HARIANSULSEL.COM, Makassar – KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, adalah tokoh yang dikenal bukan hanya karena pemikiran-pemikirannya yang progresif, tetapi juga karena kepribadiannya yang unik. Di balik keseriusannya dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, Gus Dur adalah sosok yang penuh kasih dan humor. Dua sifat ini menjadi senjata utamanya dalam merawat persatuan Indonesia di tengah keberagaman.
Gus Dur memahami bahwa negara dengan latar belakang budaya, agama, dan etnis yang sangat beragam seperti Indonesia membutuhkan pendekatan yang lembut, penuh cinta, tetapi juga cerdas dan jenaka. Dengan kasih dan humornya, Gus Dur mampu mencairkan suasana di tengah konflik, menyampaikan pesan yang sulit diterima secara langsung, dan bahkan menjembatani perbedaan yang tampak mustahil untuk didamaikan.
Kasih adalah inti dari setiap tindakan Gus Dur. Sebagai seorang ulama, Gus Dur percaya bahwa inti dari ajaran agama adalah cinta kepada sesama manusia. Ia sering kali mengutip ajaran Islam tentang kasih sayang sebagai landasan untuk bertindak. Baginya, agama bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mampu membawa kebaikan bagi orang lain.
Kasih inilah yang mendorong Gus Dur untuk selalu membela mereka yang lemah dan terpinggirkan. Ketika menjadi Presiden Indonesia, Gus Dur menunjukkan keberpihakannya pada kelompok minoritas, baik secara agama, etnis, maupun sosial. Salah satu langkah monumentalnya adalah mengakui keberadaan komunitas Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, dengan mencabut larangan perayaan Imlek secara terbuka.
Tindakan ini bukan sekadar kebijakan administratif. Itu adalah wujud cinta Gus Dur kepada bangsanya. Ia ingin setiap individu merasa dihargai dan diterima tanpa melihat latar belakang mereka. Baginya, keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirawat dengan kasih.
Humor adalah elemen penting dalam kepribadian Gus Dur. Di tengah peran-peran berat yang diembannya, Gus Dur selalu menggunakan humor untuk mencairkan ketegangan. Ia sering menceritakan lelucon yang sederhana tetapi penuh makna, yang mampu membuat audiens tertawa sekaligus berpikir.
Bagi Gus Dur, humor bukan sekadar hiburan. Humor adalah alat untuk menyampaikan kebenaran tanpa menimbulkan permusuhan. Dalam banyak kesempatan, ia menggunakan humor untuk mengkritik kebijakan, pola pikir, atau tindakan yang menurutnya tidak sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Ketika Gus Dur, misalnya, mengomentari isu-isu politik yang panas, ia sering menggunakan humor untuk menurunkan eskalasi konflik. Salah satu lelucon terkenalnya adalah saat ia bercanda tentang perbedaan antara negara maju dan negara berkembang, yang menurutnya hanya terletak pada kecepatan pembatalan keputusan. Di balik lelucon ini, tersimpan kritik tajam terhadap birokrasi yang tidak efisien, tetapi disampaikan dengan cara yang membuat orang tersenyum.
Ketika Indonesia menghadapi konflik sosial, terutama yang berbasis agama dan etnis, Gus Dur tampil sebagai pendamai. Ia percaya bahwa kasih dapat meredakan kebencian, dan humor dapat mencairkan kebekuan.
Salah satu contoh adalah peran Gus Dur dalam konflik Maluku. Di tengah situasi yang sangat sensitif, Gus Dur tidak hanya mengajak pihak-pihak yang bertikai untuk berdialog, tetapi juga menggunakan humor untuk mencairkan ketegangan. Dengan pendekatan ini, ia berhasil membuka ruang komunikasi yang sebelumnya tertutup rapat.
Pendekatan Gus Dur ini menunjukkan bahwa merawat persatuan tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku. Kasih yang tulus dan humor yang cerdas dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menciptakan harmoni di tengah perbedaan.
Nilai-nilai kasih dan humor yang diwariskan Gus Dur masih sangat relevan di era sekarang. Di tengah maraknya polarisasi sosial, intoleransi, dan konflik berbasis identitas, pendekatan Gus Dur menjadi pelajaran berharga.
Kasih mengajarkan kita untuk melihat orang lain sebagai saudara, bukan sebagai musuh. Sementara humor mengingatkan kita untuk tidak terlalu serius menghadapi perbedaan, karena pada akhirnya kita semua adalah manusia yang sama.
Generasi muda dapat belajar dari Gus Dur untuk merawat persatuan dengan cara yang lebih manusiawi. Dengan memanfaatkan media sosial, humor bisa menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan damai dan melawan kebencian. Namun, humor yang digunakan harus tetap menghormati, bukan menyinggung.
Gus Dur adalah contoh nyata bahwa kasih dan humor dapat berjalan beriringan dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin tidak harus selalu serius, tetapi harus selalu tulus. Dengan kasih, ia merangkul semua lapisan masyarakat. Dengan humor, ia mendekatkan dirinya kepada rakyat dan menyampaikan pesan-pesan penting dengan cara yang ringan tetapi bermakna.
Warisan Gus Dur adalah pengingat bahwa keberagaman Indonesia bukanlah beban, tetapi berkah yang harus dirayakan. Sebagaimana kata-katanya yang terkenal, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu.”
Melalui kasih dan humor, Gus Dur telah mengajarkan kita cara mencintai Indonesia dengan cara yang sederhana, tetapi luar biasa. Dan inilah yang membuatnya tetap hidup dalam hati jutaan rakyat Indonesia: seorang pemimpin yang tidak hanya berpikir dengan kepalanya, tetapi juga dengan hatinya. Wallahu A’lam Bissawab
Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel