Prodi Budidaya Perairan Unibos Hadirkan Praktisi Industri Mutiara Nasional

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Upaya mempertemukan dunia akademik dengan realitas industri terus diperkuat Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa melalui penyelenggaraan Kuliah Praktisi yang menghadirkan para ahli budidaya kerang mutiara dari industri nasional. Kegiatan yang berlangsung pada 15 Juni 2026 ini menjadi ruang belajar strategis bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung proses bisnis, teknologi, serta tantangan pengembangan komoditas mutiara yang selama ini menjadi salah satu produk akuakultur bernilai ekonomi tinggi di Indonesia.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa, Dr. Amiruddin, S.P., M.P., yang menegaskan pentingnya menghadirkan pengalaman industri ke dalam ruang perkuliahan sebagai bagian dari penguatan kompetensi lulusan.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori dan konsep akademik, tetapi juga harus mampu memperkenalkan dinamika dunia kerja dan kebutuhan industri yang terus berkembang.

“Mahasiswa perlu melihat bagaimana ilmu yang dipelajari di kelas diterapkan secara nyata di lapangan. Melalui kuliah praktisi ini, kami ingin menghadirkan pengalaman industri secara langsung agar mahasiswa memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan, peluang, dan kompetensi yang dibutuhkan di sektor budidaya perairan,” ujarnya.

Kuliah praktisi ini menghadirkan dua narasumber dari PT Globalindo Mutiara, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, yaitu Erliyanti, S.Pi., praktisi ahli bidang pembenihan kerang mutiara, serta Amran Iskandar, S.Pi., praktisi ahli budidaya kerang mutiara yang telah berpengalaman mengelola produksi mutiara pada skala industri.

Pada sesi pertama, Erliyanti mengajak peserta memahami proses pembenihan sebagai fondasi utama keberhasilan budidaya mutiara. Ia menjelaskan bahwa kerang mutiara merupakan organisme yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan sehingga setiap tahapan produksi membutuhkan ketelitian tinggi dan pengelolaan yang presisi.

Dalam pemaparannya, ia mengulas berbagai faktor yang menentukan keberhasilan proses pemijahan, mulai dari kualitas indukan, kestabilan suhu perairan, sistem aerasi, hingga ketersediaan pakan alami berupa fitoplankton.

“Pembenihan merupakan tahap yang paling menentukan. Jika kualitas indukan tidak baik atau kondisi lingkungan tidak stabil, maka proses pemijahan akan terganggu. Bahkan kadar oksigen yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah dapat menyebabkan kerang gagal memijah,” jelasnya.

Secara tidak langsung, Erliyanti menegaskan bahwa keberhasilan industri mutiara sesungguhnya dimulai dari kemampuan mengelola fase-fase awal kehidupan kerang secara tepat dan berkelanjutan.

Sementara itu, pada sesi berikutnya, Amran Iskandar membahas lebih dalam mengenai tahapan budidaya kerang mutiara hingga menghasilkan mutiara berkualitas tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

Ia menjelaskan bahwa kualitas mutiara tidak hanya ditentukan oleh proses implantasi inti mutiara, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, kualitas pakan, kesehatan kerang, serta teknik pemeliharaan yang diterapkan selama masa produksi.

“Kerang mutiara merupakan organisme filter feeder yang secara alami menyaring partikel dari lingkungan sekitarnya. Ketika ada benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya, kerang akan melapisinya dengan nacre atau lapisan mutiara secara bertahap hingga terbentuk mutiara yang bernilai tinggi,” paparnya.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa karakteristik warna, kilau, dan kualitas mutiara yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan tempat kerang dibudidayakan.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat produksi mutiara dunia karena didukung oleh kondisi perairan tropis yang relatif ideal bagi pertumbuhan kerang mutiara.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya laut yang luar biasa. Tantangan kita adalah bagaimana mengelolanya dengan teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memiliki daya saing global,” ungkapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Universitas Bosowa, Prof. Dr. Ir. Hadijah Mahyuddin, M.Si., yang memberikan apresiasi atas komitmen Program Studi Budidaya Perairan dalam menghadirkan pengalaman industri ke dalam ruang akademik. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami dinamika dan kebutuhan dunia kerja yang sesungguhnya.

Dalam sambutannya, Prof. Hadijah menegaskan bahwa sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional, khususnya bagi Indonesia sebagai negara maritim.

Sepanjang kegiatan, suasana diskusi berlangsung aktif dan dinamis. Mahasiswa dan dosen tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek teknis budidaya, tetapi juga mendapatkan gambaran tentang peluang usaha, kebutuhan industri, hingga prospek pengembangan sektor mutiara di masa depan.

Berbagai pertanyaan terkait manajemen produksi, teknik pembenihan, pengendalian kualitas, hingga strategi pengembangan industri mutiara menjadi topik yang mewarnai sesi diskusi interaktif antara peserta dan narasumber.

Kegiatan juga berlangsung dalam suasana yang hangat dan komunikatif. Selipan pantun dari pembawa acara turut menciptakan atmosfer yang lebih santai sehingga peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias hingga akhir acara.

Melalui kuliah praktisi ini, Program Studi Budidaya Perairan Universitas Bosowa kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai budidaya kerang mutiara, tetapi juga membuka perspektif baru mengenai potensi besar sektor akuakultur Indonesia sebagai penggerak ekonomi maritim yang berkelanjutan. Sejalan dengan semangat Universitas Bosowa dalam menghasilkan lulusan yang unggul, profesional, dan berdaya saing global, kolaborasi dengan praktisi industri diharapkan terus menjadi jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata dunia kerja. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *