HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pemandangan anak muda yang mengenakan kain ihram sambil memegang ponsel di Masjidil Haram bukan lagi hal aneh. Mereka memotret, membuat video, lalu membagikan pengalaman berhajinya ke media sosial. Fenomena ini menjadi bagian dari wajah baru ibadah haji, yang kini juga dipengaruhi oleh budaya digital dan gaya hidup generasi milenial.
Menurut laporan Kementerian Agama, jumlah jamaah haji berusia 18–39 tahun meningkat dalam lima tahun terakhir, terutama dari kalangan profesional muda. Sebagian dari mereka bahkan mengikuti program haji reguler meskipun masih muda, dengan motivasi religius sekaligus kebutuhan eksistensial. Bagi generasi ini, berhaji tidak hanya memenuhi rukun Islam, tetapi juga menjadi bagian dari proyek spiritual dan identitas diri.
Media sosial memainkan peran penting dalam cara generasi milenial mengekspresikan pengalaman spiritual. Mereka tidak ragu membagikan doa, refleksi, hingga dokumentasi visual selama berhaji. Apa yang bagi sebagian orang dianggap sebagai pamer atau pencitraan, bagi mereka adalah bentuk kesaksian iman dan ajakan tidak langsung kepada orang lain untuk ikut berhaji.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Riset Sosial Islam (LRSI) , Survei Kualitatif Terbatas, 2023 menunjukan persentase jamaah haji Indonesia berusia di bawah 40 Tahun (millenial) dari tahun 2015 hingga 2024 meningkat terutama pascapandemi , dan mencerminkan keterlibatan generasi muda yang makin aktif dalam ibadah haji.
Namun, respons publik tak selalu positif. Ada yang menganggap bahwa kehadiran kamera dan konten digital mengurangi kekhusyukan ibadah. Kritik ini penting, terutama jika dokumentasi berlebihan justru mengaburkan makna ibadah itu sendiri. Tapi perlu disadari pula bahwa spiritualitas generasi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya visual dan partisipatif yang mereka hidupi.
Generasi milenial tumbuh di era keterbukaan informasi, pencitraan digital, dan mobilitas sosial tinggi. Mereka terbiasa mengomunikasikan nilai melalui narasi visual, bukan hanya lisan atau tulisan. Maka, ketika berhaji, ekspresi keberagamaan pun mengambil bentuk baru yang lebih komunikatif. Ini bukan sekadar gaya, tapi cara mereka membangun relasi spiritual yang kontekstual.
Tidak sedikit pula dari mereka yang menempuh jalan panjang menuju haji. Ada yang menabung sejak kuliah, bergabung dalam komunitas persiapan haji muda, atau mengikuti kelas manasik daring yang lebih interaktif. Hal ini menunjukkan bahwa di balik ekspresi digital itu, ada ketulusan, persiapan serius, dan komitmen mendalam.
Institusi keagamaan dan penyelenggara haji perlu merespons dinamika ini dengan pendekatan yang adaptif. Edukasi etika digital selama ibadah, kurikulum manasik yang relevan dengan gaya belajar generasi muda, serta penyediaan ruang reflektif yang ramah media sosial menjadi langkah penting agar pengalaman haji tetap otentik tanpa kehilangan nilai spiritualnya.
Lebih jauh, fenomena ini membuka peluang munculnya model baru keberagamaan yang inklusif dan komunikatif. Di tengah polarisasi wacana agama, generasi muda yang berhaji dengan semangat damai, terbuka, dan tidak dogmatis bisa menjadi agen penyegaran spiritual dalam kehidupan sosial keagamaan kita.
Tentu, ada batas yang perlu dijaga. Ketika dokumentasi mengalahkan kontemplasi, atau ketika popularitas menenggelamkan ketulusan, maka makna ibadah bisa tereduksi. Karena itu, literasi spiritual dan kedewasaan digital menjadi dua hal yang harus berjalan beriringan dalam membentuk karakter haji generasi baru.
Apa yang dilakukan generasi milenial hari ini adalah cara mereka mencari Tuhan di tengah dunia yang riuh dan serba cepat. Tidak semua ekspresi harus sama dengan generasi sebelumnya, karena zaman dan tantangannya pun berbeda. Selama nilai-nilai keikhlasan, kerendahan hati, dan ketundukan tetap menjadi jiwa dari ibadah, maka ekspresi luar bukanlah masalah.
Haji selalu mencerminkan wajah zaman. Di era digital, wajah itu berubah, tapi ruhnya tetap bisa dijaga. Yang dibutuhkan adalah bimbingan, bukan penolakan; dialog, bukan penghakiman. Sebab di tangan generasi milenial, haji bisa menjadi titik temu antara tradisi dan transformasi.
Jika mereka mampu pulang dengan hati yang lebih jernih, iman yang lebih dalam, dan kepekaan sosial yang lebih luas—maka haji telah menemukan makna barunya di zaman yang baru.
Jika kecanggihan teknologi hari ini dapat menjembatani perjalanan fisik dan batin manusia menuju Tuhan, maka tugas kita bukan mengkerdilkan ekspresi baru itu, tetapi memastikan bahwa ruang digital tetap menjadi lahan subur bagi tumbuhnya akhlak dan kesadaran ilahiah. Sebab spiritualitas bukan monopoli masa lalu, melainkan terus tumbuh dalam dialektika zaman, menjangkau manusia di mana pun ia berada—termasuk di balik layar dan jaringan sosial yang tak kasat mata.
Penulis: Zaenuddin Endy – Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Pesantren Modern (DPP IKAPM) Aljunaidiyah Bone