Ini Tingkatan Puasa dan Cara Mendakinya

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Puasa adalah al-imsak, menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan biologis dengan pasangan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan syarat-syarat tertentu, disebut puasa zahir.
Al imsak dalam arti menahan diri dari sifat dan sikap mazmumah (buruk) seperti dusta, hasad dengki, dan perbuatan tercelah lainnya serta mengisi amal shalihah disebut puasa batin.
Puasa zahir merupakan puasa orang awam yang kadar standarnya adalah fiqih. Jika syarat dan rukunnya telah ditepati, sudah sah dan tidak salah sesuai dengan ketentuan fikih yang diukur dengan kapasitas orang awam kebanyakan.
Sedangkan puasa batin, merupakan puasa orang khusus yang tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga akhlak dan perilakunya sehari-hari, sehingga meningkat menjadi puasa yang disebut khawasul khawas.
Itulah puasa batin yang secara khusus-spesifik atau hakikat puasa merupakan puasa orang mukmin sesungguhnya, puasa kaum sufi, para auliya, dan para nabi.
Puasa batin yang demikian tidak cukup hanya dengan memenuhi ketentuan fikih, tetapi juga menjaga konsistensi dalam mengontrol hati dan pikirannya untuk berma’rifatullah secara terus menerus, seoptimal mungkin lidahnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat pujian, subhanallah dan tasbih untuk Allah, shalawatan untuk Rasulullah saw, khatam al-Qur’an di bulan Ramadhan untuk ketenangan hatinya.
Bagi kaum khawasul khawas, puasa bukan sekedar tidak makan-minum pada siang hari tetapi juga lebih mengutamakan mengurangi porsi makan malam di bulan Ramadhan, bahkan mereka juga mengurangi tidur di siang hari dan mengisinya dengan berbagai amalan seperti yang disebutkan tadi ditambah dengan qiyamul lail, yakni salat tarwih secara khusyu’ dan berzikir sebanyak mungkin terutama pada malam ganjil akhir Ramadan menyambut laylatul qadri, suatu malam yang setara dengan seribu bulan.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq
Penulis: Mahmud Suyuti, Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Kajian Islam Aswaja UIM

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *