Opini: Sambut Lebaran dan Ucapkan Kalimat Ini

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Telah beredar pesan berantai dan menjadi viral di media online tentang mengucapkan kalimat minal aidinin wal faaizin tidak berdasar, berbeda dengan kalimat Taqabballahu wa minkum katanya ada dalil, padahal keduanya memiliki dalil masing-masing.
Memang menjelang lebaran hari raya Idul fitri, untaikan kata sekaligus spirit doa yang sering keluar dari bibir seseorang scara langsung atau via medsos adalah Minal A’idin Wal Faa’iziin. Ini tentu ada dalilnya, yakni dari sahabat Nabi Muhammad Saw Abu Bakar secara muttasil dn terdapat dlm buku2 syarah hadis sebagaimana mana Taqabbalallahu minna wa minkum dalam kitab Fath al bari/II:446 bahwa:
كان اصحاب رسول الله صلم اذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنكم
Artinya: Sahabat-sahabat Nabi saw jika bertemu dengan selainnya pada hari raya mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka, riwayat lain wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian)
Itu sbg ‘urf/tradisi di kalangan sahabat, dan dari Abu Bakar adalah
من العئدين والفائزين
Artinya: Minal ‘aidiina wal faizin
Al aidiin dari kata id (id al fitri) yakni kembali ke fitrah. ‘Id sebagai hal keadaan berulang setiap tahun untuk kembali pada kesucian lahir dan batin, sehingga ada juga yang mentradisikan ucapan “Mohon maaf lahir dan batin”, hal iniini seja dengan doa para Khulafa’ al Rasyidin saat khutbah ke 2 Idul Fitri,
اللهم بارك لنا في شهر رمضان واجعلنا من المتقين ومن العائدين و الفائزين وصل علي رسولك الكريم سيد الانام والمرسلين… ا
Allahumma Barik Lana fi Syahri Ramadan wa j’alna minal muttaqin Wa Minal A’idin Wal Faizzina …dst.
Ini semakna dengan taqabbalallah…, karena dengan kembali ke fitrah maka semoga Allah menerima amal kita dan selainnya.
Al Aidiiin dari kata al a’id (العائد) berarti “kembali” fail dari fiil ‘aada (عاد) demikian juga Al faizin dengan majrur jamak muzakkar salim dari al faizu.
Minal aidin wal faaizin (selamat semoga kembali pada kemenangan), kembali suci di hari raya yang fitri ini.
Dgn dalil itu dijadikan pula dasar tradisi “kembali” dalam arti mudik ke kampung saat momen Idil fitri, ke kampung untuk bersua dengan orang tua dan keluarga silaturahim dan meminta maaf shingga benar-benar kembali fitra, suci dari dosa setelah bermaaf-maafan.
Ada teman bertanya, “Apakah mengucapkan selamat idul fitri adalah bid’ah, khawatir kalo saya ucapkan, saya masuk neraka”?
Bagi saya ucapan tersebut tetap semakna dengan kalimat Taqabballahu Minna Wa Minkum dan sesuai konteks maknanya dengan Minal ‘Aidiin Wal Faiziin. Jadi tidak usahlah terlalu jauh untuk sampai pada keraguan bid’ah atau apalah yang membuatmu ragu, selama itu untuk maslahah (kebaikan) dan esensinya untuk syiar Islam, kenapa tidak?
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq
Penulis: Mahmud Suyuti, Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Kajian Islam Aswaja UIM

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *