HARIANSULSEL.COM, Makassar – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, memaparkan konsep ketahanan mental (resilience) dari sudut pandang tasawuf saat mengisi kajian di Thareqat Al-Muhammadiyyah Al-Sanusiyyah Al-Idrisiyah Indonesia bertempat Zawiyah Pusat Thareqat Al-Muhammadiyyah Al-Sanusiyyah Al-Idrisiyah di Makassar.
Menag menekankan bahwa kedamaian batin sejati tercapai ketika seseorang mampu melampaui dualitas antara kesenangan dan penderitaan. Menag menjelaskan bahwa dalam maqam (tingkatan) spiritual tertentu, jarak antara ujian dan kenikmatan akan menyempit hingga tidak ada lagi perbedaan yang nyata di antara keduanya.
“Bagi orang yang beriman, tidak ada lagi bedanya antara penderitaan dan kenikmatan. Semakin menganga jarak antara keduanya bagi orang awam, namun (jarak itu) menyempit bagi mereka yang paham. Di mata orang yang sudah fana (larut dalam kehendak Tuhan), semuanya sama,” ujar Menag Nasaruddin Umar, Selasa (10/2/2026).
Menurut Menag, ketahanan mental seorang mukmin dibangun dengan memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan secara berpasangan untuk menciptakan keseimbangan. Beliau mencontohkan keberadaan siang dan malam sebagai analogi untuk memahami hakikat cahaya.
“Tanpa adanya siang, kita tidak tahu apa itu malam. Tanpa adanya malam, tidak mungkin kita tahu hakikat cahaya. Bahkan, kita tahu adanya surga karena ada neraka. Begitu pula dalam hidup, makna kebaikan seringkali baru bisa kita pahami melalui adanya keburukan atau ujian,” tambahnya.
Menag mengajak jamaah untuk mengubah cara pandang (mindset) dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan. Menag menegaskan bahwa ketenangan batin tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada bagaimana hati memproses situasi tersebut.
“Cara pandang kita itu sangat menentukan. Jika kita melihat segala sesuatu sebagai manifestasi dari kehendak Sang Pencipta, maka tidak ada lagi alasan untuk merasa terpuruk secara berlebihan. Semuanya adalah bagian dari jalan menuju pengenalan diri dan Tuhan,” jelas beliau.
Menag berpesan agar umat Islam menyambut Ramadan dengan kesiapan ruhani yang matang, yakni dengan memfokuskan tujuan ibadah hanya kepada Allah SWT, bukan sekadar mengejar fenomena-fenomena spiritual semata.
Tampak hadir Mursyid Almuhammadiyyah Al-Sanusiyyah Al-Idrisiyah Indonesia yang juga Rais Syuriyah PWNU Sulsel Syekh AG. Dr. Baharuddin HS, Ketua MUI Sulsel AG. Prof. Dr. Najmuddin HS, MA, Ketua Majelis Ikhwan Al-Muhammadiyah Al-Sanusiyah Al-Idrisiyah Indonesia dan beberapa tokoh tarekah Al-Muhammadiyyah Al-Sanusiyyah Al-Idrisiyah Sulawesi Selatan. (and/hs)