Yang Hilang dari Ilmu (Seri-18)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Penuh, Sesak. Rumah Sang Kyai itu dipadati murid dan masyarakat. Tiap Magrib mereka talaqqi (belajar) ilmu kepada Sang Kiai. Ulama kharismatik yang baru saja kembali dari tanah Haramain, Mekkah. Murid itu menyimak penjelasan sang Kiai dengan penuh kehadiran diri. Bentuk penghormatan kepada guru. Kata demi kata dicatat dengan rapi. Tidak ada terlewati. Ciri penuntut ilmu sejati.

Namun, hatinya tiba-tiba menggerutu. Mulai bosan. Bertahun-tahun bersama Kiai, yang dipelajari itu-itu saja. Tidak pernah pindah. Tidak ada yang baru. Tiap kali khatam (selesai), Sang Kiai kembali lagi dari ayat pertama. Dijelaskan sampai ayat terakhir. Berulang-ulang. Sang murid pun merasa sudah hafal mati penjelasan Sang Kiai tersebut. Titik dan komanya. Saking seringnya.

“Maaf Kiai! Sampai kapan surah ini dibahas? Bukankah sudah berkali-kali dikhatamkan? Bukankah kami juga sudah mengetahui maksudnya?

Hening! Tidak ada suara. Jamaah yang lain saling menatap satu sama lain. Ketakutan. Khawatir Sang Kiai tersinggung dan marah. Kenapa sampai si murid itu begitu lancang di hadapan Sang Kiai?

“Sampai kalian mengamalkan semua yang kalian tahu!”

Tiba-tiba suara itu membuyarkan keheningan. Menghentak hati yang lalai. Singkat dan dalam. Kiai menasehati dengan lemah lembut namun mengena. Tidak hanya pikiran, tapi hati sanubari yang palim dalam. Tanda bahwa nasehat itu bersumber dari kejernihan hati; keikhlasan.

Semuanya tertunduk malu. Malu bukan karena tidak tahu. Tapi malu karena belum mengamalkan yang diketahui. Persis apa yang dikatan oleh sang Kiai. Mereka merasa lalai dengan ilmunya.

Kisah di atas, entah sumbernya darimana. Saya hanya yakin pernah mendengarnya. Tidak tahu pasti kebenarannya. Tapi sangat mencerahkan. Sang Kiai itu adalah KH. Ahmad Dahlan. Pendiri organisasi Muhammadiyah. Surah yang dibahas berulang kali itu adalah QS. Al-Ma’un. Spirit surah itulah yang menjadi inspirasi gerakan sosial Muhammadiyah. Sampai hari ini.

Poin menarik dalam kisah itu adalah keseimbangan ilmu dan amal. Orang yang paling merugi di akhirat nanti adalah orang alim yang mengajar seseorang lalu diamalkan, sementara ia sendiri lalai, dan tidak mengamalkan yang diajarkan. Demikian peringatan Syeikh Hatim al-A’sham. Seorang sufi yang dikenal si tuli itu.

Narasi Alquran juga sangat banyak tentang celaan itu. Mereka dibenci oleh Allah ( QS. Ash-Shaff: 3), ancaman Allah yang menyeru kebaikan tapi melupakan dirinya (QS. Al-Baqarah:44). Para sahabat juga demikian. Mereka tidak pindah meminta tambahan satu ayat atau ajaran kecuali ia telah amalkan. Bahkan mereka terkadang merasa cukup satu amalan kecil, tapi rutin dilakukan.

Kisah di atas, tidak sama sekali bermaksud menciutkan semangat penuntut ilmu. Karena menuntutnya adalah kewajiban sepanjang hayat. Tapi hanya sebagai alarm, bahwa setelah ilmu itu adalah amal. Amal adalah bentuk tanggungjawab moral terhadap masyarakat. Sejatinya, dengan banyaknya orang tahu (ilmuan), masyarakat akan aman, tentram dan sejahtera. Bukankah, jabatan kekhalifaan itu diamanahkan kepada nabi Adam (manusia) karena ilmunya?

Persoalan kebersihan, dermawan, etos kerja, rendah hati, kedisiplinan, dan kejujuran adalah ajaran yang sangat jamak diketahui. Sunnah Rasul yang wajib, tapi kerap diabaikan. Kalah menarik dengan sunnah-sunah yang lain yang sifatnya anjuran. Jangan-jangan system pendidikan kita selama ini, masih sebatas transfer ilmu? Belum pada proses mensejatikan manusia. Menekankan pada aspek kognitif dan melupakan aspek afektif? Sentuhan hati terlupakan. Akhirnya, generasi pintar, tapi tidak bijaksana. Berilmu tapi tidak beramal.

“Kemudian, ketahuilah! Sesungguhnya ilmu tanpa amal adalah dosa besar, amal tanpa ilmu adalah kesesatan besar. Ilmu dengan amal adalah cahaya di atas cahaya, bahagilah orang yang berilmu dan beramal”, kata Syeikh Al-Palembani.

Wallahu A’lam bishshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *