Opini: Lebaran Sehat, Anak Terjaga

HARIANSULSEL.COM, Ternate – Idul Fitri selalu hadir sebagai momentum yang sarat makna. Perayaan kemenangan, kebersamaan, dan kelimpahan. Di setiap rumah, suasana hangat terasa, meja makan dipenuhi hidangan Istimewa. anak-anak menjadi bagian paling antusias dalam merayakannya. Dalam balutan kegembiraan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: bagaimana menjaga keseimbangan antara merayakan dan merawat kesehatan, terutama bagi anak-anak.

Setiap tahun, ada pola yang nyaris tak pernah berubah. Setelah perayaan Idul Fitri usai, jumlah pasien anak di rumah sakit secara signifikan meningkat. Fenomena ini kerap dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Seolah menjadi “musimnya anak sakit” setelah lebaran. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, ada faktor yang sesungguhnya bisa dikendalikan. Pola hidup dan konsumsi anak selama masa perayaan mestinya harus terjaga.

Lebaran identik dengan kelimpahan. Meja makan penuh dengan kue kering, minuman manis, makanan berlemak, serta aneka jajanan yang menggoda. Dalam suasana suka cita, anak-anak diberi ruang lebih longgar untuk menikmati semuanya. Sayangnya, kelonggaran ini sering kali berubah menjadi kebebasan tanpa batas. Konsumsi gula berlebih, makanan yang tidak higienis, serta pola makan yang tidak teratur menjadi pemicu utama gangguan kesehatan pada anak.

Tidak mengherankan jika setelah lebaran, rumah sakit dipenuhi anak-anak dengan keluhan diare, muntah, demam, hingga infeksi saluran pencernaan. Sebagian lainnya mengalami penurunan daya tahan tubuh akibat kurang istirahat dan asupan gizi yang tidak seimbang. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan konsekuensi dari pola hidup yang berubah drastis dalam waktu singkat.

Sering luput dari perhatian adalah bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan untuk mengontrol diri dalam memilih makanan yang sehat. Mereka cenderung mengikuti keinginan, bukan kebutuhan. Di sinilah peran orang tua menjadi krusial. Memberi kebahagiaan kepada anak bukan berarti membiarkan mereka mengonsumsi apa saja tanpa batas, melainkan memastikan bahwa kebahagiaan itu tidak berujung pada risiko kesehatan.

Ironisnya, dalam banyak kasus, kesadaran ini justru muncul ketika anak sudah terbaring sakit. Kepanikan, kecemasan, bahkan penyesalan menjadi pemandangan yang berulang. Padahal, sebagian besar kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui langkah-langkah sederhana: membatasi konsumsi makanan manis dan berlemak, memastikan kebersihan jajanan, menjaga pola makan dan istirahat, serta tetap memperhatikan kebutuhan dasar tubuh anak.

Lebaran seharusnya menjadi momentum memperkuat kebahagiaan keluarga, bukan menjadi awal dari masalah kesehatan. Sudah saatnya cara pandang ini diubah. Kesehatan anak tidak boleh menjadi “biaya sampingan” dari sebuah perayaan. Justru di tengah suasana penuh kegembiraan, kewaspadaan dan tanggung jawab orang tua perlu ditingkatkan.

Jika pola ini terus berulang setiap tahun, maka yang perlu dievaluasi bukan sekadar kondisi anak, tetapi juga cara kita memaknai perayaan itu sendiri. Sebab pada akhirnya, menjaga kesehatan anak adalah bagian dari merawat masa depan, dan itu tidak mengenal musim, termasuk setelah lebaran.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan anak di momen Idul Fitri bukan tentang membatasi kebahagiaan. Melainkan, dengan mengarahkannya agar tetap aman dan bermakna. Orang tua memiliki peran kunci sebagai pengendali sekaligus teladan dalam membentuk kebiasaan sehat anak, bahkan di tengah suasana perayaan. Dengan kesadaran sederhana, mengatur pola makan, menjaga kebersihan, dan memastikan keseimbangan aktivitas. Kita dapat mencegah risiko yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Lebaran yang sejati bukan hanya tentang apa yang tersaji di meja, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga amanah terbesar dalam keluarga: kesehatan anak-anak kita.

Penulis: Ners Endah Sri Rusmayanti – Perawat Anak RSU dr. Chasan Boesoieri Ternate

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *