HARIANSULSEL.COM, Makassar – Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi tonggak sejarah penting yang menandai transformasi baru dalam tubuh partai. Keterpilihan Agus Suparmanto sebagai Ketua Umum melalui mekanisme aklamasi yang didukung oleh lebih dari 2/3 muktamirin menunjukkan legitimasi kuat sekaligus konsensus yang kokoh.
Kehadiran mayoritas mutlak peserta muktamar menegaskan bahwa arah kepemimpinan baru PPP lahir dari kehendak bersama, bukan sekadar kompromi politik. Forum tertinggi partai ini pun berhasil mengedepankan musyawarah mufakat dan mengamandemen AD/ART demi menjawab tantangan zaman. Keputusan tersebut tidak hanya simbol konsensus, tetapi juga ikhtiar bersama untuk membawa PPP memasuki babak baru.
Dalam pidatonya saat tasyakuran muktamar, Agus Suparmanto menekankan tiga poin fundamental: kemandirian ekonomi partai, rekonsiliasi pasca muktamar, dan peningkatan elektoral berbasis riset. Kemandirian ekonomi partai menjadi prasyarat agar PPP dapat berdiri tegak tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak eksternal. Rekonsiliasi menjadi kebutuhan mendesak agar tidak ada lagi sekat-sekat internal yang melemahkan. Sedangkan riset elektoral menjadi kunci agar setiap langkah politik partai lebih berbasis data, terukur, dan sesuai aspirasi umat.
Muktamar sebagai forum tertinggi harus dipahami sebagai wadah persatuan, bukan perpecahan. Perbedaan pandangan di dalamnya semestinya disikapi secara arif. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadits: “Ikhtilafu ummati rahmah” (perbedaan di antara umatku adalah rahmat). Artinya, perbedaan pendapat bukan untuk memecah, melainkan menjadi energi positif jika dikelola dengan kebijaksanaan dan keikhlasan.
Sejalan dengan itu, Agus Suparmanto menyerukan pentingnya merangkul kembali semua elemen untuk bersatu, dengan tujuan mengembalikan PPP ke Senayan. Lebih dari itu, beliau menegaskan PPP harus kembali pada jati dirinya sebagai rumah besar umat Islam. PPP bukan hanya partai politik semata, melainkan instrumen perjuangan umat untuk memperjuangkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kesejahteraan rakyat.
Kini saatnya seluruh kader, dari pusat hingga akar rumput, melebur dalam satu barisan perjuangan. Persatuan kader adalah kunci agar PPP mampu bangkit kembali, bukan hanya sebagai partai yang hadir di parlemen, tetapi sebagai partai yang benar-benar hadir untuk umat. Dengan semangat muktamar, mari kita jaga persaudaraan, rapatkan saf perjuangan, dan buktikan bahwa PPP adalah rumah besar umat Islam yang kokoh berdiri untuk kejayaan bangsa dan agama.
Penulis: Rizal Syarifuddin – Ketua Bappilu PPP Sulsel 2015-2020