HARIANSULSEL.COM, Makassar – Setelah mengenal biografi Syeikh Abdus Shamad Al-Palembani, saatnya merenungi pokok pikiran beliau dalam kitabnya, Anisul Muttaqien.
Anisul Muttaqien adalah sekumpulan nasehat Syeikh Al-Palembani kepada orang beriman. Nasehat tentang akhlak. Tentang manajemen hati. Nasehat itu sudah lama, lebih 300an tahun lalu. Konteks masyarakatnya juga mungkin berbeda. Tapi terasa masih sangat segar. Pesannya abadi. Penyakit-penyakit hati dan social yang dibicarakan juga dialami oleh generasi saat ini. Atau bahkan lebih parah (kronis) lagi. Di sinilah keajaiban mutiara hikmah Syeikh Al-Palembani.
Hal lain perlu ditegaskan, bahwa ulasan ini bersifat subyektif. Proses dialog dan penafsiran pribadi tak terelakkan. Apalagi dalam proses penerjemahan pesan itu ke dalam konteks dewasa ini. Namun demikian, untuk menjaga keaslian, saya mengutip langsung teks kemudian memahami sesuai dengan kemampuan, dan tetap berusaha berada dalam nalar tafsir sufistik.
Baik. Dari lima pembahasan utama kitab tersebut, Syeikh Al-Palembani memulai dengan pembahasan al-gaflatu (lupa; lalai). Tentu tidak secara kebetulan. Ada alasan yang mendasari pemilihan tema tersebut. Kenapa bukan tema yang lain?, misalnya. Namun sebelumnya, ada hal menarik untuk dipahami dan dicontoh. Adalah metode penyajian yang digunakan dalam buku ini. Tiap pembahasan beliau selalu memulai dengan uslub (cara) seruan yang penuh kasih sayang; wahai orang Saleh!
Sangat bijak. Ia mengawali dengan sentuhan hati. Penuh kelembutan dan kasih sayang. Tidak mengajak dengan ejekan. Merangkul tidak memukul. Menasehati tidak membuat sakit hati. Beliau berdakwah dengan cinta bukan dengan kebencian. Sebuah metode yang sangat ramah dan memanusiakan. Metode yang terkadang terlupakan dewasa ini.
“Ketahuilah wahai orang Saleh! Lalai adalah sifat yang menutup pintu kebaikan…Dan anda tahu bahwa tidak ada keselamatan seseorang kecuali dengan kebaikan”. Kutipan dari Anisul Muttaqien.
Di sini, kata gaflatun lebih tepatnya diterjemahkan kelalaian daripada lupa. Lalai berbeda dengan lupa. Sekalipun dalam penggunaan bahasa Arab, lupa dan lalai digunakan secara bergantian; gaflatun, nasyan, sahwan dan dzahlan. Namun dalam bahasa Alquran kata itu berbeda. Gaflatun, lupa yang cenderung berkonotasi—
tanpa menafikan makna lain— kesengajaan yang disertai dengan penyepelean dan penolakan (Al-Anbiya: 1).
Berbeda dengan nasiya; yang lebih cenderung pada unsur ketidaksengajaan dan bersifat manusiawi (QS. Al-Baqarah: 286). Sementara kata dzahlan: lupan yang diakibatkan karena kesibukan (QS. Al-Hajj: 2; dan terakhir sahwan: lupa yang terjadi di saat pekerjaan itu sedang berlangsung (QS. Al-Maun: 4-5).
Dengan demikian, pemilihan kata al-qaflah Syeikh Al-Palembani sangat sesuai dengan wawasan Alquran. Kata lalai (gafala-gafilun) itulah yang banyak terekam dalam Alquran. Konteksnya, cenderung menggambarkan sifat/karakter manusia yang terperdaya nafsunya. Ada kelompok yang lalai karena cinta buta terhadap dunia (QS. An-Nahl: 108); ada karena hatinya tertutup oleh hawa nafsu (QS. Al-Kahfi: 28); dan lalai akibat tidak memanfatkan potensi (panca indaa, akal, dan hati) yang diberikan Allah kepadanya (QS. Al-A’raf: 179).
Dalam konteks inilah. Syeikh Al-Palembani menyatakan bahwa kelalaian menutup semua pintu kebaikan. Sementara di akhirat nanti, hanya keimanan dan kebaikan (amal saleh) menjadi kunci kesalamatan (QS. Az-Zalzalah: 6-7. Bersambung. Wallahu A’alam bissawab!
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
