Antara Ilmu dan Makrifat (Seri-16)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Makrifat lebih utama daripada ilmu. Tapi, makrifat tidak mungkin ada tanpa ilmu”. Demikian nasehat Syeikh Al-Palembani.

Ilmu dan makrifat dua kata yang lazim didengar. Terkadang digunakan silih berganti. Istilah epistemologi dalam bahasa Arab, lebih akrab dengan nazariyatul ma’rifah, daripada nazariyatul ilmi.

Sementara, dalam Alquran, Allah menamai diri-Nya dengan al-Aliim (Maha Tahu). Bukan al-Ariif (Maha Mengenal). Bahkan tidak ditemukan dalam Alquran kata makrifah yang dinisbahkan kepada sifat Allah.

Di sisi lain, kaum sufi justru memilih kata arif (al-aarifiin) untuk maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual. Tidak menggunakan kata alim, seperti yang digunakan Allah kepada diri-Nya.

Lantas apa perbedaan keduanya? Kenapa Syeikh Al-Palembani berkata makrifat lebih utama dari ilmu? Kenapa para sufi lebih memilih kata arif daripada alim?

Memahami perbedaan keduanya, harus kembali pada wawasan Alquran dan nalar sufi itu sendiri.
Pertama, dalam Alquran, Allah menisbahkan pengetahuan kepada manusia, baik dengan kata arifa (makrifah) maupun kata alima (ilmu).

Pengetahuan manusia dengan kata makrifat ditemukan dalam (QS. Al-Baqarah: 146)
ٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَعۡرِفُونَهُۥ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمۡۖ

  1. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.

Sementara pengetahuan manusia dengan kata alima (ilmu) dapat ditemukan dalam beberapa tempat, di antaranya: QS. Al-Alaq: 5;
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

  1. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
    QS Al-Isra: 85 :
    وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا
  2. Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
    Dan QS. Ar-rum: 7
    يَعۡلَمُونَ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ غَٰفِلُونَ
  3. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

Melihat konteks ayat tersebut, dipahami hakekat perbedaan kata makrifat dan ilmu. Kata makrifat hanya digunakan pada pengetahuan yang sifatnya zahir (nampak) saja. Sementara kata ilmu dapat digunakan pada keduanya. Baik yang zahir (nampak) maupun yang bathin.

Dalam konteks ini, jika manusia mengetahui hanya aspek luar saja, maka disebut Arif. Tapi, jika mengetahui aspek zahir dan batin dapat disebut alim. Namun demikian, sifat ilmunya (alim) manusia tetap tidak mutlak; ia terbatas (QS. Isra:5), berkat pemberitahuan Allah (QS. Al-Alaq), dan bersifat zahir saja (QS. Ar-Rum:7).

Itulah salah satu rahasia kenapa Allah menamai dirinya, al-Aliim bukan al-Arif. Karena Dia Maha mengetahui hakekat sesuatu secara lahir dan batin secara mutlak. Sementara kata arif lebih pada pengetahuan yang bersifat zahir saja. Dan itu mustahil bagi Allah.

Dengan demikian, disimpulkan bahwa tiap yang alim pasti arif. Tapi, tidak semua yang arif itu disebut alim!

Alim meniscayakan pengetahuan secara hakekat sesuatu. Sementara arif cukup dengan mengetahui sifat saja. Itulah mungkin, kenapa para sufi lebih senang memakai kata arif (makrifah) dalam proses pengenalan Tuhan daripada kata alim (ilmu) sendiri.

Mereka menyadari bahwa Tuhan hanya bisa dikenal melalui makhluk dan sifat-sifat-Nya. Tidak pada hakekat-Nya. Setinggi apapun pencapaian spiritual kaum sufi, hanya mampu sampai pada maqam al-Arifin. Tidak lebih!

Dan menyadari ketidakmampuan (mengetahui hakekat Allah) itu sendiri, adalah makrifat tertinggi bagi al-arifin, kata Abu Bakr al-Warraq.

Itu dalam wawasan Alquran. Lantas bagaimana dalam nalar sufistik? Tunggu seri selanjutnya, Wallahu’ A’lam bishshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *