Anisul Muttaqien: Sebuah Pengantar (Seri 1)

HARIANSULSEL.COM, Palu – Anisul Muttaqien, salah satu karya ulama Nusantara yang mendunia. Syeikh Abdul Samad Alfalembani (1791 M). Dari namanya, dia mengabadikan asal daerahnya; Alfalembani,. Bentuk kecintaan dan kebanggaan dengan tanah leluhurnya, Palembang.

Tradisi ulama dulu sangat luhur. Turun temurun. Mereka sangat bangga dengan tanah kelahirannya. Mencintai bangsa dan negaranya. Selain ulama, mereka juga dikenal sebagai patriotisme. Pejuang melawan penjajah. Tak terkecuali dengan Syeikh Alfalembani. Keulamaan dan jiwa nasionalisme menyatu dalam dirinya. Tidak dipertengtangkan.

Kesohoran Syeikh Alfalembani tidak jauh berbeda dengan tokoh nusantara yang lain. Masalnya Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, Abdul Rauf Assingkili dan Yusuf al-Makassari. Mereka adalah mutiara nusantara pada abad ke 16 sampai 18. Pengaruhnya menggelobal. Menjadi bagian ulama yang disegani di tanah haramaian, Mekkah dan Madinah.

Perjalanan intelektual dan spiritual Syeikh Alfalembani sangat panjang. Dimulai dari bimbingan ayahnya sendiri, Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahab bin Syeikh Al-Hamdani al-Yamani, salah satu ulama besar dan mufti Kedah, 1112 M/1700 H. Dari bimbingan ayahnya, Abdul Samad junior mendapatkan benih-benih pendidikan tasawuf dan ilmu alat yang lain.

Selain ayahnya, geneologi keilmuan beliau dapat ditelusuri dengan sanad ulama Mesir, seperti Ahmad Abdul Mun’in Ad-Damanhuri, syeikh Al-Azhar ke-10 (w.1778M). Selain itu, Syeikh Alfalembani juga berguru pada Syeikh Muhammad As-Samman Al-Madani, Syeikh Abdulrahmadn Abdul Azizi al-Magribi, dan Syeikh Sulaiman al-Kurdi (1715-1780 M). Tokoh itulah yang banyak membentuk dan mempengaruhi keilmuan beliau. Perbaduan antara ilmu syariat dan hakekat. Sampai pada waktunya, Syeikh Alfalembani dikenal sebagai ulama besar yang memperkenalkan tarekat Samaniyah dan Khalwatiyah di Nusantara.

Jejak keulamaan dan kesufian Syeikh Alfalembani terekam dalam karyanya. Baik dalam tulisan berbahasa Arab maupun Melayu. Karya tulisnya cenderung pada kajian tasawuf dan akhlak. Di antara yang sangat terkenal adalah Sairul Salikin ila Rabbil Alamain, penjelasan intisari Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali.

Sementara Anisul Muttaqien sendiri di antara karya beliau dalam bidang akhlak tasawuf. Karya ini yang akan saya kaji bersama santri pesantren Anwarul Quran Palu. Kitab yang aslinya berbentuk manuskrip (tulis tangan). Namun kitab itu telah ditahkik (diverifikasi) oleh Ahmad Lutfi dan dicetak oleh Kementerian Agama, pada tahun 2009.

Kitab tersebut tidak tebal. Hanya memuat lima pembahasan pokok. Sesuai dengan jumlah Rukun Islam. Diawali dengan tema al-gaflah (lupa) dan at-tafakkur (sadar;berfikir dan diakhir dengan at-tawakkal (tawakal) dan al-hirsh (tamak). Namun menurut pembacaan awal saya, sangat menarik. Singkat dan mendalam. Petuah-petuahnya sangat tepat untuk dipahami dan diinternalisasikan oleh generasi saat ini; yang lagi galau, lagi bimbang, saling menghucat. Saling menerkam. Yang berfikir hanya untuk dirinya saja, dan dunia semata. Anisul Muttaqien sendiri bermakna penghibur orang yang bertaqwa. Ramadan Kariem

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *