HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pak Ishak Ngeljaratan seharusnya menjadi pastor, tapi dia memilih menjadi umat biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Tapi walau tak menjadi pastor, jangkauan spritualnya begitu menghunjam dalam dan melambung jauh ke langit. Melampaui sekat-sekat formalitas agama.
Di dalam dirinyalah bersemayam Rumah Tuhan. Sehingga Ia bisa melihat dengan jernih berbagai kebenaran, dan sekali lagi tanpa dibatasi oleh dinding formalitas Agama.
Cerita tentang, Rumah Tuhan yang telah bersemayam dalam dirinya pernah diungkapkan oleh pak Ishak. Suatu ketika, demikian pak Ishak memulai cerita, Ia baru kembali menginjakkan kakinya di Gereja. Seorang pastor bertanya kepada pak Ishak. Pertanyaan yang sedikit menohok. Apalagi di khalayak gereja yg cukup ramai.
“Pak Ishak kemana saja selama ini kok tidak pernah kelihatan di gereja?”
Untuk sejenak pak Ishak tercenung, Ia sepenuhnya sadar sedang ditegur oleh Pastor. Namun di tengah jemaat, rasanya Ia cukup tergeltik. Lalu setelah sejurus terdiam, Pak Ishak balik bertanya: ” Sebelum saya jawab pertanyaan Pastor, jawab dulu pertanyaan saya, pernakah Pastor melihat Gereja keluar dari diri saya?” Pastor terdiam dan sejak itu tak pernah bertanya lagi. Pak Ishak menceritakan ini tidak dengan maksud sok merasa suci, sebab sambil terkekeh Ia mengatakan. “Ah sebenarnya saya hanya ngeles aja, soalnya malu juga ketahuan jarang ke gereja.”
Mungkin saat itu pak Ishak sekedar bercanda, tapi bagi yang dekat dengan beliau paham betul, ucapan itu bukan sekedar ngeles. Sejatinya gereja memang telah bersemayam di hatinya yang terdalam. Semua tuturan dan sikapnya adalah pancaran dari gereja.
Berjumpa dengannya kita akan menemukan sikap yang begituh kukuh, dan akan mengatakan kebenaran yang diyakininya meski pahit. Ia pernah secara tegas tanpa tedeng aling-aling menyatakan “saya prihatin dengan PMII akhir-akhir ini, kenapa mulai ikut-ikutan politik praktis yang tak jelas juntrungannya.” Itu diucapkan sekitar10 tahun yang lalu.
Hidupnya bersahaja, sangat humbled. Anda undang ke acara apapun, tanpa honor, jika sehat dan ada waktu pasti dia datang. Begitulah pengalaman kami saat menggelar kajian rutin filsafat di kantor LAPAR dulu. Pak Ishak akan datang setiap kami undang dengan mengendarai pete-pete. Pengalaman serupa pasti juga dialami oleh Gusdurian saat ini. Tempat di mana pak Ishak ikut menjadi pembinanya. Dalam usia yg sudah tidak muda lagi pak Ishak masih selalu datang memenuhi undangan Gusdurian. On time, bahkan selalu mendahului yang lain, termasuk saya. Tak bisa duduk bersila lagi, punggangnya sudah tak sanggup menopang tubuhnya. Dalam forum Gusdurian pak Ishak memancarkan segenap semangatnya. Gusdur baginya adalah inspirasi dan orang yang sangat dikaguminya. Bagi pak Ishak, berada di tengah-tengah Gusdurian adalah sekaligus mengenang Gusdur dan gagasannya.
Ruang pak Ishak tentulah tak sesempit yang saya ceritakan tadi. Narasi di atas hanyalah noktah kecil kehidupannya. Pada sisi yang lain Ia adalah budayawan, wartawan senior, penulis dan Bapak yang hebat. Tentu di sisi itu pun tak kurang cerita dari orang yang pernah mengalami perjumpaan dengan beliau.
Hari ini, tanggal 16 Juli 2018, pukul 7.00 pak ishak berpulang ke hadirat Ilahi. Bapak yang bersahaja ini telah menyatu, tidak hanya dengan gereja, tapi juga Sang Pemilik dari gereja itu. Bersatu dalam arti sepenuh-penuhnya penyatuan. Selamat jalan pak Ishak. Sang pemilik gereja merindukanmu. Alfatihah
Catatan salah satu muridmu Syamsulrijal Ad’han (Ijhal Thamaona)