Abdul Kadir Bunga, Dosen UIM yang Kembangkan Pupuk Organik Berkualitas

HARIANSULSEL.COM – Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) yang dicanangkan pemerintah dihadapkan kepada berbagai tantangan yang bersifat teknis maupun nonteknis seperti penurunan kesuburan tanah, ketersediaan sarana teknologi, dan konversi lahan sawah produktif menjadi lahan non pertanian, yang berakibat pada penurunan produksi beras.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam memacu peningkatan produksi dan produktivitas padi nasional, dantaranya melalui pembukaan sawah baru dan penerapan tenologi budidaya pertanian. Persoalan yang sering muncul dalam aspek budidaya adalah penggunaan pupuk kimia (anorganik) seperti urea, SP36, KCl, ZA dan NPK dll yang berlebihan dan terus-menerus akan menimbulkan dampak negatif seperti menurunnya produktivitas dan kualitas lahan dan tanaman serta kerusakan ekosistem.

Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus berdampak pada tekstur tanah keras dan padat, tanah tidak dapat menyimpan air, tanah, menjadi masam, jasad renik atau mikroorganisme tanah mati, tanah tercemar residu pupuk dan pestisida. Dampak pada tanamam antara lain serangan hama sulit dikendalikan, munculnya penyakit baru pada tanaman, tanaman mudah diserang hama dan penyakit, residu pupuk kima beradala didalam tanaman. Dampak terhadap ekosistem, antara lain tercemarnya air dan udara akibat emisi metana dari penguapan pupuk kimia dan akan berpengaruh pada kelestarian lingkungan dan perubahan iklim.

Pemberian pupuk organik dapat menjadi solusi dari dampak negatif penggunaan pupuk anorganik. Pupuk organik akan memperbaiki struktur tanah, sehinga tanah menjadi gembur, mudah diolah, infiltrasi air lebih cepat dan kapasitas tanah menampung air lebih besar. Masalah yang muncul kemudian penggunaan pupuk organik adalah masalah ketersediaan pupuk organik. Pupuk organik diguanakan dalam jumlah yang banyak, minimal 5 ton/ha. Pemberiaan dosis yang rendah pada tanaman padi tidak memberikan respon yang berarti terhadap hasil tanaman. Hal ini disebabkan pupuk organik perlu penguraian lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Pupuk organik yang umum digunakan petani selama ini bersumber dari pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, limbah pertanian berupa dedaunan, jerami, sekam dan limbah hasil panen tanaman lainnya melalui proses pengomposan. Pupuk organik yang dihasilkan selain jumlahnya juga kualitasnyanya masih rendah. Kondisi ini yang dialami oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani padi organik Masserekana di desa Mangelorang kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros sehingga sulit mengembangkan padi organiknya akibat masih terbatasnya pupuk organik yang berkualitas berkualitas.

Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM), dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian UIM, telah memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis pembuatan pupuk organik berkualitas serta penerapannya pada budidaya padi System Rice Intensificatin (SRI) pada petani padi organik yang bergabung dalam Mitra KT. Masserekana Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan pengetahun dan ketrampilan petani dalam menghasilkan pupuk organik berkualitas serta mampu menerapkan pupuk organik tersebut pada budaya padi SRI dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas padi organik dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani padi organik.

Ketua tim pelaksana PKM Dr.Ir. Abdul Kadir Bunga, M.S menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu wujud implemnetasi dari Tridharma Pergurian Tingi, yaitu Pengabdian pada Masyarakat. Kegiatan program ini dananya bersumber dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek-Dikti tahun 2018.

Iptek yang diterapkan dalam program ini adalah penggunaan jamur Trichoderma dalam proses pencernaan sapi, kotoran dari sapi tersebut selanjutnya dicampur dengan limbah pertanian lainya dan difermentasi selama kuang lebih dua bulan. Produk yang dihasikan berupa pupuk dalam bentuk kompos dengan komposisi kandungan hara makro dan mikro terukur serta haranya dapat lebih cepat tersedia bagi tanaman dibandingkan dengan pupuk organik yang banyak dijual di pasaran.

Pupuk yang dihasilkan diberi nama Pupuk Organik Ramu Trikopi. Proses pembuatan dan contoh produk pupuk seperti pada gambar. Hasil percobaan demplot penggunaan pupuk organik tersebut pada tanaman padi Sistem Rice Intensification (SRI) mengasilkan gabah kering giling (GKG) 8,7 ton/ha, mengalami kenaikan produksi 51,9 %. Pupuk produk ini juga sangat cocok digunakan pada tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan. Pupuk Organik Ramu Trikopi telah dipasarkan secara luas di berbagai daerah Sulawesi Selatan. (Nur)

Penulis: Abdul Kadir Bunga (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *