HARIANSULSEL.COM, Makassar – Masih tentang kelalaian (gaflatun). Lalai dalam arti bahasa adalah hilangnya sesuatu dari pikiran (kesadaran) manusia. Atau tidak mengingat (lupa) sesuatu. Tapi dalam konteks nalar sufi, definisi Al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifaat-nya lebih tepat untuk digunakan. Menurutnya “lalai (gaflatun) adalah kecenderungan/ ketergantungan diri kepada sesuatu yang diinginkannya’.
Makna tersebut menggambarkan, secara tersirat, kondisi jiwa yang tidak stabil. Cenderung berlebihan dalam mencintai. Akibatnya, jiwa menagalami kondisi ketergantungan kepada sesuatu yang dicintainya. Pada gilirannya, hal inilah yang membuat seseorang menjadi lalai.
Maka tidak mengherangkan jika Syeikh Al-Palembani secara tegas mengatakan bahwa kelalaian adalah penyakit yang berbahaya. Selain menutup pintu-pintu kebaikan beliau juga mengatakan “bahwa sesungguhnya kelalaian itu adalah kekufuran bagi para salikin (orang yang menempuh jalan spritual) dan kesesatan bagi orang bertaqwa. Sesungguhanya kelalaian melahirkan banyak dosa, dan dosa akan melahirkan kekufuran…”
Sangat dalam. Kelalaian sama dengan kekukufuran. Kelalaian sama dengan kesesatan. Masihkah ada kondisi yang paling hina dan berbahaya dari dua hal tersebut? Tidak ada lagi. Tiap hari kita meminta perlindugan dari kesesatan dan kekufuan.
Namun demikian, kata kekufuran dan kesesatan di sini harus dipahami dalam konteks dunia tasawuf. Ukuran dosa sangat berbeda dengan ilmu syariat. Orang berdosa tidak hanya karena melalukan kemaksiatan seperti korupsi riya, iri dan sombong. Tapi para salikin (sufistik) dianggap melakukan kemaksiatan karena hatinya lalai dari Allah. Hubungan batin dengan Allah terputus. Sebagaimana ungkapan Syeikh Abu Bakar Asysyibli Ash-Shufi bahwa “orang yang lalai mengingat Allah (zikir) walaupun hanya sekejap mata adalah sebuah kesyirikan.”
Narasi-narasi seperti itu, tentu menghentak kesadaran kita. Karena kita semua tidak tahu seberapa banyak kesyirikan dan kelalaian yang kita lakukan. Sangat bermacam-bacam. Yang pasti bahwa kita seakan memutar ulang episode kelalaian umat terdahulu. Baik kelalaian karena kesombongan (Al-A’raf: 146); akal sehat tertutup oleh hawa nafsu (QS. Yunus: 92) maupun karena ketidakberfungian panca indra dan hati karena kilauan dunia (QS. Al-A’raf:179; QS. An-Nahl:108).
Kelalaian seperti itu benar-benar menyata dalam kehidupan dewasa ini. Terlebih lagi di masa-masa pandemi covid-19. Banyak orang lalai karena akal sehat tidak lagi berfungsi. Ada juga karena kesombongan. Demikian pula banyak yang lalai karena tidak bisa memahami kebenaran yang disampaikan oleh para ahli. Mereka tetap tak acuh dengan bahaya virus yang mewabah. Hanya takut kepada Allah, tidak pada virus. Suara ulama dibungkam. Kebijakan pemerintah dilanggar. Dengan dalih bahwa mereka merasa telah menjalankan agama dengan benar. Telah menegakkan syariat Islam.
Padahal, sejatinya tidak. Muhammad Al-Ghazali, ulama mesir, berkata “salah satu kesalahan besar umat Islam adalah tidak bisa membedakan hal yang wajib dan hal yang sunnah”. Senada dengan Ibnu ‘Athaillah bahwa “di antara ciri orang mengikuti hawa nafsunya adalah bersegera melaksanakan kebaikan (yang sunah) dan bermalas-malasan dalam melaksanakan kewajiban”.
Dalam konteks hiruk pikuk pelaksanaan ibadah, semua kondisi, salat berjamaah di masjid itu tetap sunnah, dan mematuhi keputusan pemerintah itu adalah kewajiban.
Maka tidak salah, kemudian Syeikh Al-Palembani mengingatkan kita semua, orang-orang saleh, dengan tegas bahwa “kelalaian itu adalah memabukkan, bahkan lebih berbahaya daripada khamar itu sendiri. Khamar menutup akal sehat, tapi kelalaian menutup kebenaran”.
Jangan-jangan selama ini, kita sudah sering mabuk karena kelalaian, termasuk mabuk dalam beragama itu sendiri!
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
