Menjadi Manusia Biasa – 2 (Seri-27)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Masih tentang manusia biasa. Manusia bahagia. Kali ini, dari pandangan Syeikh Al-Palembani. Nalar sufistik. Bukan nalar filosofi teras atau Seneca. Jika terjadi kesamaan, itu tidak kebetulan. Kebahagian sejatinya milik oleh semua orang. Miliki semua agama. Sekalipun pada akhirnya kita sadar, bahwa kebahagiaan itu bertingkat. Ada hakiki ada ilusi.

Tentang kebahagian orang biasa, Syeikh Al-Palembani mengutip kitab suci Nabi Daud; Zabur. Dikatakan bahwa orang cerdas itu membagi waktu empat sesi untuk bahagia. Ada waktu bermunajat kepada Allah. Ada waktu intropeksi diri (tafakkur). Ada waktu berosialisasi. Dan ada waktu membebaskan diri dari kesenangan yang halal.

Pertama, waktu bermunajat kepada Allah. Memohon ampunan dan petunjuk. Agar tidak tersesat dalam mengarungi samudra kehidupan dunia. Ini penting dan paling dasar. Begitu banyak jalan depan mata. Tapi tidak semua lurus. Tidak semua tembus ke jalan Allah. Ada lorong buntu. Ada stapak berliku-liku. Membuat manusia berjalan semakin jauh dari Allah. Tidak lagi tahu jalan kembali. Terperangkap dalam penjara-penjara kehidupan. Di sinilah pentingnya waktu khusus bermunjat kepada-Nya. Memohon bimbingannya. Agar cahaya-cahaya ketuhanan dalam diri terus menyala. Menerangi jalan itu.

Kedua, waktu intropeksi diri. Muhasabah. Dalam bahasa Syeikh Al-Palembani dikenal tafakkur. Tafakkur itu penting, tidak hanya menemukan kefaqiran diri di hadapan Allah, tapi juga memaksimalkan potensi diri. Akal, hati dan nafsu itu sendiri. Ketiganya saling memengaruhi. Tidak bisa dipisahkan, tapi harus dikoordinasikan atau dimenanej dengan arif.

Memenej ketiga potensi itu dengan memahami gizi masing-masing. Akal bergizi dengan berfikir dan bernalar. Hati bergizi dengan zikir dan tafakkur. Sementara nafsu sendiri akan terkontrol oleh akal aktif dan hati yang suci. Nafsu bisa menjadi ammarah bisa juga menjadi mutmainnah (kamilah). Tergangung kebefungsian akal dan hati. Banyak manusia bersifat malaikat, sebagaimana banyak juga orang berisfat hewaniyah. Di sinilah pentingnya intropeksi diri dalam bentuk tafakkur.

Ketiga, bersosialisasi. Sebagaimana dalam filsafat teras, tasawuf juga memahami manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, orang cerdas bukan yang hanya berkutat dengan buku. Bukan hanya sibuk tafakkur, kemudian lalai dengan kehidupan sosial. Bukan. Islam justru melarang kerahiban. Yaitu mengasingkan diri selamanya mengabdi kepada Tuhan.

Tafakkur dalam Islam adalah sangat aktif dan penuh optimism. Tafakur melahirkan transformasi diri untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Itulah yang dicontohkan para nabi dan para sufi (wali). Setelah tafakkur, mereka hadir memberi solusi dengan pikiran yang cemerlang. Bahkan mereka tidak sedikit ikut berperang mempertahankan tanah airnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Syeikh Al-Palembani.

Keempat, waktu terbebas dari kesenangan yang halal. Poin terakhir ini tidak berarti meinggalkan kesenangan yang halal secara mutlak. Tapi lebih pada kontrol diri. Menikmati sewajarnya. Sesuai dengan kebutuhan. Tidak berlebih-lebihan. Karena berlebihan pada kesenangan yang halal, akan membuat diri semakin melekat dengan kesenangan itu. Semakin melekat, semakin susah terpisah.

Padahal itu hanya sementara. Hanya perantara menuju kesenangan abadi. Itulah kenapa dalam nasehat-nasehat Syeik Al-Palembani banyak menyeru pada sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bergaul untuk menuju makrifat. Adalah cara untuk mengurangi kemelekatan diri. Karena, menurutnya, kemelekatan dengan yang halal adalah pintu jalan menuju kelalaian hati.

Dan Ramadan kali, di tengah Pandemi Covid-19, kesempatan besar untuk melakukan empat hal di atas. Memperbanyak munajat, membiasakan tafakkur, mempererat hubungan dengan kepedulian dan menahan diri dari yang halal. Semoga dengannya, kita tetap menjadi manusia biasa yang bahagia!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *