Opini: Sudut Narasi Sang Pandemi

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Semua terjadi begitu cepat, entah Wabah Corona adalah konspirasi atau sekadar masa seremoni pandemi. Sebelum pandemi merebak, saya pernah membaca novel historis yang berlatar virus. Sedikit kaidah dalam novel “The Physician” karya Noah Gordon nampaknya bisa saya bagi. Saya melihat ini akan menjadi sudut pandang berbeda dari yang lainnya, meskipun saya sendiri meyakini ada banyak faktor yang dapat menjadi potensi wabah. Tulisan ini bertujuan memperkaya khazanah, berusaha meluaskan jangkauan pengetahuan tentang musibah, dan menulis tanpa ada niat memperkeruh suasana.

Dinarasikan olehnya (Noah Gordon), ketika Islam mencapai puncak kejayaan peradaban – beberapa selingan kebiadaban – di kota Isfahan (Persia), telah terjadi persaingan ketat di kalangan penguasa lintas negeri. Saya sebut puncak peradaban sebab di masa itu hidup seorang Ibnu Sina (salah satu yang terbaik di abad pertengahan). Di lain sisi saya sebut biadab dengan adanya seorang Syah (Khalifah Persia) yg rajin minum khamar, gila sex, dan sangat mendukung penyebaran tempat maksiat di kota mega-metro Isfahan.

Dalam narasi singkat, digambarkan bahwa persaingan politik yg memanas terjadi antara penguasa Saljuk dan Penguasa Persia (Syah). Perbedaan aliran teologi adalah hal mendasar yang menjadi pembeda keduanya. Saljuk yang militan dengan ideologi Islam konservatif radikal dan Syah penguasa Persia yang mengusung pemerintahan sunni liberalisnya. Jika dilihat dari masanya yang bersamaan dengan keberadaan Ibnu Sina, kemungkinan besar penguasa Saljuk yang dimaksud Noah Gordon adalah Seljuq bin Duqaq (penguasa Saljuq sebelum Tugril Beg). Sementara Syah yang dimaksud adalah salah satu penguasa Persia yang tunduk pada Dinasti Ghaznawiyah (977-1186 M).

Sejak Syah memenggal kepala adik penguasa Saljuk yang diutus sebagai duta negara, hubungan memanas antar keduanya mulai berlangsung. Konfrontasi politik sampai kontak militer terus menerus terjadi. Tetapi, dari kesemuanya itu tdk pernah mampu meruntuhkan kokohnya superioritas kekhalifahan dan benteng kota Isfahan. Ketika seluruh usaha Saljuk dirasa akan sia-sia, mereka tiba-tiba menemukan ide brilian namun tidak manusiawi. Melalui kerja sama dengan salah satu ulama (lawan politik Syah) di Kota Isfahan, serangan dilakukan dengan penggunaan senjata biologis. Saljuk kemudian mengirim wabah Pes (Black Death) ke jantung kekuasaan Syah di Isfahan. Dalam literatur modern virus tersebut bernama enterobakteria Yersenua Pestis. Nampaknya sang penulis mengambil inspirasi dari wabah Black Death yang melanda Eropa di abad pertengahan.

Virus menular itu berhasil ditularkan oleh seorang penderita yang berasal dari Saljuk. Ia memasuki pusat keramaian di Kota Isfahan, lalu menularkannya ke masyarakat melalui kontak fisik. Bukan hanya manusia, hewan-hewan seperti tikus pengerat dan kutu-kutu ikut membantu percepatan penyebaran virus. Tikus dan kutu tersebut terkontaminasi melalui keberadaan mayat yang bergelimpangan tak terkendali dan belum sempat dikuburkan.

Apa boleh dikata, dengan sekejap Kota Isfahan menjadi kuburan massal. Korban jiwa berjatuhan tiada henti, terjadi isolasi, ekonomi hancur, dan pertahanan negara mulai melemah. Meskipun Ibnu Sina dan para dokter di madrasahnya berhasil menemukan obat dan menjinakkan virus, kejatuhan Kekuasaan Syah tidak akan mampu dielakkan. Politik dan perekonomian sudah terlanjur hancur akibat wabah berbulan-bulan. Negara kuatpun perlahan renta dan terlihat tidak berdaya. Kota megah Isfahan tinggal menunggu waktu untuk jatuh ke genggaman penguasa Saljuk.

Setelah melihat kondisi kekuasaan Syah yang telah melemah itu, dengan memanfaatkan situasi, Kaum Saljuk mulai melakukan serangan besar-besaran. Dalam sebuah peperangan singkat, Syah terbunuh dan Kota Isfahan berhasil dikuasai tanpa perlawanan berarti.

Meskipun diangkat dari novel berlatar sejarah. Seolah penulisnya benar-benar berhasil menggeliatliarkan nalar pembacanya. Di masa modern ini, dengan peradaban yang semakin maju, cara-cara klasik mungkin masih terus digunakan untuk mencapai tujuan kekuasaan. Melalui sejarah semua bisa terlihat begitu jelas. Masa 400 SM, para penguasa Persia dan Roma telah mencelupkan mata panah dan pedang mereka pada jasad manusia dan hewan yang membusuk. Begitu juga sejarah yang sedikit selaras dengan karya Noah Gordon, fakta mengerikan terjadi ketika bangsa Britania Utara membagikan selimut-selimut bekas pasien cacar pada bangsa Indian untuk memenangkan perang dan memusnahkan mereka (1754 – 1760). Masa-masa berikut semuanya seperti terus berulang. Jerman dengan bakteri patogen pada PD I. Jepang, China, Amerika, dan Unisoviet dengan senjata biologis mereka yang membunuh begitu dingin masih jelas tertata dalam kenangan hitam sejarah perang. Convensi 100 negara tahun 1972 memang telah melarang penciptaan senjata gila ini, tetapi tidak pada penggunaannya. Semua peristiwa penting Ini adalah fakta mimpi gila yang menjadi fokus ambisi para penguasa besar Dunia sejak berabad lalu. Hingga saat ini mereka senantiasa mendambakan kehambaan manusia dan negeri lain berada di bawah diri dan bangsanya. Demi mencapai hal gila itu, mereka rela melakukan segala cara, bahkan memusnahkan sesama sekalipun.

Bercermin dari karya Noah Gordon dan latar sejarahnya itu, saat ini tentu “Saljuk-saljuk” baru masih hadir dan terus beranak-pinak di muka Bumi. Mereka perlahan-lahan terus membangun superioritas tanpa kompromi. Berideologi, lebih modern, lebih superior, dan tentu memiliki insting membunuh yang jauh lebih tinggi. Untuk apa? Yah tentu demi meraih mimpi klasik, menggenggam Dunia.

Penulis: Misbahuddin, S.Pd.I., M.Hum – Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *