Eksekusi Mati untuk Pelaku Pemerkosa dan Pembunuh Kiki Kumala

0
309

HARIANSULSEL.COM, Ternate – Masyarakat Maluku Utara di gegerkan dengan Kasus penemuan mayat oleh salah seorang warga. Mayat tersebut bernama Kiki Kumala yang berasal dari desa Tahane Kecamatan Malifut, Halmahera Barat, Kamis (17/7).

Singkat cerita, Kiki di ketahui hilang semenjak dua hari yang lalu. Sebelum mayatnya di temukan dengan kondisi yang sangat mengenaskan, menurut informasi yang beredar di media masa, Kiki di antar oleh orang tuanya saat mau berangkat ke Sofifi dengan tujuan ke Ternate untuk mengikuti ujian tes di salah satu universitas di kota ternate. Setelah menjelang berapa menit mobil dengan merek Avanza datang dari arah Tobelo-Sofifi. Akhirnya Kikipun naik dan kemudian supirpun berangkat. 

Nihilnya, keberangkatan Kiki bukan kepergian pertama, melainkan adalah kepergian yang terakhir karena dengan sengaja Kiki di bunuh dan lebih mirisnya, sebelum di bunuh Kiki juga sempat di perkosa oleh supir. Kemudian, mayatnya di buang di hutan dekat perkebunan warga. Untungnya, mayatnya Kiki di temukan oleh warga dan kemudian melaporkan ke pihak yang berwajib, dan tak lama mayatnya di larikan ke RSU Kota Weda untuk di otopsi/periksa, setelah itu mayatnya di pulangkan ke kampung asalnya untuk di kebumikan.

Saat ini, pelaku sudah di tangkap oleh pihak kepolisian dan ditahan dengan tuntutan kasus pemerkosaan dan pembunuhan secara berencana (Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana) dengan sanksi penjara seumur hidup.

Tentunya, terbunuhnya Kiki Kumala bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, dan kita semua. Melainkan ini juga bagian dari evaluasi pemerintah dalam hal membuat regulasi yang sesuai dan memiliki efek jera.

Jika kita refleksi kembali soal penerapan UUD tentang hukuman mati dengan penjara seumur hidup bagi pelaku pembunuhan berencana, tentu kita akan merasakan ketidakpuasan. Karena pada kenyataannya masih banyak kejadian-kejadian serupa, malahan lebih meningkat dari tahun ke tahun.

Bagi saya, ini menjadi sebuah rujukan pemerintah untuk lebih memaksimalkan hukuman atau sanksi yang bisa membuat efek jera kepada masyarakat, dan menurut saya sanksi hukuman mati dengan cara memenjarakan pelaku seumur hidup belum maksimal, melainkan pelaku harus diberikan sanksi hukuman mati dengan cara “EKSEKUSI MATI”.

Pertimbangannya sangat sederhana, supaya masyarakat takut dengan prilaku bejat seperti ini, dengan demikian, ini akan mengurangi kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Kalau narapidana narkoba bisa di eksekusi mati, kenapa pelaku pemerkosaan tindak pidana pembunuhan tidak? Padahal perilaku ini sudah sangat jelas bersalah dan benar-benar menghilangkan nyawa seseorang.

Kenyataannya, kasus pembunuhan Kiki Kumala itu adalah bagian kecil dari kasus pemerkosaan dan pembunuhan di negara Indonesia dengan motif yang sama. Tapi sejauh ini, masih banyak melakukan, hal ini bisa kita sadari bahwa regulasi belum maksimal. Terlebih pada pihak yang berwajib untuk benar-benar memberikan hukuman bagi si pelaku.

Penulis: Marisa Limun – Ketua bidang OKP, Ormas, dan Komunikasi Lintas Organisasi Perempuan Kopri PB PMII

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here