HARIANSULSEL.COM, Makassar – Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Ia bukan hanya dikenal sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, tetapi juga sebagai seorang ulama, cendekiawan, dan humanis yang pemikirannya melampaui zamannya. Dengan latar belakang sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur membawa pendekatan yang unik dalam memandang bangsa dan dunia: inklusif, moderat, dan penuh kebijaksanaan.
Penting untuk merefleksikan pemikiran dan kebijaksanaan Gus Dur di tengah tantangan yang dihadapi bangsa saat ini. Kebijakan dan prinsip-prinsip yang ia tanamkan tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini dalam menghadapi isu-isu kebangsaan, keberagaman, dan kemanusiaan.
Kebijaksanaan Gus Dur dalam Menjaga Keberagaman
Salah satu warisan terbesar Gus Dur adalah pandangannya tentang keberagaman. Baginya, Indonesia adalah rumah bagi semua, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Gus Dur sering kali mengatakan, “Tidak penting apa agama atau sukumu, kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah bertanya apa agamamu.”
Prinsip ini menjadi relevan di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan politisasi identitas. Gus Dur mengajarkan bahwa keberagaman adalah aset, bukan ancaman. Ia mendorong dialog antaragama dan antarbudaya sebagai cara untuk membangun harmoni di tengah perbedaan.
Salah satu tindakan paling monumental Gus Dur adalah mencabut larangan terhadap praktik keagamaan Konghucu dan mengakui Imlek sebagai hari libur nasional. Langkah ini mencerminkan keberanian dan komitmen Gus Dur terhadap keadilan, bahkan ketika langkah tersebut tidak populer secara politik.
Melalui kebijakan ini, Gus Dur menunjukkan bahwa melindungi hak-hak minoritas adalah bagian integral dari membangun bangsa yang inklusif dan berkeadilan. Pelajaran ini tetap relevan hingga kini, ketika masih ada kelompok-kelompok yang merasa termarjinalkan.
Pemikiran Gus Dur tentang Demokrasi dan Hak Asasi Manusia
Bagi Gus Dur, demokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan bagi semua orang. Ia menekankan pentingnya moralitas dalam demokrasi. Demokrasi tanpa etika, menurutnya, hanya akan melahirkan kekuasaan yang tiranik.
Sebagai Presiden, Gus Dur menunjukkan komitmennya terhadap demokrasi dengan membuka ruang kebebasan berpendapat, mencabut pembatasan terhadap media, dan mendorong desentralisasi melalui otonomi daerah. Meskipun masa pemerintahannya singkat, langkah-langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi demokrasi Indonesia modern.
Gus Dur adalah salah satu tokoh yang konsisten memperjuangkan hak asasi manusia. Ia tidak segan berbicara tentang pelanggaran HAM, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sikap ini tidak hanya mencerminkan keberanian moralnya, tetapi juga visi universalnya tentang kemanusiaan.
Misalnya, Gus Dur secara terbuka mendukung gerakan untuk mengungkap kebenaran tentang peristiwa 1965 dan memulihkan hak-hak para korban. Sikap ini menegaskan komitmennya untuk membangun bangsa yang berlandaskan keadilan dan kebenaran.
Gus Dur sebagai Sosok Humanis dan Inklusif
Gus Dur dikenal dengan selera humornya yang tinggi. Namun, di balik candaan dan anekdotnya, tersembunyi kebijaksanaan yang mendalam. Humor bagi Gus Dur adalah cara untuk mencairkan ketegangan, menyampaikan kritik, dan menjangkau berbagai kalangan.
Humor Gus Dur sering kali membawa pesan moral yang kuat. Misalnya, ia pernah berkata, “Gitu aja kok repot,” ketika menghadapi kritik. Ungkapan ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu terbebani oleh hal-hal kecil dan tetap fokus pada hal yang lebih penting.
Gus Dur tidak hanya berbicara tentang inklusivitas, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjalin persahabatan dengan tokoh-tokoh lintas agama dan budaya, menunjukkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama.
Inklusivitas ini juga tercermin dalam kebijakan-kebijakannya, seperti pengakuan terhadap keberadaan komunitas agama lokal dan dukungannya terhadap kebebasan berkeyakinan. Gus Dur mengajarkan bahwa inklusivitas bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi juga soal aktif merangkulnya.
Pelajaran dari Gus Dur untuk Generasi Masa Kini
Di era ketika polarisasi sosial dan politik semakin tajam, Gus Dur mengajarkan pentingnya dialog sebagai cara untuk membangun jembatan. Ia percaya bahwa konflik hanya dapat diselesaikan melalui pemahaman, bukan dengan saling memaksakan kehendak.
Generasi masa kini dapat belajar dari pendekatan Gus Dur untuk mendengarkan dan memahami perspektif yang berbeda. Dialog yang jujur dan terbuka adalah kunci untuk menciptakan harmoni di tengah perbedaan.
Gus Dur adalah contoh nyata bagaimana seorang pemimpin dapat memprioritaskan kemanusiaan di atas kepentingan politik. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati harus berani mengambil keputusan yang sulit, bahkan jika itu tidak populer, selama keputusan tersebut didasarkan pada prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Pelajaran ini penting bagi generasi masa kini, yang sering kali terjebak dalam pragmatisme politik. Gus Dur mengingatkan kita bahwa keberanian moral adalah fondasi untuk menciptakan perubahan yang nyata.
Dengan demikian,
Gus Dur adalah tokoh yang meninggalkan warisan kebijaksanaan dan pemikiran yang melampaui zamannya. Dari perjuangannya untuk keberagaman dan hak asasi manusia, hingga komitmennya terhadap demokrasi yang bermoral, Gus Dur memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.
Di tengah tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, pemikiran dan kebijaksanaan Gus Dur tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bahwa politik harus berlandaskan moral, dan bahwa kemanusiaan harus selalu menjadi prioritas utama.
Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur. Dengan menjunjung nilai-nilai inklusivitas, keadilan, dan kemanusiaan, kita dapat membangun Indonesia yang lebih baik, sebagaimana yang diimpikan oleh Gus Dur. Pada akhirnya, warisan Gus Dur bukan hanya tentang apa yang ia lakukan, tetapi tentang apa yang dapat kita pelajari darinya untuk masa depan bangsa. Lahul fatihah
Penulis: Zaenuddin Endy – Aktivis Penggerak NU Sulsel, Direktur Pangadereng Institute (PADI)