HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pengurus Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo menggelar kajian bulanan bertempat di Sekretariat Ranting Buloa pada Minggu (28/01/2018).
Kajian bulanan yang mengangkat tema “Refleksi Perjuangan NU Menjelang 92 Tahun” menghadirkan Sekretaris Pimpinan Wilayah IPNU Sulawesi Selatan Syahrul Lamba, Ketua PC IPNU Makassar Muh. Aswad, pengurus Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPNU se-Kota Makassar serta puluhan kader Ranting Buloa.
Ketua Pimpinan Ranting IPPNU Hasri Ainun Efendi dalam sambutannya mengatakan, Pelajar NU adalah pelanjut dari perjuangan para tokoh NU yang mendahului kita, sehingga kita perlu merefleksi kembali perjuangannya.
Muh. Aswad mengungkapkan, dalam menyambut Harlah NU tidak hanya dijadikan seremonial belaka, tetapi dijadikan sebagai semangat ber-NU sehingga tradisi-tradisi nahdliyyin tetap kita pertahankan.
Sementara itu, Syahrul yang juga alumni jurusan pendidikan sejarah UNM menjelaskan, bahwa sebelum hadirnya NU telah lahir organisasi seperti Nahdlatul Wathan, Tafkirul Afkar, Nahdlatul Tujjar sebagai perkumpulan yang mewadahi perjuangan dan NU hadir sebagai Organisasi Tradisional di Indonesia.
Lanjutnya, beberapa aliran seperti Wahabi yang membawa paham yang bertolak belakang dengan pemahaman NU sehingga memunculkan gejolak di masyarakat.
“Beberapa gerakan yang dilakukan oleh para ulama diantaranya adanya komite Hijaz yang dipelopori oleh KH. Wahab Chasbullah berangkat ke Makkah untuk bertemu dengan Raja Saudi Arabia dengan misi khusus” ungkap Syahrul.
“Demikian pula ketika NU menjadi partai politik yang mampu menempati posisi ke-3 dan menguasai parlemen, namun lambat laun posisi NU sangat membahayakan sehingga para ulama sepakat NU harus kembali ke Khittah Jam’iyyah nya” jelasnya.(*)