Konsep Ramadhan dan Nur Muhammad

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Term ramadan atau dalam bahasa Arab + dh/ramaDHan (رمضان) dari kata ramadha (ر م ض) yg berarti panas menyengat dan kering. Ini karena jazirah Arab dulu musim panas selalu bertepatan dengan bulan ke-9.
Jadi Ramadan dalam kalender hijriah sebagai bulan 9 dikiaskan panasnya tenggorokan saat berpuasa, yang jika merujuk ke hadis sebagai bulan yang memanaskan adalah karena bulan ini membakar hangus dosa-dosa bagi mereka yang berpuasa.
Jika dalam perspektif tasawuf bulan suci Ramadan ini sebagai momen pengasahan spiritual yang memunculkan NUR Ilahiyah (cahaya keTuhanan sebagai mana panasnya api memercikkan cahaya.
Nur Ilahiyah dalam QS. al-Nur/24:35 sbg misykat (lubang yang tidak tembus) di dalam nya ada pelita dan pelita itu dalam kaca. Itulah gambaran kaum sufi. Pada dada (qalb) mereka berisi ilmu ma’rifatullah yang diibaratkan seperti pelita.
Ketika pelita itu dibungkus dengan amalan spiritual, ibaratnya sprti kaca keristal, memantulkan cahaya ke segenap penjuru (min fajj amiiq). Ilustrasi ini diphami bahwa Allah swt sebagai pemberi Nur kepada hambaNya. Nur di sini sebagai cahaya pantulan. Ibaratnya, saya memberi ilmu kepada anda itu berarti saya beri anda cahaya.
Perpesktif keTuhanan dalam ilmu tasawuf adalah Allah memberi Nur kepada nabi-nabiNya, terhusus kepada Rasulullah, Muhammad saw yang dalam kitab Mustadrak al Hakim, II/652 disebutkan,
اول ماخلق الله تعالى نوري وفي رواية روحي
Artinya: Sesuatu yang pertama diciptakan Allah swt adalah Nur ku (yakni Nur Muhammad saw) dan pada riwayat lain adalah ruh ku (ruh nabi muhammad saw).
Karena itu Adam As sebagai nabi pertama, adalah abu al-basyar padanya telah ada Nur Muhammad dan sebab itu maka Allah memerintahkan malaikat bersujud ke Adam pada hakikatnya bersujud ke Nur Muhammad saw yang tidak terpisahkan dengan Zat yang melahirkan smua sifat yg disipati-Nya.
Itulah konseptual syahadat asyhadu anla ilaha Illallah wa asyhadu anna muhammad rasululullah aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah swt dan nabi Muhammad sebagai rasulNya. Tekstual syahadat ini, posisi Allah disejajarkan dengan Muhammad saw tapi kontekstualnya tetap berbeda, Allah sebagai pncipta dan muhammad sebagai nabi/rasul sumber nur untuk sampai kepada-Nya.
Karena itu, di bulan Ramadan ini seharusnya kita konsentrasikan diri khusyu beribadah dan menjadikan rasulullah Muhammad saw sebagai tawassul untuk dengan nurNya yang mengantarkan kita pada ma’rifatullah, sehingga kita mengenal dan merasakan nikmatnya ibadah Ramadan, amiiin…
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq
Penulis: Mahmud Suyuti, Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Kajian Islam Aswaja UIM

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *