Tafakkur di Tengah Pandemi Covid-19 (Seri-9)

0
167

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Kali ini berbeda tafakkurnya. Tafakkur di tengah pandemi covid-19. Ini penting karena pandemi covid-19 semakin meningkat. Tiap detik. Tidak hanya di Kota. Tapi, mewabah, menembus kesunyian desa. Menghantui seluruh masyarakat dunia.

Masyarakat tersandra karenanya. Berada dalam ketidakpastian. Yang pasti hanya satu; korban semakin melonjak. Akibatnya, ekonomi melemah. Tempat ibadah tertutup. Interaksi sosial terbatas. Ramadan sunyi senyap. Ibadah dan kerja di rumah saja.

Di tengah kecemasan ini, ajaran tafakkur penting untuk dihadirkan. Spiritnya harus memberi kepastian. Setidaknya, kepastian dalam manajemen diri dan hati. Menyadarkan orang lalai. Menguatkan hati orang yang sadar.

Tafakkur tidak berarti pasif. Pasrah dengan taqdir. Menyendiri dalam kesunyian. Lepas tanggungjawab sosial. Menghempaskan kemanusian. Tak acuh dengan orang lain. Tidak! Malah itu adalah kelalaian diri yang nyata.

Tafakkur hakiki dalam tasawuf adalah aktif. Ditandai dengan hadirnya dua sifat utama dalam diri, yaitu rasa takut (khauf) dan harapan (raja’). Keduanya adalah kunci keimanan. Tegas Syeikh Al-Palembani.

Kedua sifat itu adalah kunci keselamatan dalam tradisi sufi. Semua sepakat tentang hal itu. Rasa (khauf) dan harapan (raja’) dua hal yang tak terpisahkan menuju makrifat. Al-Ghazali, misalnya, memahmi bahwa rasa takut (khauf) adalah kecemasan dalam diri akibat sesuatu yang tidak disukai akan terjadi. Sebaliknya harapan (raja’) adalah ketenagan jiwa yang sedang mengharapkan sesuatu yang baik pada masa mendatang. Dua kondisi ini silih berganti dalam diri para sufi. Mereka pun senantiasa berada dalam ketaatan (muraqabatullah).

Dalam konteks pandemi covid-19, kedua sifat itu penting untuk dikontekskan. Penyebaran virus yang sangat cepat, karena masyarakat kehilangan dua hal itu; rasa takut dan harapan. Orang yang masih berkeliaran di keramaian tanda telah kehilangan rasa takut (khauf). Sebaliknya, orang yang pasif dan menerima kondisi apa adanya, tanpa upaya preventif, telah kehilangan harapan (raja’). Dan keduanya, tidaklah terpuji dalam dunia sufistik.

Maka dari itu, dua sifat di atas mendesak untuk diresapi. Rasa takut (khauf) dalam konteks pandemi covid-19 terjewantahkan dalam bentuk mawas diri. Kehati-hatian dari segala hal yang menyebabkan covid-19.

Menarikanya lagi, Dzun Nun (Sufi) pernah ditanya. Apa tanda orang yang sudah takut? Beliau menjawa: “Jika seseorang itu telah memposisikan dirinya telah sakit, sehingga berupaya (sembuh) agar terhindar dari penyakit kronis”.

Ungkapan itupun sangat tepat untuk dicamkan. Untuk memutus mata rantai itu, tiap orang harus merasa telah terkena, atau setidaknya terancam, Covid-19. Dengan itu, rasa mawas diri itu lahir. Segala prosudur hidup sehat di tengah pandemi dilakukan.

Sementara, harapan (raja’) dalam konteks pandemi, diterjemahkan sebagai rasa optimism. Di tengah ketidapastian ini, rasa optimism tidak boleh hilang (QS. Az-Zumar: 53). Kita tetap optimis bahwa dengan usaha maksimal masih ada secercah harapan akan datang. Covid-19 akan berakhir pada waktunya.

Namun perlu dicatat, bahwa harapan (raja’) dalam dunia tasawuf mengharuskan upaya maksimal dari manusia. Semua sebab dan syarat kebaikan itu harus dilakukan, kemudian menunggu atau berharap. Itulah disebut harapan (raja’) yang benar. Namun jika hanya berharap (menunggu) tanpa usaha, itu disebut angan-angan belaka (gurur). Demkian kata al-Gazali.

Dalam pada itu, optimisme ditandai dengan lahirnya kepedulian diri dan sosial. Peduli pada diri dengan melakukan hal positif di semasa pandemi. Peduli sosial dengan tetap berbagi/membantu kepada sesama. Intinya, peduli pada kemanusian.

Akhirnya, tidak ada pilihan. Di tengah pandemi covid-19, kita semunya harus bertafakkur. Memupuk rasa takut (khauf) itu untuk meningkatkan rasa mawas diri. Menguatkan rasa optimisme dengan harapan (raja’) dari Allah. Nasehat Syeikh Al-Palembani, di bawah ini, masih sangat relevan untuk masyarakat modern. Khususnya di tengah pandemi covid-19 yang mendera dunia.

“Dari tafakkur lahir rasa takut (khauf) dan harapan (raja). Barang siapa tidak ada takutnya, maka tidak ada imannya”.

“Wahai orang saleh! Ketahuliah, tafakkur itu mengilangkan kelalaian, meningkatkan rasa takut. Rasa takut itu mencegah keburukan dan menambah kebaikan. Kebaikan menghindarakan dari siksaan dan mendatangkan balasan. Oleh itu, tafakkur wajib bagi orang beriman. Karena Iman tidak ada tanpa tafakkur”! Wallau A’lam Bisshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here