Opini: Tidak Perlukah Salat Jumat di hari Raya Idul Fitri?

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Tidak Perlukah Salat Jumat di hari Raya Idul Fitri ? Dalil tentang itu antara lain dari Iyas bin Abi Ramlah al-Syami dari ibn al-Zubair berkata sy menemui Muawiyah bin Abu Sufyan dn (pernh) bertanya pd zaid bin Arqam bhw
اشهد مع رسو ل الله صلم عيدين اجتمعا في يوم قال نعم قال فكيف صنع قال صلى ثم رخص فى الجمعة فقال من شاء ان يصلى فليصل
Artinya: Apakah engkau pernah melihat Nabi saw pada kejadian dua salat Id (idul fitri/adha dan hari Jum’at) satu hari? Jawab, ya ! apa yang Nabi saw lakukan saat itu ? jawab, beliau Nabi saw salat id dan memberi keringanan untuk tidak salat jumat, namun bagi yang berkendak silahkan salat jumat. (hadis dari kitab Ibn Majah nomor 1070, Nasai 1952) dan kualitas Hasan Sahih.
Menyikapi hadis tersebut sebagian ulama tidak menganjurkan salat Jum’at tetapi tetap wajib salat zhuhur. Hadis terkait lihat HR Abu Daud, I/647, Ibn Majah 1311, dll dan hadis itu jika dilihat sabab wurudnya, latar belakangnya maka memang Nabi memberi keringanan untuk tidak salat (Jum’at) bagi mereka yang jauh.
Di masa Nabi saw tersebut banyak sahabat yang jauh dari Madinah dan mereka harus tempuh padang pasir yg panas nan tandus membuat mereka lelah kecapekan dengan berjalan kaki, nah apakah mereka harus kembali lagi ke Madinah untuk menunaikan Salat Jum’at yang paginya tadi telah ke Madinah untuk menunaikan salat Id.
Bagi kita sekarang, khususnya umat Islam di Indonesia, tidaklah melelahkan seperti di zaman Nabi yang jika pagi Salat Id kecapekan siangnya untuk menunaikan salat Jum’at, apalagi dewasa ini hampir setiap dusun memiliki mesjid yang jaraknya sangat dekat dari pemukiman warga, tidak seprti menempuh padang pasir jauh berjalan kaki.
Jadi Insya Allah besok, Jum’at 15/06 bertepatan 1 Syawal sebagau hari lebaran selain salat Idul Fitri di pagi hari, maka sebaiknya tetap melaksanaakan salat Jum’at di siang harinya. Ini tentu berlaku umum bagi laki-laki baligh. Bagi perempuan lain lagi ceritanya.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq
Penulis: Mahmud Suyuti, Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Kajian Islam Aswaja UIM

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *