Kuliah Umum di FUAD IAIN Ternate, Saprillah Bahas Kontestasi Kelompok Keagamaan di Indonesia

HARIANSULSEL.COM, Ternate – Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Ternate mengadakan kuliah umum yang dibawakan Kepala Badan Litbang Agama Makassar Saprillah Syahrir bertema Kontestasi antar kelompok keagamaan dalam masyarakat Islam, Selasa (3/3) yang bertempat di Aula Rektorat IAIN Ternate. Tampak hadir Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ternate Muhamad Warda, segenap pimpinan Fakultas Ushuluddin, dan mahasiswa Fakultas Ushuluddin.

Sebelumnya telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah dan Balai Litbang Agama Makassar yang meliputi wilayah kerja Indonesia Timur yang terdiri 12 provinsi.

Salah satu bukti adanya kontestasi antar kelompok keagamaan hari ini, bisa kita lihat bagaimana kaum salafi berhasil menjadikan isu selamat natal sebagai isu Agama di Indonesia, dimana sebelumnya isu tidak masuk dalam kajian fiqh di Indonesia, kecuali pada tahun 1981 sewaktu Buya Hamka menjadi Ketua Umum yang memfatwakan haram merayakan natal, bukan keharaman mengucapkan selamat natal

Kedua, munculnya jargon kembali Alquran dan Sunnah, padahal faktanya tak ada satupun kelompok keagamaan yang menolak hal itu, namun yang berbeda adalah bagaimana memahami Alquran dan Sunnah itu sendiri.

“Namun pada saat tertentu kelompok-kelompok tersebut akan tetap bersandar pada ulama mereka, karena adanya fenomena baru, misalnya bagaimana posisi keharaman gambar, dan saat ini membolehkan untuk berdakwah di YouTube, karena mereka bersandar pada ulama yang dulu mengharamkan dan sekarang membolehkan, olehnya itu NU, Muhammadiyah, Salafi semuanya benar.

Yang keliru adalah anda memahami pendapat ulama, kemudian melegitimasi untuk menyalahkan pendapat yang lain karena perdebatan bukan pada area subtantif melainkan hanya simbolik

Karena jarak antara kita dan Nabi Muhammad Saw ada jarak 15 abad, sehingga ada banyak lapisan-lapisan dan ribuan ulama mujtahid dan ghairu mujtahid, artinya jangan sampai kita hanya memaknai serpihan-serpihan pengetahuan, sehingga membuat kita saling menyalahkan

Sebagai masyarakat beragama penting memahami posisi dalam kelompok keagamaan, apakah Ulama mujtahid, ulama ghairu mujtahid, ulama, mubaligh, ustads ataukah umat. Mayoritas posisi kita adalah umat yang berarti menerima, tidak ada legitimasi untuk berdebat, artinya posisi kita sebagai umat hanyalah menerima pendapat para ulama dan tidak ada potensi untuk memperdebatkan karena memang kita belum sampai derajat ulama.

Namun point saya yang paling penting adalah kita mau memahami, berdialog, bersikap arif dan bijak untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi mereka mengekspresikan keagamaan dengan cara berbeda, karena jangan sampai kita memahami Agama padahal hanya serpihan-serpihan pengetahuan. (and/hariansulsel)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *