Mei dan Para Guru yang Pergi, An Nahdlah Kembali Berduka

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Bulan Mei selalu datang dengan kenangan yang sulit dijelaskan bagi keluarga besar Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar. Di bulan inilah, satu per satu guru terbaik pergi meninggalkan jejak ilmu, adab, dan pengabdian yang tidak mudah digantikan. Mei seolah menjadi ruang sunyi tempat para murid kembali mengingat wajah-wajah yang pernah menuntun mereka mengenal kehidupan.

Pada Ahad, 17 Mei 2026, kabar duka itu kembali datang. Ust. Bustaman bin Arsyad berpulang ke rahmatullah. Kabar yang membuat banyak alumni, santri, dan masyarakat merasa kehilangan sosok yang selama ini menjadi peneduh, pengarah, sekaligus teladan dalam kesederhanaan hidup.

Beliau adalah alumni An Nahdlah tahun 1995. Namun lebih dari itu, beliau adalah simbol pengabdian tanpa banyak bicara. Seorang imam di Masjid Raya Makassar, Kepala Madrasah Aliyah Layang di Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar, dan guru yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk pendidikan dan dakwah.

Di tangan beliau, Madrasah Aliyah Layang tumbuh menjadi salah satu madrasah yang unggul dan diperhitungkan. Tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam pembinaan akhlak dan kedisiplinan santri. Beliau percaya bahwa sekolah tidak cukup hanya melahirkan siswa pintar, tetapi harus melahirkan manusia yang beradab.

Banyak santri mengenang beliau sebagai sosok yang sangat memperhatikan hal-hal kecil dalam pendidikan karakter. Beliau memahami bahwa kedisiplinan tidak hanya diajarkan lewat pelajaran di kelas, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari. Salah satu kisah yang paling diingat para santri adalah ketika beliau sengaja mendatangkan tukang cukur ke lingkungan madrasah agar rambut para santri tetap rapi.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hal sederhana. Namun bagi beliau, kerapian adalah bagian dari pendidikan akhlak. Beliau ingin para santri tampil bersih, tertata, dan memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri serta lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam urusan potongan rambut, tersimpan nilai pendidikan yang beliau tanamkan dengan penuh perhatian. Tegas, tetapi penuh kasih sayang.

Maka tidak heran jika banyak murid mengenang beliau bukan hanya sebagai kepala madrasah, tetapi sebagai ayah bagi para santri. Sosok yang mungkin tidak banyak berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi diam-diam memikirkan masa depan murid-muridnya.

Dan Mei kembali memperlihatkan hubungan batin yang mendalam antara guru dan murid. Guru beliau, Anregurutta KH. Muh. Sanusi Baco, wafat pada 15 Mei 2021. Sementara pendiri An Nahdlah, Anregurutta KH. Muh. Harisah, wafat pada 20 Mei 2013, tepat pada Hari Kebangkitan Nasional. Dan pada 20 Mei 2026 nanti, keluarga besar An Nahdlah akan memperingati haul beliau yang ke-13.

Tidak lama setelah itu, tepat pada 20 Juni 2026, Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar akan memasuki usia 40 tahun. Empat dekade perjalanan pesantren ini bukan hanya dibangun oleh gedung dan ruang kelas, tetapi oleh pengorbanan para guru yang menghabiskan hidupnya untuk mendidik umat. Dan nama Ust. Bustaman bin Arsyad kini menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan itu.

Ada sesuatu yang terasa begitu emosional dalam rangkaian waktu ini. Menjelang usia ke-40 pesantren, satu lagi guru terbaik dipanggil pulang. Seolah An Nahdlah sedang diingatkan bahwa pondok ini berdiri bukan semata karena bangunan, melainkan karena ketulusan orang-orang yang menjaga cahaya ilmu di dalamnya.

Kini, menjelang haul pendiri pesantren dan milad ke-40 An Nahdlah, salah satu murid dan penerus perjuangannya justru lebih dahulu kembali kepada Sang Pencipta. Seolah rantai perjuangan itu sedang kembali dipertemukan oleh Allah SWT dalam bulan-bulan penuh makna ini.

Ada kesedihan yang sulit diterjemahkan ketika seorang guru wafat. Sebab yang pergi bukan hanya manusia, tetapi juga keteladanan, nasihat, perhatian, dan doa-doa diam yang selama ini menopang banyak kehidupan.

Hari ini, ruang-ruang di Madrasah Aliyah Layang mungkin terasa lebih sunyi. Mimbar masjid kehilangan suara yang biasa memimpin doa. Lorong pesantren kehilangan langkah sederhana yang selama ini menghidupkan suasana. Tetapi guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup dalam ilmu yang diwariskan, dalam akhlak yang ditanamkan, dan dalam murid-murid yang melanjutkan perjuangannya.

Selamat jalan, Guru.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdianmu, melapangkan kuburmu, serta mempertemukanmu bersama para guru dan orang-orang saleh yang engkau cintai.

Dan bagi kami yang ditinggalkan, semoga masih mampu menjaga cahaya yang telah engkau nyalakan di pondok pesantren annahdlah ini.

Penulis: Rizal Syarifuddin – Guru Pondok Pesantren Annahdlah Makassar dan Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *