HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Wahai orang saleh! Ketahuilah bahwa sesungguhnya kelalaian itu adalah rumahnya syaitan. Siapa yang tinggal di dalamnya, maka tidak akan sampai/berjalan kepada Allah, tidak ada obatnya kecuali kematian Ketahuliah, tiap penyakit ada obatnya, dan obat kelalaian itu adalah tafakkur”.
Pada dasarnya kelalaian itu adalah kematian itu sendiri. Demikian kesimpulan sederhana saya dari pernyataan Syeikh Al-Palembani di atas. Artinya, bahwa orang yang dirinya telah tersandara oleh penyakit lalai, pada hakekatnya telah mati. Jasad yang berjalan, hanyalah sebatas jasad yang tidak memiliki ruh ketuhanan.
Orang seperti itu mudah kita jumpai di sekeliling kita. Atau bahkan, mungkin, dalam diri kita sendiri. Tatapannya penuh kebencian. Kata-katanya berbisa. Tangannya kasar dan aniaya. Telinganya bisu. Tak mendengar nasehat dan kebenaran. Hatinya membatu. Sesak dengan penyakit. Iri, kedengkian, egois dan takabbur. Pikirannya penuh siasat dan tipu daya. Hakekat dirinya telah mati. Unsur ketuhanan telah padam dalam dirinya.
Orang seperti itu telah berkongsi dengan sifat-sifat syaitan ataupun hewan (QS. Al-Araf: 179). Bisa jadi disebabkan karena ia telah keluar dari rumah kefitrahannya, dan memasuki rumah syaitan. Kelalaian bagaikan rumah atau penjara syaitan demikian penegasan Syeikh Al-Palembani. Tiap orang yang masuk dan tinggal diam di dalamnya, akan sesat. Tidak akan mampu melihat pintu atau jalan keluar. Semua panca indra telah tertutup; mata, telinga, hati.
Kelalaian manusia telah menutup cahaya kebenaran. Dosa dan kemakisatan yang kita lalukan adalah noda hitam. Sedikit demi sedikit, tapi terus menerus. Tidak terasa dan malah menjadi biasa. Akhirnya menjadi karakter yang tidak bisa terhapus. Berbohong, misalnya, menjadi hal biasa. Korupsi malah merasa bangga. Pelanggaran yang dilakukan tidak lagi membuat dirinya malu. Malu pada tuhan ataupun pada manusia.
Orang seperti telah mati. Mati harga dirinya dan mati rasa sensitivitas dalam dirinya. Inilah kelompok yang dalam Alquran dikatakan orang-orang yang telah dicabut/tarik ubun-ubunnya karena dosa yang dilakukan terus menerus (QS. Al-Alaq: 15). Dalam pada itu, “dicabut ubun-ubun’ dalam tafsir modern adalah hilangnya rasa kepedulian (sensitiitas) seseorang yang ada di otak bagian depan. Biasanya bagian itulah yang bertanggungjawab sebagai alarm ketika manusia melalukan dosa dan kesalahan.
Selain itu, manusia pada dasarnya memiliki fitrah kebaikan (QS. Ar-Rum: 30). Itu adalah given (bekal) bersifat rabbani. Sehingga, kecenderungan manusia pada kemaksiatan telah menyalahi fitrah itu sendiri. Namun dalam kehidupan sehari-hari, godaan itu juga adalah sunnatullah. Kenyataan yang tidak bisa dinafikan. Dalam konteks inilah Allah membekali manusia kekuatan yang paling berharga; akal dan hati. Dengan akal manusia bertafakkur, dengan hati manusia berzikir. Itulah obat dari segala bentuk kelalaian!, tegas Syeikh Al-Palembani. Bersambung
Wallahu A’lam bissawab!
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
