Nahdlatul Ulama dan Prinsip Merawat Tradisi

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Salah satu prinsip paling mendasar Nahdlatul Ulama (NU) adalah “merawat tradisi, mengawal perubahan”. Ide ini lebih dari sekedar slogan. Hal ini merupakan cerminan mendalam dari dedikasi NU dalam menjunjung tinggi nilai-nilai lokal, agama, dan warisan budaya dalam menghadapi globalisasi yang semakin pesat. “Al-muhafadzah ‘ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”—menjaga yang baik dan mengambil yang lebih baik—merupakan salah satu ide kunci yang melandasi gagasan ini.

Di kalangan warga NU, tradisi sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai luhur seperti persahabatan, hormat kepada orang yang lebih tua, dan semangat gotong royong dilestarikan melalui tradisi. Tradisi berfungsi sebagai indikator eksistensi yang menunjukkan kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Selain itu juga menjadi komponen identitas kelompok. Tanpa tradisi, masyarakat lebih rentan terhadap pengaruh eksternal yang dapat melemahkan nilai-nilai lokal dan cepat kehilangan pengaruhnya.

Tradisi ini masih dijunjung tinggi di pesantren NU melalui berbagai tradisi, antara lain ziarah, manaqib, dan pembacaan Kitab Kuning. Selain buku, santri memperoleh ilmu dari praktik terbaik budaya Kiai. Selain sebagai lembaga pendidikan,Pondok Pesantren NU berperan sebagai pusat kebudayaan dan penjaga adat istiadat yang menjunjung tinggi landasan sosial dan spiritual masyarakat dari berbagai faktor yang dapat melemahkan nilai-nilai kedaerahan.

Selain itu, tradisi NU mempunyai dimensi filosofis yang mendalam. Bukan sekadar ritual, melainkan cara hidup yang menganut nilai-nilai kemanusiaan. Tradisi mengajarkan bahwa kehidupan harus berlangsung secara harmonis, seimbang antara kepentingan dunia dan kepentingan di luarnya, antara individu dan masyarakat. Hal inilah yang memungkinkan NU tetap menjaga tradisinya tetap relevan dan hidup dalam masyarakat modern, tanpa merasa ketinggalan zaman atau terkikis oleh zaman.

Peduli tradisi bukan berarti NU anti perubahan. Di sisi lain, NU memandang modernitas sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun dalam menghadapi modernitas, NU menempatkan tradisi sebagai landasan agar perubahan yang terjadi tidak mengikis jati diri bangsa. Dalam konteks ini, tradisi menjadi filter: menerima apa yang baik dari luar, namun tetap teguh pada nilai-nilai lokal yang terbukti membawa keharmonisan.

Di sinilah prinsip “pertahankan yang baik, ambil yang terbaik” memegang peranan penting. NU tidak menolak inovasi dan kemajuan, namun memastikan setiap perubahan yang dilakukan membawa manfaat lebih besar dari apa yang sudah ada. Ini adalah bentuk kebijaksanaan yang memadukan konservatisme dan progresivisme dalam satu tarikan napas.

NU memahami tanpa tradisi, masyarakat bisa kehilangan maknanya. Ibarat pohon tanpa akar, mudah tumbang jika ditiup angin. Tradisi adalah akar yang kuat, sedangkan modernitas adalah ranting dan daun. Keduanya harus tumbuh bersama agar pohonnya tetap kuat dan menghasilkan buah.

Menghadapi modernitas, NU menilai perubahan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun perubahan tersebut harus dibarengi dengan prinsip selektivitas, yaitu memilih dan menyaring aspek-aspek yang sejalan dengan nilai-nilai tradisional. Prinsip tersebut terlihat jelas pada sikap NU yang tidak menolak inovasi teknologi, pendidikan, dan sistem pemerintahan, namun tetap berpegang teguh pada tradisi sebagai filter utamanya. NU menegaskan, perubahan yang tidak dilandasi nilai-nilai tradisional dapat merugikan keharmonisan sosial dan spiritual masyarakat.

Penerapan prinsip tersebut terlihat dalam respon NU terhadap isu-isu global seperti globalisasi dan digitalisasi. Bukannya menentang, NU memilih memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Pembelajaran kitab kuning yang sebelumnya hanya berlangsung di langar atau pesantren, kini dapat diakses melalui platform digital. Ini adalah bentuk nyata dari filosofi “berbuat lebih baik”, di mana tradisi dipertahankan sementara inovasi diterapkan untuk memperluas jangkauan dan manfaatnya.

Di sisi lain, NU juga berupaya mencegah masuknya paham radikal yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional. Modernitas seringkali membawa gelombang ideologi yang berupaya menggantikan tradisi lokal dengan gagasan yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, NU memberikan benteng yang melindungi tradisi dari ancaman eksternal, memastikan bahwa perubahan yang dilakukan tetap sesuai dengan karakter dan identitas masyarakat Indonesia.

Era digital membawa tantangan baru dalam menjaga tradisi, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi dibandingkan dengan tradisi lisan atau ritual keagamaan. NU menjawab tantangan ini dengan berinovasi dalam menyebarkan ajaran dan tradisinya. Banyak pesantren kini memiliki saluran YouTube, akun media sosial, dan platform streaming untuk menyebarkan kajian, ceramah, dan khotbah secara luas. Dengan cara ini, tradisi yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di kalangan kecil kini menjangkau khalayak global.

Pemanfaatan media digital tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan tradisi, namun juga untuk menghidupkan kembali semangat belajar dan kecintaan terhadap warisan leluhur. Generasi muda diajak untuk memahami tradisi dalam format yang lebih sesuai dengan kebiasaan mereka, seperti video pendek, podcast, atau konten interaktif. Ini adalah wujud sebenarnya dari prinsip “berbuat lebih baik” dalam konteks modern, di mana tradisi dipertahankan namun diterapkan dengan cara yang lebih efektif dan relevan.

Meski demikian, NU juga sadar akan risiko era digital, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikal. Oleh karena itu, NU aktif mengkampanyekan budaya digital yang dilandasi nilai-nilai Islam moderat dan toleran. Pondok pesantren menjadi pusat penguatan literasi digital, memastikan santri tidak hanya menjadi pemelihara tradisi tetapi juga agen perubahan yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan cerdas dan bijaksana.

NU mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai luhur yang diwarisi para pendahulunya. Nilai-nilai seperti toleransi, keramahan dan menghargai perbedaan menjadi pilar utama tradisi NU yang harus terus dijaga. Menjaga kebaikan berarti tidak membiarkan nilai-nilai tersebut memudar di tengah derasnya gelombang perubahan sosial. Oleh karena itu, tradisi-tradisi seperti tahlilan, Maulid Nabi, dan haul tetap dipertahankan sebagai sarana menjaga ikatan sosial dan memperkuat solidaritas masyarakat.

Prinsip NU dalam menjaga tradisi dan mengadopsi inovasi merupakan bentuk upaya menjaga warisan leluhur, memperkuat jati diri, dan menjawab tantangan zaman. Dengan prinsip “pertahankan yang baik, ambil yang terbaik”, NU membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan, saling melengkapi dan memperkaya.

Tradisi bukanlah suatu beban yang menghambat kemajuan, melainkan suatu aset berharga yang apabila dipelihara dan dikembangkan akan menjadi sumber inspirasi dan kekuatan menghadapi masa depan. Di tangan NU, warisan masa lalu menjadi landasan kokoh untuk melangkah maju, selaras dengan semangat zaman yang selalu berubah.

Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *