HARIANSULSEL.COM, Makassar – Syeikh Abu Hasan Asy-Syadzili baru saja selesai memberi tausiah. Dihadiri oleh murid, masyarakat bahkan beberapa ulama terkenal. Petuahnya selalu menyejukkan hati. Menyentuh nurani. Kata hikmahnya bak oase di padang pasir. Menghidupkan hati yang mati. Menumbuhkan rasa empati. Mencerahkan akal budi. Tak jarang jamaah menangis haru. Saking memukaunya.
Tapi, kali ini lain. Salah satu murid setianya keheranan. Nasehat yang disampaikan gurunya terasa aneh dan membingunkan dirinya. Tidak ada majelis yang ia lewatkan. Tidak ada kata yang ia lupakan. Semua terekam baik dalam nalarnya. Sosok Syeikh Asy-Syadzili begitu memosona dalam tutur kata. Demikian juga dalam pesan hikmah.
Namun, jiwa terus bertanya, nasehat gurunya hanya satu. Mengajak untuk hidup sederhana. Menjadi faqir. Meninggalkan dunia. Hidup seorang zahid. Hal itu tidak sesuai dengan kehidupan gurunya sendiri. Berbanding terbalik kemewahan istana Syeikh Abu Hasan Asy-Syadzili. Seorang konglomerat dan elit. Batinnya gelisah.
“Maafkan saya wahai Syeikh. Bagaimana mungkin Syeikh menasehati untuk hidup faqir dan zuhud, sementara syeikh sendiri bergelimang dengan harta?” murid itu memberanikan diri, sesaat ketika sedang berada di istana gurunya.
Syeikh Asy-Syadizili hanya diam. Santai. Beliau paham kegelisahan muridnya. Sudah sejak lama. Namun, beliau tidak menaggapinya. Ia malah mengajak murid itu menikmati kemewahan istana. Berkeliling. Menyaksikan pemandangan indah. Menghirup taman-taman surga.
Sambil berjalan santai. Mengelilingi istana. Syeikh Asy-Syadzili meminta murid itu mengenggam segelas air. Menjaganya agar tidak tumpah. Keduanya melewati semua lorong-lorong keindahan istana. Pernak pernih kehidupan semua tersedia. Sampai keduanya kembali ke tempat semula.
“Bagaimana menurutkmu keindahan istanaku?” syeikh Asy-Syadzili menimpali sang murid itu.
“Bagaimana mungkin saya bisa menikmati keindahan istana ini Syeikh, sedang perhatianku hanya tertuju pada gelas air ini, agar air tidak tumpah?” terang murid itu sambil meletakkan gelas itu.
“Begitu pula dengan saya. Bagaimana mungkin saya bisa menikmati keindahan istana ini, jika hatiku hanya sibuk tertuju pada Allah.” Terang Syekh Asy-Syadzili menasehati.
Sang murid terkesima. Meninggalkan istana. Kegelisahannya terobati. Ia selama ini salah meniliai gurunya. Salah persepsi tentang konsep kefaqiran. Kefaqiran selalu diidentik dengan kehidupan melarat. Tidak memiliki harta. Menjadi beban orang lain. Meminta-minta di jalan. Hidup menyendiri. Terlunta. Ternyata salah.
Gurunya yang sangat terhormat itu adalah seorang sufi besar. Lahir di Maroko tahun 1197 M. Tumbuh sesar di Syadzili, Tunisia. Dan meninggal di Mesir tahun 1258 M. Beliua pendiri tarekat Syadzilia di Mesir. Tarekat terkemuka di dunia. Beliau juga dikenal sebagai sufi qutub. Pemimpin para sufi. Penyeimbang kosmologi. Tapi, penampilannya sangat rapi. Necis. Bersahaja. Hidup di istana. Tidak hidup hidup melarat. Ia justru seorang pekerja keras. Pengusaha ulung. Kekayaannya terus digunakan untuk membantu yang lain. Tidak untuk dirinya. Kefaqirannya hanya kepada Allah. Bukan kepada manusia dan harta.
Itulah kefaqiran yang sebenaranya (QS. Fathir: 15). Di saat hati ini hanya butuh kepada Allah. Selain-Nya hanyalah wasilah menuju mahabbah-Nya. Kekayaan untuk berbagi. Bukan membuat kikir. Kemewahan untuk menderma bukan untuk merendahkan.
Dan sepertinya, Indonesia dan dunia Islam secara umum sedang merindukan kehadiran sosok Syeikh Asy-Syadzili yang baru. Terlebih khusus di tengah kondisi yang kurang menggembirakan saat ini. Seorang pekerja keras, sufi dan peduli. Belilaulah profil: faqir tapi kaya. Sejahtera di dunia. Bahagia di akhirat.
Sehingga, kefaqiran dalam pemikiran Syeikh Al-Palembani sejatinya dipahami seperti itu.
“Kemudian ketahuilah bahwa sesungguhnya kefaqiran itu aalah pakaian para nabi. Perhiasan para wali. Karena kefaqiran itu melahirkan kekhusyuan, dan kekhusyuan menciptakan karamah.”
Wallahu A’lam bissawab
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
