Moderasi: Tafsir Ulang atas Jalan Tengah

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Ada kata yang sering kita gunakan seolah-olah ia netral, bening, tak berpihak: moderasi. Kata ini muncul dalam khutbah Jumat, pidato kenegaraan, kurikulum pendidikan, bahkan dalam obrolan warung kopi. Ia dibungkus sebagai solusi, sebagai jalan tengah yang diyakini dapat menyelamatkan kita dari kehancuran akibat ekstremisme. Tapi pernahkah kita merenung sejenak dan bertanya: siapa yang menentukan di mana letak titik tengah itu berada? Siapa yang berhak menandai mana yang moderat dan mana yang tidak?

Aku pernah merasa nyaman di bawah payung kata itu. “Moderat”—kata yang terdengar lembut, seperti nasihat seorang ibu yang menenangkan anaknya dalam badai. Kata itu tampak memberi ruang untuk bernafas, menjanjikan stabilitas dalam dunia yang penuh gejolak. Namun seiring waktu, aku mulai curiga. Rasa hangat itu ternyata menyimpan bara. Apakah moderasi sungguh sebuah kebajikan murni, atau ia adalah instrumen kekuasaan yang disamarkan dalam bahasa kebajikan.

Michel Foucault mengajarkanku bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja lewat paksaan atau represi. Lebih sering, ia bekerja secara halus melalui normalisasi—dengan menciptakan kategori, mengatur apa yang dianggap benar, dan memproduksi batas wacana yang tak terlihat. Dalam konteks ini, ajakan untuk menjadi moderat bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah bagian dari mekanisme produksi subjek yang patuh. Kita diajari untuk menjadi “masuk akal”, “tenang”, “tidak berlebihan”, tapi sebenarnya kita sedang dibentuk oleh struktur wacana yang menetapkan mana yang sah untuk dikatakan dan mana yang harus dibungkam.

Moderasi bukanlah posisi yang netral di antara dua ekstrem, melainkan arena pertarungan wacana. Ia bisa menjadi alat untuk menstabilkan narasi dominan, untuk meredam suara-suara yang tak sesuai dengan norma mayoritas. Apa yang kita anggap ekstrem seringkali hanyalah perspektif yang belum disahkan, atau malah sengaja disingkirkan oleh kuasa yang ingin mempertahankan status quo.

Cobalah perhatikan: mereka yang menyuarakan keadilan struktural seringkali dituduh subversif. Mereka yang menyuarakan distribusi ulang kekayaan dicap radikal. Lalu datanglah suara lembut itu—“Tenanglah, jangan keras-keras, bersikaplah moderat.” Tapi benarkah ketenangan selalu berarti kebijaksanaan? Bukankah dalam sejarah, banyak perubahan besar justru lahir dari kemarahan yang berakar pada cinta? Apakah kita bisa mengubah dunia hanya dengan bisikan, bukan teriakan?

Chantal Mouffe mengusulkan cara pandang yang lebih jujur terhadap demokrasi. Bagi Mouffe, demokrasi bukan tentang pencapaian konsensus total, melainkan tentang bagaimana kita mengelola perbedaan dan konflik secara produktif. Dalam perspektif ini, antagonisme bukanlah ancaman, tapi vitalitas. Upaya menyapu bersih konflik demi “kedamaian moderat” justru bisa menjadi bentuk penindasan yang halus—karena memaksakan keseragaman atas nama stabilitas.

Dari sinilah aku mulai melihat bahwa moderasi adalah hasil dari negosiasi sosial, bukan kondisi yang alamiah. Ia punya sejarah, punya konteks, dan tentu saja—punya ideologi. Ia tidak jatuh dari langit, tapi dibentuk oleh dinamika sosial-politik yang kompleks. Moderasi tidak netral. Ia bisa menjadi proyek hegemonik yang menertibkan keberagaman suara demi kenyamanan tatanan yang mapan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata ini terus diproduksi dan direproduksi: di ruang kelas, di layar televisi, dalam khutbah agama, bahkan dalam algoritma media sosial yang mengatur apa yang layak tampil di beranda kita. Semua itu secara perlahan mengarahkan kita pada satu ilusi: bahwa pusat selalu aman, dan pinggiran adalah ancaman. Tapi benarkah demikian?

Mungkin kita justru perlu membalik cara pandang. Mungkin yang kita butuhkan hari ini adalah moderasi yang radikal—bukan moderasi yang jinak dan penurut, tapi sebuah sikap moderat yang kritis. Moderasi yang tidak takut pada konflik, yang berani mengakui kompleksitas dunia, dan yang enggan menyederhanakan realitas demi kenyamanan sesaat. Sebuah sikap yang mengerti bahwa menjadi moderat tidak berarti menolak suara yang keras, tapi mampu mendengarkannya dengan hati yang terbuka.

Moderasi yang radikal bukanlah penyeragaman, tapi kerja keberanian untuk terus hidup dalam ketegangan. Ia tidak merasa harus menyelesaikan semua perbedaan, tapi justru melihat perbedaan sebagai napas dari kemanusiaan itu sendiri.

Maka tulisan ini bukanlah akhir. Ia hanya jeda. Sebuah undangan terbuka untuk merenung ulang. Bukan untuk menolak moderasi, tetapi untuk membebaskannya dari beban klaim netralitas yang menyesatkan. Moderasi bukanlah tempat yang nyaman untuk diam, tapi proses yang terus bergerak, yang menuntut kewaspadaan, dan keberanian untuk mempertanyakan dirinya sendiri.

Karena yang manusiawi bukanlah yang selalu tenang, tetapi yang berani terus mencari arti dalam kerumitan.

Penulis: Zaenuddin Endy – Founder Institute for Social and Cultural Studies (ISCS)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *