HARIANSULSEL.COM, Makassar – Tafakkur qurani adalah tafakkur berbasis wawasan Alquran. Konsepsi Alquran tentang tafakkur penting untuk ditengahkan. Bukan hanya karena, terma tafakkur sangat banyak disebutkan dalam Alquran, tapi juga mengindahkan nasehat Syeikh Al-Palembani sebelumnya. Tafakkur tidak selamanya mengantar kepada makrifat, tapi malah kesesatan. Itulah tafakkur salah kaprah, menurut Syeikh.
Lantas tafakkur yang qurani itu seperti apa? Tafakkur yang membawa kepada makrifat itu bagaimana?
Dalam Alquran setidaknya disebutkan sebanyak 17 kali kata tafakkur. Seruan bertafakkur sangat banyak. Objeknya sangat beragama. Mulai dari tafakkur pada penciptaan diri manusia (QS.Ar-Rum: 7). Langit dan bumi dengan fenomenanya (QS. Ar-Ra’du:3). Tumbuh-tumbuhan dengan nikmatnya (QS.An-Nahl: 11). Kisah umat yang lalai dan inkar (QS. Al-Hasyr: 21, Al-Baqarah: 266) sampai pada penundukan alam ini untuk manusia (QS. Al-Jatsiyah: 13).
Semua bentuk tafakkur dalam ayat di atas, mengarah pada satu titik. Menggugah kesadaran manusia yang lalai. Yang keluar dari jalur kebenaran. Juga, menuntun umat manusia agar bertafakkur yang benar. Menuju halte terakhir; yaitu makrifatullah. Halte terakhir para sufi.
Betafakkur dalam Alquran, menurut Imam Al-Razi, dapat dibagi dua bentuk. Tafakkur terhadap al-afaq (semesta) dan al-anfus (diri manusia). Keduanya adalah tafakkur yang yang mengantar manusia pada tauhid (makrifat).
Tafakkur pada semesta melahirkan keimanan. Tanda-tanda kebesaran Allah dalam semesta sangat luas. Mulai dari pergantian siang dan malam. Hujan yang menghidupkan. Tumbuhan yang beraneka warna. Hewan yang bermacam jenis. Semua terjadi dengan penuh aturan dan ukuran masing masing. Orang yang bertafakkur pada fenomena ini akan meresapi kebesaran Allah.
Tafakkur pada diri manusia melahirkan ketundukan. Mulai dari asal, bentuk dan perjalanan manusia penuh dengan rahasia. Sedikit saja, manusia berfikir tentang asalnya, maka dia akan sadar bahwa dia tidak ada yang bisa disombongkan. Sejenak saja ia bertafakkur tentang keindahan dan kesempurnaan penciptaan Allah kepadanya, maka dia malu tersungkur di hadapanya. Akibat kelalaian yang selama ini diperbuat. Namun itulah manusia, masih saja banyak yang lalai dari tafakkur.
Dua bentuk tafakkur di atas masih bersifat material (maddiyah). Prof. Nasaruddin Umar menyebutnya sebagai tafakkur terhadap ayat kosmos dan ayat kosmis.
Berbeda dengan Ar-Razi, Syeikh Al-Qardhawi memperkenalkan dua bentuk tafakkur yang lain. Yaitu tafakkur maknawiyah dan tanziliyah. Tafakkur maknwiyah adalah perenungan terhadap hakekat dibalik sesuatu, seperti rahasia penciptaan manusia berpasang-pasangan (QS.Ar-Rum: 21). Sementara tafakkur tanziliyah, lebih pada tadabbur ayat-ayat Alquran yang yang dibaca dan didengar. Dengannya, akan melahirkan nasehat dan pengetahuan (QS. Al-Baqarah: 266).
Dalam tradisi sufistik, tingkatan (maqam) seseorang yang akan menentukan kualitas dan kedalaman tafakkurnya. Tafakkur yang hanya menggunakan panca indra, hanya mampu melihat yang nampak saja. Dikenal sebagai alam syahadah ataupun alam al-mulki. Mereka ini adalah kelompok awam.
Sementara yang mampu menggabungkan seluruh kemampuan dirinya, baik akal dan hatinya secara bersamaan, akan mampu menembus rahasia rahasia di balik yang nampak. Alam gaib atau alam malakut. Mereka inilah yang disebut Ulul Albab oleh Alquran. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Biqai dan Syeikh Ali Jum’ah.
Dan untuk sampai pada maqam (level) Ulul Albab, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus, dengan cara yang khusus pula. Bersambung…!
Wallahu A’alam bisshawab!
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
