HARIANSULSEL.COM, Makassar – Merebaknya virus Corona sebagai pandemi global akhir-akhir ini, tanpa disadari telah memaksa umat manusia untuk menjalani hidup yang berbeda. Betapa tidak, sebagai makhluk sosial, seseorang tentu tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang dan banyak melakukan interaksi satu dengan yang lainnya. Mall, pasar dan kantor-kantor tidak akan pernah kosong dari kerumunan orang yang mencari kebutuhan hidupnya setiap saat. Makanya, tidak heran jika kemudian adanya kebijakan pembatasan sosial untuk mengekang penyebaran virus yang menyerang kerongkongan ini, banyak yang tak bisa menerimanya. Ini karena tidak lain adalah tadi, manusia itu adalah makhluk sosial. Namun demi kemaslahatan bersama, kita semua harus bersabar sejenak untuk tidak melakukan aktivitas-aktivitas sosial agar mata rantai penyebaran virus Covid 19 ini dapat terputus dengan segera, hingga keadaan mulai membaik seperti sediakala. Amin.
Sebagai makhluk yang punya keyakinan akan adanya Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk diantaranya Covid 19 ini, kita tentu paham bahwa dibalik semua peristiwa, apakah itu kita suka atau tidak, pasti ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Disinilah letak kualitas iman seseorang manakala mampu menemukan setiap hikmah yang terkandung dalam sebuah bencana, apalagi kalo kita cermati virus Corona ini sepertinya telah banyak berdampak bagi seluruh lini kehidupan manusia, maka sudah barang tentu hikmah yang terkandung pun pasti besar. Ini menurut hemat penulis.
Ada beberapa langkah yang diambil oleh negara-negara yang terkena virus Corona ini, termasuk Indonesia. Pemerintah kita dengan berbagai pertimbangan memilih pembatasan sosial dan menyarankan warganya untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah untuk sementara waktu. Tentu hal ini akan berdampak pada mobilitas masyarakat yang padat, apalagi bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Yang berarti pula bahwa aktivitas kita saat ini hanya berputar pada rumah masing-masing. Ruang ruang yang dulu tidak pernah terjangkau agaknya semakin sering ditapaki. Termasuk ruang dapur keluarga.
Perempuan, sebagai pemilik sah ruang dapur keluarga tentunya telah menyiapkan langkah preventif untuk menghalau kegalauan dan rasa bosan tinggal di rumah. Bukan tanpa alasan, banyak dari kita, khususnya penulis yang berprofesi sebagai wanita pekerja di bidang pendidikan yang sudah pasti waktu lebih banyak diantara kampus daripada di dapur. Dan memang ada juga yang sudah menyerahkan hak pakai ruang dapur keluarganya kepada pembantunya lantaran kasibukan yang padat dan mengharuskan mereka untuk makan di luar yang sudah pasti instan dan tanpa repot untuk memasak. Cukup dengan menyediakan uang sebanyak-banyaknya dan memilih menu sesuai selera.
Tersebutlah seorang wanita karier yang perfect banget, bekerja di perusahaan besar milik swasta. Kemana-mana matching dengan performa yang gemilang. Bertemu dengan mitra kerja dan konglomerat kesana kemari. Terbang keluar negeri sudah biasa, apalagi hanya untuk keliling Indonesia, itu sudah pasti.
Wanita karier seperti ini sepertinya telah banyak menghiasi kehidupan modern seperti saat ini. Apalagi konsep gender sedikit banyak telah mempengaruhi cara pandang wanita saat ini, yang lebih banyak memilih untuk jadi wanita karier daripada sebagai rumah tangga. Hingga akhirnya urusan dapur keluarga tak banyak tahu bahkan tak mau tahu. Dengan datangnya wabah Covid 19 ini, yang mengharuskan stay at home untuk sementara waktu, menjadikan mereka kelabakan untuk mengurus ruang dapur yang lama tidak pernah disentuhnya.
Entah terpaksa atau karena tuntutan keberlangsungan hidup rumah tangga, kini si wanita karier banyak menghabiskan waktu di ruang dapur keluarga, mempersiapkan makanan untuk keluarga tercinta, sembari menyelesaikan tugas kantor dari rumah.
Sekiranya ruang dapur keluarga itu bisa bicara, mungkin akan berucap syukur dengan datangnya pandemi global Covid 19, yang membuat dia dilirik kembali, bercengkrama dengan si Nyonya yang super sibuk. Ruang dapur seakan tersenyum sumringah karena kedekatan dengan si Nyonya yang direnggut oleh karier melejit, datang kembali walau hanya untuk sementara waktu. Meja makan yang seringkali kosong itu kini dipenuhi berbagai jenis makanan dan dinikmati bersama oleh seluruh anggota keluarga, setiap waktu makan tiba. Sungguh pemandangan yang jarang ditemui dalam keluarga wanita karier yang super sibuk.
Seyogyanya, sebagai wanita karier walaupun ditengah kesibukan akan tetapi kita mesti berusaha memanfaatkan dapur semaksimal mungkin untuk kebutuhan primer suami dan anak-anak. Jadi di situasi sekarang ini, seharusnya memberikan pelajaran kepada kita bahwa rumah tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal dan istirahat belaka, tetapi harus menghadirkan suasana yang kondusif antar sesama penghuni. Itulah sebabnya fungsi suami dan istri dalam rumah tangga harus tetap dikedepankan di samping tugas kantor yang setiap saat datang tanpa henti.
Ternate, 8 Mei 2020
Penulis: Sugirma – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ternate
