Margaret Aliyatul Maemunah: Keteladanan yang Tumbuh dari Pesantren, Mengalir untuk Umat

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Kepergian Hj. Margaret Aliyatul Maemunah bukan sekadar kabar duka. Ia adalah kehilangan atas satu sosok perempuan yang hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk umat, anak-anak, dan gerakan perempuan Nahdlatul Ulama. Bagi banyak orang, beliau adalah pemimpin. Bagi para sahabatnya, ia adalah hati yang hangat. Dan bagi gerakan, ia adalah teladan tentang bagaimana kekuasaan dipeluk dengan kerendahan hati.

Sebagai dzurriyah dari KH. Bisri Syansuri (Rais ‘Amm PBNU 1971-1980) darah pesantren mengalir kuat dalam dirinya. Warisan keilmuan dan keteguhan nilai yang tumbuh di Denanyar, Jombang, bukan hanya menjadi identitas genealogis, tetapi menjadi laku hidup yang nyata. Dari garis keturunan itulah ia mewarisi ketegasan dalam prinsip, sekaligus kelembutan dalam sikap.

Kiprahnya di organisasi bukanlah jalan yang instan. Ia pernah menakhodai Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama sebagai Ketua Umum periode 2009-2012. Di masa itu, IPPNU tidak hanya menjadi ruang kaderisasi, tetapi juga laboratorium kepemimpinan perempuan muda yang kritis dan berakar pada tradisi. Margaret hadir bukan sebagai figur yang berjarak, melainkan sebagai sahabat bagi kader-kadernya mendengar, merangkul, dan menguatkan.

Langkah pengabdiannya berlanjut saat memimpin Fatayat NU. Di tangan beliau, Fatayat bukan sekadar organisasi perempuan, tetapi gerakan sosial yang membumi. Ia memperluas cakrawala perjuangan perempuan Nahdliyin, menjembatani isu-isu strategis seperti pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga advokasi kebijakan publik.

Komitmennya terhadap masa depan bangsa terlihat jelas ketika ia dipercaya sebagai Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Di ruang ini, ia berdiri di garis depan membela hak-hak anak. Bagi Margaret, anak bukan sekadar statistik pembangunan, melainkan amanah peradaban. Ia memahami bahwa melindungi anak berarti menjaga masa depan Indonesia.

Namun, yang membuatnya begitu dicintai bukan hanya deretan jabatan itu. Ia adalah pribadi yang sangat humble dan bersahaja. Dalam banyak pertemuan, ia lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Ia hadir tanpa sekat protokoler yang kaku. Ia menyapa tanpa jarak. Ia memimpin tanpa merasa paling tinggi.

Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan sorotan dan popularitas, Margaret memilih jalan sunyi: bekerja dalam diam, memberi tanpa banyak klaim, dan menjaga marwah organisasi tanpa perlu mengumbar diri. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari ketulusan, bukan dari ambisi.

Kepergiannya menyisakan duka yang dalam, tetapi juga warisan yang terang. Ia telah menanam benih kaderisasi, memperkuat gerakan perempuan, dan meneguhkan keberpihakan pada anak-anak negeri. Jejaknya bukan sekadar catatan sejarah organisasi, melainkan denyut nilai yang akan terus hidup dalam generasi berikutnya.

Selamat jalan, sahabat. Engkau telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Dari pesantren Denanyar hingga panggung nasional, engkau membuktikan bahwa perempuan pesantren mampu memimpin dengan akal yang tajam dan hati yang teduh.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di sisi para shalihin. Dan bagi kami yang ditinggalkan, semoga keteladananmu menjadi kompas bahwa jabatan adalah amanah, dan hidup adalah pengabdian.

Penulis: Rizal Syarifuddin adalah Kader IPNU dan menjadi pengurus PP IPNU di zaman Hj. Margaret Aliyatul Maemunah menjadi Ketua Umum IPPNU, Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar, Kandidat Doktor pada Program Studi Rekayasa Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *