Cahaya Santri di Zaman Kecerdasan Buatan: Menuntun Ilmu, Menjaga Nurani Bangsa

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Bagi sebagian orang, ia mungkin tampak sebagai perayaan rutin tahunan. Namun bagi kaum santri, hari ini adalah momentum perenungan mendalam tentang peran mereka di tengah dunia yang berubah cepat, dunia yang kini dipenuhi oleh data, algoritma, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Santri bukan sekadar pewaris kitab kuning, tetapi penjaga nur ilmu. Di era revolusi industri 4.0 yang telah bertransformasi menuju era 5.0, mereka dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga ruh kemanusiaan agar tidak lenyap di balik layar kecerdasan mesin.

Santri Menjawab Tantangan Zaman

Kemajuan teknologi memang luar biasa. Robotik, big data, dan AI membuat hidup manusia semakin cepat, mudah, dan efisien. Namun di balik kemajuan itu, tersimpan paradoks: krisis nilai dan kehilangan arah moral. Dunia semakin canggih secara teknologis, tetapi sering kehilangan kemanusiaannya.

Di titik inilah peran ideologis santri menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya pelajar agama, tetapi juga penjaga keseimbangan antara ilmu dan iman. Tradisi pesantren menanamkan tiga pilar utama: keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan pilar yang kini tengah diuji oleh derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital.

Santri dengan kitab kuning di tangannya bukan simbol masa lalu. Di dalam kitab-kitab klasik seperti Fathul Qarib, Tafsir Jalalain, atau Al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali, tersimpan arsitektur berpikir ilmiah dan rasional yang sangat modern. Pesantren, jika mau membuka diri, sejatinya telah lama memiliki spirit epistemologis yang tidak kalah dari perguruan tinggi modern.

Ketika sebagian generasi muda hanyut dalam banjir informasi tanpa arah, santri masih memiliki kompas spiritual: sanad ilmu dan adab kepada guru. Di dunia yang semakin menuhankan kecepatan, santri tetap berjalan dengan kesabaran dan keberkahan dua nilai yang sering hilang dalam peradaban digital.

Warisan Al-Ghazali: Ilmu dan Akhlak

Imam al-Ghazali (1058–1111 M), ulama dan pemikir besar Islam, menulis dalam Ihya’ Ulumuddin:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Ungkapan ini begitu relevan di zaman sekarang. Dunia sedang dipenuhi teknologi pintar, tetapi sering kekurangan kebijaksanaan moral. Dalam konteks kecerdasan buatan, pesan al-Ghazali mengingatkan: teknologi tanpa nilai akan melahirkan peradaban tanpa nurani.

AI bisa meniru kecerdasan manusia, tetapi tidak dapat meniru hatinya. Di sinilah santri dipanggil untuk menjadi penuntun moral peradaban digital. Mereka adalah jembatan antara rasionalitas dan spiritualitas, antara algoritma dan akhlak.

Dalam Al-Munqidz min al-Dhalal, al-Ghazali menggambarkan pencari kebenaran sejati sebagai sosok yang kritis terhadap segala hal, namun tetap berpegang pada cahaya ilahi. Cara berpikir ini justru selaras dengan prinsip ilmiah modern hanya saja, santri menambahkan satu hal yang hilang dari sains modern: ketundukan pada Tuhan.

Imam al-Ghazali juga menolak pemisahan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Semua ilmu yang membawa manfaat bagi manusia, kata beliau, adalah bagian dari fardhu kifayah. Maka penguasaan teknologi, komputer, dan AI bukanlah hal asing bagi santri selama diarahkan untuk kemaslahatan umat dan bukan sebaliknya.

Santri di Era AI

Kini sudah banyak pesantren yang memanfaatkan teknologi digital: kitab klasik dikaji melalui aplikasi daring, sanad hadis dilacak dengan data digital, bahkan beberapa santri mulai belajar pemrograman dan literasi AI. Namun, persoalan utama bukan sekadar bisa menggunakan teknologi, melainkan mengarahkan dan mengawasi etika penggunaannya.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah manusia akan dikendalikan oleh AI, atau manusia yang menuntun AI dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keilahian?

Santri memiliki posisi unik untuk menjawab pertanyaan itu. Dalam dirinya bertemu dua kekuatan besar: tradisi dan transformasi. Dari tradisi, ia belajar kesabaran dan kedalaman makna; dari transformasi, ia belajar inovasi dan efisiensi. Jika keduanya bersinergi, maka lahirlah santri yang bukan hanya alim, tetapi juga visioner.

Santri di era digital bisa menjadi penafsir baru peradaban. Mereka dapat menimbang kebijakan publik berbasis AI dengan maqashid syariah, serta merancang kerangka etika teknologi sebagaimana para fuqaha dahulu menyusun kaidah hukum. Dengan kata lain, santri tidak cukup menjadi pengguna teknologi; mereka harus menjadi penuntun moralnya.

Pesantren dan Ideologi Kebangsaan

Selain tantangan digital, santri juga menghadapi perang ideologi global mulai dari ekstremisme keagamaan hingga liberalisme nilai. Dalam sejarahnya, pesantren telah terbukti menjadi benteng utama Islam wasathiyah (moderat) di Indonesia. Ideologi santri adalah cinta tanah air, penghormatan terhadap guru, dan penghargaan pada perbedaan.

Di tengah arus polarisasi dan disinformasi, pesantren harus menjadi ruang nalar yang jernih. Karena itu, kurikulum pesantren perlu direvitalisasi: memadukan tafaqquh fiddin (pendalaman agama) dengan literasi digital, etika media, dan wawasan kebangsaan.

Pesantren bukan menolak modernitas, tetapi ingin memastikan bahwa modernitas tidak kehilangan akarnya. Sebagaimana ditegaskan Imam al-Ghazali, kehancuran suatu bangsa bukan karena lemahnya ekonomi, tetapi karena rusaknya moral para pemimpin dan pendidiknya. Pesantren dan santri adalah benteng terakhir yang mencegah hal itu terjadi.

Santri dan Masa Depan Indonesia

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh mereka yang menguasai teknologi, tetapi oleh mereka yang menguasai ilmu dan hati sekaligus. Santri memiliki keduanya. Mereka tumbuh dalam tradisi spiritual yang memupuk kejujuran, disiplin, dan solidaritas sosial nilai-nilai yang justru dibutuhkan di dunia kerja dan pemerintahan modern.

Bayangkan jika santri melek teknologi dan tetap berpegang pada akhlak. Akan lahir generasi baru: santri programmer, santri-data scientist, dan santri-peneliti etika teknologi. Mereka bukan sekadar pekerja digital, tetapi penjaga nurani di tengah mesin yang kian dingin.

Ketika bangsa lain sibuk menciptakan mesin yang menyerupai manusia, Indonesia memiliki peluang menciptakan manusia yang melampaui mesin manusia yang berilmu, berakhlak, dan beriman. Di situlah masa depan bangsa ini berada.

Hari Santri bukan hanya peringatan sejarah, tetapi peneguhan masa depan. Santri bukan penjaga masa lalu, melainkan penuntun masa depan bangsa. Ketika dunia gelap oleh data dan algoritma, santrilah yang membawa kembali cahaya itu.

Sebagaimana pesan abadi Imam al-Ghazali, “Cahaya ilmu adalah kehidupan bagi hati di tengah kegelapan zaman.”

Dan di zaman kecerdasan buatan yang sering kehilangan nurani, cahaya itu kini bersinar di tangan para santri menuntun ilmu, menjaga nurani, untuk Indonesia dan kemanusiaan.

(Catatan Refleksi Hari Santri Nasional 2025)

Penulis: Rizal Syarifuddin – Dosen Fakultas Teknik UIM – Kandidat Doktor Pada Program Studi Rekayasa Industri Program Doktor FTI -UII Yogyakarta

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *