Tafakkur dalam Tasawuf (Seri-5)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Jiwa manusia yang terperdaya oleh rayuan syaitan dan hawa nafsu dikenal dalam Alquran sebagai nafsul ammarah (QS. Yusuf: 53). Nafsul ammarah ada dua macam; kekufuran dan kepasiqan. Jiwa yang kufur adalah jiwa yang telah menutup kebenaran dari Allah secara total; keberadaan-Nya maupun sifa-Nya. Sementara jiwa yang pasiq masih percaya kepada Allah, tapi senantisa larut dalam kemaksiatan. Nafsul ammarah inilah yang dikategorikan oleh Syeikh Al-Palembani sebagai jiwa yang ghafil (lalai).

Kelalaian itu adalah virus hati. Sangat berbahaya. Tidak mewabah melalui sentuhan seperti virus covid- 19, tidak pula menyebabkan korban ribuan nyawa seketika. Tapi, ia lebih ganas dari covid-19. Covid-19 menyebabkan orang yang berkeliaran (berjalan) menjadi mayat. Sementara virus lalai, membuat mayat (jiwa yang mati) masih terus berjalan (berkeliaran). Orang yang mati karena covid-19 dinyatakan sebagai syahid. Tempatnya adalah surga. Tapi, orang yang mati karena atau dalam keadaan lalai, besar kemungkinan, tempatnya neraka jahannam.

Untungnya, tidak seperti covid-19, yang sampai detik ini, obatnya masih misterius. Virus lalai telah ditemukan obatnya oleh Syeikh Al-Palembani. Obatnya adalah tafakkur. Dalam nalar sufi, tafakkur tidak sekedar berfikir sistematis dan logis secara rasional. Tapi lebih dalam lagi. Tafakkur mengandung arti renungan yang mendalam dan intropeksi diri melalui dialog batin dengan hati. Sebagaimana dalam bahasa Syeikh Al-Palembani “bahwa tafakkur adalah nur qalbi (cahaya hati) yang dapat membedakan yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan berbahaya”.

Dalam konteks itu, dapat dipahami bahwa tafakkur itu bukan hanya penalaran rasional saja, tapi perenungan hati untuk mengetahui hakekat sesuatu (Al-Jurjani). Tingkatanya pun berbeda-beda. Sesuai dengan kualitas dan derajat (maqam) seseorang. Dalam tradisi sufistik, tingkatan (maqam) itu terbagi tiga; murid, salik, dan washil.

Murid adalah tingkatan pemula. Tafakkurnya masih dalam proses belajar. Sederhana. Melihat aspek lahiriyah saja. Rasio masih dominan. Sementara salik adalah kelompok yang sedang dalam perjalanan kepada Allah. Tafakkurnya sudah mengabungkan lahir dan bathin, (dzauq) rasa dan rasio mulai seimbang . Dan washil sendiri adalah orang yang sudah sampai kepada Allah. Tafakkur-nya sudah mencapai kasysyaf (mengetahui rahasia Allah).

Dengan demikian, tafakkur sendiri, dalam nalar sufi, bukan tujuan. Dia hanya jalan menuju kesempurnaan. Jalan kepada Allah. Jalan itu terkadang tertutup oleh rumput. Terhalangi oleh duri. Maka dari itu, Imam Al-Ghazali juga sangat menekankan pengtingnya tafakkur bagi orang yang sedang dalam proses perjalanan spiritual. Ia mengibarakan tafakkur sebagai ‘tentara’ hati yang memerangi segala bentuk noda dan dosa yang merusak hati.

Maka tak heran kemudian, untuk mengobati virus lalai, Syeikh Al-Palembani senantiasa menyeru orang saleh agar senantiasa bertafakkur.

“Wahai orang saleh! Sesungguhnya tafakkur tentang akherat menghidupkan hati dan mendatangkan makrifat. Sementara tafakkur tentang dunia akan mematikan hati dan mewariskan kesesatan. Siapa yang sesat, maka hatinya telah mati. Siapa yang hatinya mati, maka ia adalah ‘kudanya’ syaitan.” Bersambung…!

Wallahu A’lam bishsawab!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *