HARIANSULSEL.COM, Makassar – Leo Tolstoy, seorang sastrawan besar dari Rusia, terkenal tidak hanya melalui karyanya yang fenomenal seperti War and Peace dan Anna Karenina, tetapi juga melalui pandangan filosofis dan keagamaan yang dalam. Salah satu pernyataan Tolstoy yang sering dikutip adalah, “Jangan beri tahu saya apa agamamu, biarkan saya melihat agamamu melalui perilakumu.” Ucapan ini mencerminkan keyakinannya bahwa keimanan sejati bukanlah sesuatu yang hanya diekspresikan melalui kata-kata atau simbol-simbol ritual, tetapi melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kutipan ini memaksa kita untuk mempertimbangkan ulang makna agama yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, agama tidak hanya sekadar sebuah sistem kepercayaan atau serangkaian ritual, tetapi lebih merupakan cerminan nilai-nilai moral dan etika yang diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
Agama sebagai Tindakan, Bukan Sekadar Pernyataan
Agama sering kali diidentikkan dengan doktrin, aturan, atau ritual tertentu. Bagi sebagian orang, agama adalah kumpulan aturan yang harus diikuti agar menjadi orang beriman. Namun, menurut Tolstoy, agama yang sebenarnya lebih merupakan refleksi dari nilai-nilai batin seseorang yang termanifestasi dalam tindakan nyata. Keimanan seseorang, dalam pandangan Tolstoy, tidak dapat diukur melalui kata-kata atau pernyataan formal, tetapi melalui cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia menangani konflik, dan seberapa ia peduli terhadap keadilan dan kesejahteraan sesama.
Dengan kata lain, agama tidak bisa hanya dilihat sebagai identitas atau klaim semata. Seorang yang mengaku beriman belum tentu mencerminkan nilai-nilai agama jika ia masih melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran etis agama tersebut. Pernyataan Tolstoy ini membawa pesan yang kuat bahwa agama bukanlah atribut yang bisa disematkan tanpa pembuktian. Jika seseorang ingin dianggap sebagai pribadi yang religius atau spiritual, maka perilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama harus menjadi bukti yang nyata.
Tolstoy dan Kritiknya terhadap Formalitas dalam Agama
Tolstoy tumbuh dalam masyarakat Rusia yang sangat religius dan tradisional. Namun, sepanjang hidupnya, ia kerap menyampaikan kritik tajam terhadap praktik agama yang, menurutnya, lebih mengutamakan aspek-aspek ritualistik dan formalisme dibandingkan esensi spiritual. Ia mempertanyakan mengapa agama, yang seharusnya menjadi pedoman moral bagi manusia, justru sering kali menjadi alat untuk memecah belah dan menjustifikasi kekerasan.
Dalam bukunya yang berjudul The Kingdom of God is Within You, Tolstoy menegaskan bahwa agama seharusnya tidak menjadi alasan untuk memperkuat ego atau sekadar simbol identitas. Sebaliknya, agama harus berfungsi sebagai landasan moral untuk meningkatkan kualitas diri dan hubungan sosial. Bagi Tolstoy, perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sikapnya terhadap orang lain, lebih penting daripada pengakuan verbal atau ritual yang sering kali justru menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama yang hakiki.
Agama dalam Perilaku di Era Modern
Dalam dunia modern yang semakin plural dan kompleks, pemahaman agama sebagai tindakan nyata menjadi semakin relevan. Masyarakat kontemporer dihadapkan pada tantangan-tantangan moral yang tidak selalu dapat diselesaikan melalui aturan-aturan agama yang kaku. Contohnya, isu-isu seperti keadilan sosial, kesetaraan gender, lingkungan, dan perdamaian sering kali menuntut respons yang lebih kompleks dari sekadar jawaban doktrinal.
Agama yang diwujudkan dalam perilaku menawarkan fleksibilitas dan relevansi. Di era di mana konflik antar kelompok sering kali didasari oleh perbedaan keyakinan, perilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama yang inklusif dapat menjadi jembatan antarindividu dan kelompok. Misalnya, dalam menghadapi ketidakadilan sosial, seseorang yang berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan yang peduli pada kemanusiaan akan berusaha membantu mereka yang tertindas tanpa memperhatikan perbedaan latar belakang.
Pandangan Tolstoy ini juga selaras dengan konsep universalitas agama, di mana nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan keadilan dapat diterima oleh siapa pun, terlepas dari keyakinan atau agama yang dianut. Dalam konteks ini, agama menjadi faktor pemersatu yang melampaui batas-batas doktrinal dan denominasi.
Tantangan Agama melalui Perilaku
Namun, menjadikan perilaku sebagai cerminan agama bukan tanpa tantangan. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai faktor seperti tekanan sosial, godaan materialisme, dan ketidakadilan sistemik sering kali menggoda seseorang untuk menyimpang dari nilai-nilai moral yang diyakini.
Dalam konteks ini, perilaku yang konsisten dan berlandaskan pada nilai-nilai agama menuntut kedisiplinan dan kekuatan batin yang kuat.
Selain itu, tidak semua tindakan yang dianggap “baik” selalu sesuai dengan persepsi keagamaan. Nilai-nilai etika yang umum dan nilai-nilai yang spesifik dari agama tertentu kadang bisa bertentangan, yang menyebabkan kebingungan. Dalam situasi seperti ini, bagaimana seseorang bisa memastikan bahwa perilakunya benar-benar mencerminkan agamanya? Menjawab pertanyaan ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang ajaran agama itu sendiri, serta kemampuan untuk menafsirkan nilai-nilai tersebut dalam konteks modern.
Dalam konteks masyarakat, setiap individu yang beragama memiliki peran sebagai “cermin” bagi agamanya. Artinya, tindakan dan sikap seseorang akan memberikan kesan kepada orang lain tentang nilai-nilai yang dianut. Sebagai contoh, seorang yang beragama seharusnya menunjukkan sikap yang rendah hati, peduli terhadap sesama, dan adil dalam berbuat. Sikap-sikap ini bukan hanya akan menunjukkan keimanan individu tersebut, tetapi juga akan menciptakan citra positif terhadap agama yang dianut.
Ketika seseorang berperilaku dengan integritas, keadilan, dan kasih sayang, ia tidak hanya menghidupkan ajaran agamanya, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk melihat agama sebagai sumber kebaikan. Dalam pandangan Tolstoy, sikap seperti inilah yang paling mendekati esensi sejati dari agama.
Menjalani Agama dengan Kesederhanaan
Menghayati agama melalui perilaku adalah konsep yang sederhana namun sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dinyatakan Tolstoy, agama bukanlah apa yang kita ucapkan, melainkan apa yang kita lakukan. Di tengah dunia yang penuh dengan perbedaan, menjalani agama sebagai tindakan nyata adalah jalan untuk menciptakan kedamaian dan persatuan.
Perenungan Tolstoy ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa agama bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mencapai hidup yang lebih baik, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Pada akhirnya, cara kita berperilaku adalah refleksi sejati dari iman yang kita yakini, dan hanya dengan tindakan nyata kita bisa menjadi saksi hidup dari keindahan dan kebaikan yang diajarkan oleh agama.
Penulis: Zaenuddin Endy – Aktivis Penggerak NU Sulsel, Direktur Pangadereng Institute (PADI)