HARIANSULSEL.COM – Puang Ramma kemudian pindah di Jl. Bicara Bicara tahun 1980-an, tetamunya yang sering datang antara lain adalah K.H. Muhammad Nur, Habib Ali Ba’bud, K.H. Danial, K.H. Harun al-Rasyid, K.H. Hasyim Naqsyabandi, Dr. K.H. Mustafa Zuhri, dan tokoh lain yang sering mengunjunginya adalah A. Mappanyukki, belakangan di era 1990-an adalah H. Muhammad Jusuf Kalla selalu datang berdua dengan Aksa Mahmud. Ulama generasi belakangan yang sering datang untuk belajar ke Puang Ramma sampai wafatnya adalah K.H. Abdurrahman B, K.H. Muhammad Harisah AS dan K.H. Sanusi Baco.
Pada siang harinya, setelah salat dhuhur Puang Ramma menggunakan waktu istrahat sampai memasuki salat ashar. Setelah itu, kembali memanfaatkan waktunya untuk bersantai dengan keluarga dan kerabat, atau terkadang pula keluar rihlah menikmati suasana kota Makassar dengan mengendarai motor besarnya, Harley Devidson. Begitu sekitar jam 17.00 sore kembali ke rumah dan berzikir menunggu masuknya waktu magrib, selanjutnya membaca ayat Al-Qur’an (tadarrus) sampai Isya’, dan biasanya istirahat malam setelah menonton acara Dunia Dalam Berita di TVRI. Rutinitas yang tidak pernah ditinggalkannya sebelum istirahat malam adalah mattale, membaca kitab-kitab sebagai pengantar tidurnya dan diakhiri dengan salat witir.
Dalam keseharian Puang Ramma, terlihat dari penampilannya yang sangat sederhana namun berwibawa, style pakaian yang digunakan adalah sarung dan kemeja lengan panjang lengkap dengan sorbannya. Biasanya hanya menggunakan sarung saat masuk kamar kecil, dan tidak mengenakan sarung tersebut untuk salat. Saat makan, selalu memakai kopyah, makan disaat lapar dan menyudahi sebelum kenyang. Etika dan pola makan yang demikian ini, diterapkan pula kepada anak-anaknya.
Puang Ramma dikenal sangat ketat dalam mendidik anak-anaknya, dan menanamkan sikap kedisiplinan di dalam lingkungan keluarganya. Beliau mewajibkan salat berjamah dan makan bersama di antara keluarga. Jika kedatangan tamu, beliau makan bersama tamunya tanpa membedakan status sosial siapa tamu tersebut, jika tetamunya adalah pejabat dan sebagiannya adalah tamu dari kalangan masyarakat biasa, diajaknya makan bersama dan lebih mendahulukan tetamunya mengambil prasmanan.
Puang Ramma memiliki kepribadian yang akomodatif, tutur katanya sopan namun tegas, setiap kata dan kalimat yang terucap dari mulutnya mudah dimengerti dan dipahami bagi yang mendengarnya, hal ini terutama ketika menjadi khatib, membawakan ceramah, pengajian dan tausiah di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai waliyullah dan habibullah yang kedudukannya sebagai ulama, guru tarekat, dan mursyid yang sangat disegani, Puang Ramma memiliki khawaish dan karamah, bahkan karena ketokohan dan perjuangannya sebagai sebagai murysid ke-11 tarekat khalawtiyah Yusuf al-Makassary, tercatat sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan. (And)
Penulis: Mahmud Suyuti, Katib Awwal Jam’iyah Khalwatiyah