yang berselisih jadi tertawa, sedangkan kebudayaan mengingatkan manusia pada jati dirinya yang sejati. “Kalau sudah mengenal budaya sendiri, orang akan tahu bahwa tak ada gunanya bertengkar. Lebih baik makan bersama, ngobrol santai,” ujarnya suatu ketika.

Di era digital seperti sekarang, tantangan terbesar kearifan lokal adalah bagaimana ia tetap hidup dan relevan di tengah pengaruh globalisasi.

Jika Gus Dur masih ada, mungkin ia akan berkata: “Jangan takut pada yang asing, tapi jangan tinggalkan yang asli.” Prinsip ini menegaskan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan.
Membumikan kembali kearifan lokal bukan berarti menutup diri dari perubahan zaman.

Justru sebaliknya, kearifan lokal bisa menjadi “filter” untuk menyaring nilai-nilai luar yang sesuai dengan identitas kita. Misalnya, gotong royong yang menjadi tradisi di desa-desa bisa diterjemahkan dalam bentuk kolaborasi di dunia digital. Atau, cerita-cerita rakyat yang kaya pesan moral bisa dikemas dalam bentuk konten-konten kreatif yang menarik generasi muda.

Gus Dur telah meninggalkan banyak warisan, salah satunya adalah penghargaan terhadap kearifan lokal.

Dari pemikirannya, kita belajar bahwa bangsa ini terlalu kaya untuk dilihat dari satu sudut pandang saja. Ada begitu banyak kearifan di setiap penjuru Indonesia yang bisa kita jadikan pelajaran.

Pada akhirnya, merawat kearifan lokal adalah merawat rumah kita bersama. Seperti yang sering Gus Dur katakan, “Tidak penting apapun suku, agama, atau budaya kita, selama kita bisa saling menghormati.” Itulah pelajaran terbesar dari seorang Gus Dur: mengajarkan kita untuk saling mendengarkan, memahami, dan merayakan perbedaan.

Dengan kearifan lokal, kita tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga membangun masa depan yang lebih damai dan berkeadilan. Sebab, seperti kata pepatah Jawa : “Becik ketitik, ala ketara”—kebaikan akan selalu menemukan jalannya. Wallahu A’lam Bissawab

Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel, Direktur Pangadereng Institut (PADI)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *