Petuah Anregurutta KH Harisah, Pendiri Pesantren An-Nahdlah

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Makassar menangis. Tepatnya, Senin sore, 20 Mei 2013 silam. Sosok kharismatik itu kembali ke pangkuan Ilahi. Kepergiannya menghentikan sejenak laju aktivitas kota Makassar.

Makassar berduka. Bukan hanya keluarga, murid, sahabat, tapi semua masyarakat. Termasuk, anak lorongnya Tinumbu dan pasar Cidu. Mereka memadati jalanan raya. Herstasning lumpuh. Manusia tumpah. Mengiringi kepergiannya ke tempat terakhir. Sebagai penghormatan, sekaligus harapan berkah terakhir darinya. AGH. Muh. Harisah. AS.

AGH. Harisah dikenal sangat bersih dan disiplin. Rambutnya rapi, selalu mengkilat. Cara jalannya lambat, menyapa senyum orang di sekitarnya. Pandangannya tajam. Jauh ke depan. Songkoknya yang khas menambah wibawa dan kharismanya.

Taro ada taro gau (sesuai ucapan dan perbuatan), demikian prinsip hidupnya. Sangat tegas dengan pendiriannya. Tidak pernah mendekat dengan pemerintah. Manini pangkaukeng nennia werekkada (muruah dalam perbuatan dan perkataan). Tapi, juga tidak pernah bersembrangan dengan pemerintah. Ia pun sangat disegani.

Di sisi lain, juga beliau dikenal lemah lembut. Penyayang dan penuh kasih. Khususnya kepada masyarakat dan anak lorongnya Tinumbu. Ia tidak berjarak baik fisik maupun psikis. Rumahnya berdampingan dengan masyarakat biasa. Setara, tidak ada sekat.

Pesantren An-Nahdlah yang dirintisnya (1982) tepat berada di tengah rumah-rumah warga. Tidak ada pagar pemisah. Petuah dan nasehat senantiasa terdengar jelas dari corong Masjid. Menyentuh hati masyarakat sekitar. Baik penjual di pasar, tukang becak, bahkan anak lorong yang lagi nongkrong. Sebuah metode dakwah yang sangat bijak.

Saya secara pribadi, tidak pernah diajar langsung oleh AGH. Harisah. Beliau tamat di As’adiyah Sengkang pada tahun 1967, sementara saya masuk tahun 1997. Jarak waktu yang sangat jauh. Namun, petuah dan nasehat AGH. Harisah AS sering saya dengar. Baik ketika masih di Sengkang, ataupun di Makassar.

Suatu ketika, beliau menyampaikan nasehat kepada para Alumni As’adiyah di Makassar. Beliau bercetia bahwa sejak tinggal di Makassar, setelah meninggalkan kota Sengkang, ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan.

“De’nengka mbe wattoddangiwi gurukku ku Sengkang, metauka madoraka”, kenang AGH. Harisah kepada gurunya, dengan logat Bonenya yang sangat khas itu.

Maksudnya, AGH. Harisah selama di Makasar tidak pernah menjulurkan kakinya ke arah kota Sengkang. Kota para ulama yang berada di sebelah Timur Makassar. Baik kalah santai maupun tidur. Itu sebagai bentuk penghormatan kepada gurunya dan takut durhaka kepadanya.

Sugguh mulia akhlak AGH. Harisah. Akhlak yang lahir dari ilmu dan taqwa. Keduanya tak terpisahkan. Dengan ilmu orang bertaqwa. Dengan taqwa orang memahami arti penghormatan kepada guru. Penghormatan yang tidak akan pernah berakhir, sebagaimana pengabdian kepada kedua orang tua.

“Kedua orang tua telah menurunkan (lahirkan) kita ke bumi, sementara guru adalah orang yang akan mengangkat kita ke langit”. Demikian nasehat Syeikh Sarnuji sangat melekat dalam batin AGH. Harisah.

Hari ini, banyak guru yang didemo. Banyak yang diperkarakan dan dipenjarakan. Tidak sedikit yang dipukul. Sangat memilukan! Sungguh sangat jauh dari nilai-nilai luhur itu. Cukup kepribadian AGH. Harisah di atas menjadi nasehat dan nasehat Syeikh Al-Palembani menjadi renungan:

“Seandainya orang pintar itu mulia tanpa taqwa (akhlak), maka orang yang paling mulia di sisi Allah adalah Iblis!”

Wallahu A’lam bissahawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *