HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” — (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah — hadis sahih)
Hadis ini menjadi dasar kemuliaan dan kedudukan para ulama dalam Islam. Rasulullah SAW, menegaskan bahwa ilmu adalah warisan paling berharga dari para nabi. Ulama bukan sekadar pengajar agama, tetapi penerus risalah kenabian yang menjaga, menyebarkan, dan menghidupkan nilai-nilai ilahi di tengah umat.
Makna Warisan Kenabian
Warisan kenabian bukanlah harta atau kekuasaan, tetapi ilmu dan akhlak. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” — (QS. Fathir [35]: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa kedalaman ilmu sejati melahirkan ketundukan, bukan kesombongan. Ulama yang benar-benar mewarisi para nabi adalah mereka yang ilmunya menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan menuntun umat kepada kebaikan. Mereka menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kejernihan spiritual, antara rasionalitas dan ketundukan hati.
Warisan para nabi juga berarti tanggung jawab moral. Seorang ulama sejati tidak hanya menafsirkan ayat, tetapi meneladani akhlak Rasulullah dalam keseharian. Ia menjadi panutan dalam kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dan kasih sayang. Dalam dirinya, ilmu tidak berhenti pada kata-kata, melainkan hidup dalam tindakan.
Ulama di Tengah Arus Modernitas
Kehadiran ulama semakin penting di tengah arus modernitas dan disrupsi digital. Di era media sosial, informasi keagamaan menyebar cepat namun sering kali dangkal. Banyak yang merasa cukup belajar agama dari potongan video pendek atau kutipan motivasi daring. Fenomena ini menyebabkan otoritas keilmuan kerap diabaikan, dan masyarakat kehilangan figur rujukan yang mendalam.
Ulama pewaris nabi tidak cukup hanya pandai berbicara atau populer. Mereka adalah penjaga makna di balik teks, bukan sekadar penyampai informasi. Mereka hadir menenangkan, bukan menakut-nakuti; mempersatukan, bukan memecah belah.
Sayangnya, kini muncul kecenderungan sebagian kalangan yang mengukur ulama dari jumlah pengikut, viralitas, atau penampilan. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” — (HR. Ahmad dan Thabrani)
Ulama sejati tidak mencari kemuliaan duniawi, tetapi berjuang agar ilmunya menjadi manfaat bagi umat. Mereka menjadi lentera di tengah kegelapan zaman — mengajarkan agama dengan kelembutan, menegakkan kebenaran dengan hikmah, dan menjadi kompas moral dalam kehidupan masyarakat.
Tanggung Jawab Umat terhadap Ulama
Jika ulama adalah pewaris nabi, maka umat memiliki kewajiban untuk menghormati, mendukung, dan menjaga keberadaan mereka. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” — (HR. Ahmad dan Hakim)
Namun, penghormatan kepada ulama tidak berarti menutup ruang kritis. Umat perlu cerdas dalam memilah, mana ulama yang benar-benar membawa pencerahan dan mana yang hanya memperalat agama untuk kepentingan pribadi. Penghormatan harus disertai dengan kesadaran, bukan fanatisme buta.
Dalam sejarah Islam, ulama berperan sebagai penjaga moral dan pilar peradaban. Imam Malik di Madinah, Imam Syafi’i di Mesir, Imam Al-Ghazali di Persia, hingga Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Indonesia — semuanya menunjukkan bahwa ulama sejati selalu berani menegakkan kebenaran walau berhadapan dengan kekuasaan. Mereka menjaga agar nilai Islam tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menyiapkan Generasi Pewaris Baru
Tantangan besar umat Islam hari ini adalah memastikan regenerasi ulama tidak terputus. Banyak ulama kharismatik yang telah wafat, meninggalkan kekosongan spiritual di masyarakat. Maka pesantren, madrasah, dan universitas Islam harus berperan aktif melahirkan ulama yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Ulama masa depan harus mampu membaca kitab dan membaca zaman sekaligus. Mereka harus memahami persoalan kontemporer seperti teknologi, ekonomi, lingkungan, hingga politik dalam bingkai nilai-nilai Islam. Seperti firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” — (QS. Ali Imran [3]: 104)
Inilah esensi pewarisan kenabian: menyeru kepada kebaikan dan menebar rahmat. Ulama bukan sekadar pengajar hukum, tetapi penjaga nur ilahi dalam kehidupan sosial umat.
Kembali pada Ruh Kenabian
Ulama adalah cermin dari cahaya kenabian. Mereka bukan nabi, namun mengemban ruh pengabdian, keikhlasan, dan kebenaran. Ketika ulama menjaga amanah ilmu dengan tulus, sesungguhnya mereka sedang menjaga warisan langit yang paling berharga. Dan ketika umat menghormati ulama sejati, sesungguhnya mereka sedang menghormati nilai-nilai Rasulullah SAW.
Di tengah dunia yang penuh kegaduhan, kita membutuhkan ulama yang jernih — yang berbicara dengan hati, berpikir dengan hikmah, dan bertindak dengan kasih. Mereka adalah penjaga nur ilmu, penuntun umat, dan jembatan menuju ridha Allah.
Selama ulama sejati masih ada, cahaya Islam tidak akan pernah padam. Sebab seperti sabda Rasulullah SAW:
“Para ulama adalah bintang-bintang di bumi. Jika mereka hilang, maka manusia akan tersesat dalam kegelapan.”
— (HR. Abu Nu’aim, dalam Hilyatul Auliya’)
Penulis: Rizal Syarifuddin – Alumni Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar – Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar