HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Bismillah. Dengan nama Allah”, Kata itu menghebokan sejagad Mesir. Mengguncang Istana Fir’aun. Amarah Fir’aun pecah seketika. Naik pitam. Suara amukan terdengar di seluruh sudut istana. Seakan ingin menelan seluruh isinya. Permaisuri ketakutan. Para Algojo kebingunan. Lari terbirit-birit. Baru kali ini, Fir’aun sangat marah. Ketuhanannya dilecehkan oleh seorang perempuan. Pembantunya sendiri. Siti Masyitah. Tukang sisir putrinya.
Bismillah. Kata itu terucap ketika mengambil sisir yang jatuh. Putri Fir’aun bertanya keheranan. Adakah tuhan selain bapakku, Fir’aun?, tanyanya kepada Masyitah.
“Ia, dialah Tuhanku. Allah Yang Esa.
Sungguh berani. Siti Masyitah mendeklarasikan tuhannya. Meyakini tuhan, selain Fir’aun. Dia sudah pasti tahu konsekuensinya. Nyawa taruhannya. Fir’aun pasti membunuh semua orang yang menentang ketuhanan dirinya. Tak terkecuali Siti Masyitah.
Siti Masyitah diseret paksa keluar istana. Bersama beberapa anak kecilnya. Termasuk bayi yang masih menyusui. Para algojo telah menyalakan api. Membakar minyak di atas bejana besar. Mendidih kepanasan. Disaksikan seluruh penduduk istana dan rakyat. Pelajaran bagi yang menentang Fir’aun.
“Wahai Masyitah, apakah masih ada tuhan selain Firaun?, Tanya Algojo sambil menarik paksa anak pertama Masyitah untuk dilemparkan ke dalam minyak yang mendidih itu.
“Bismillah, Allahu Rabbi.” tegas Masyitah merelakan kepergian anak pertamanya ditelan minyak yang panas.
“Wahai Masyitah, masikah kau tetap pada keyakiananmu?, desak Algojo sambil menyeret anak kedua untuk dilempar ke dalam kobaran api.
“Bismillah, Allahu Rabbi.” Air mata meleleh, tapi keyakinannya semakin kokoh. Semakin menghujam dalam batinnya. Allah lebih ia cintai daripada semuanya.
Sampai pada akhirnya, tiba giliran anak terakhir. Seorang bayi yang suci. Masih merah, menyusui. Pilihan paling sulit. Air mata Siti Masyitah tumpah. Naluri keibuannya membuncah. Tak kuasa. Bayi yang tak bersalah itu harus ikut menanggung perihnya di tangan Firaun.
“Wahai Ibu, sabarlah dalam kebenaran! (isbirii ala al-haq)”.
Kuasa Allah, bayi itu tiba-tiba berbicara. Menguatkan hati ibunya. Agar tetap dalam keyakinannya. Sabar merelakan semua anak yang dicintainya. Siti Masyitah pun rela, mengikhalaskan kematian anaknya. Demi keyakinan, Lailaha illallahu.
Kisah di atas, terekam dalam perjalanan mikraj Nabi Muhamad Saw. ke sidratul muntaha. Dalam perjalanan, beliau mencium aroma yang sangat wangi dari surga. Dan ternyata itulah aroma Siti Masyitah. Wanita sabar dan kokoh mempertahankan keyakinannya di hadapan Firaun. Bayinya tercatat satu di antara anak kecil yang bicara. Selain Nabi Isa, saksi nabi Yusuf, dan bayi dalam kisah Juraij.
Hari ini, menjadi Masyitah mungkin tidak mudah. Apalagi Alquran mentolerir menyembunyikan keimanan dalam kondisi darurat (QS. An-Nahl: 106). Sebagaimana yang dialami oleh keluarga Yasir dari siksaan orang kafir Qurasih.
Namun, ada dua hal perlu dicatat: Pertama, Masyitah adalah profil manusia tangguh. Istiqamah dalam keyakinan. Tidak kemudian menjadikan agama sebagai tameng demi kepentingan pribadi. Atau menukarnya dengan dunia. Kedua, tentang kesabaran. Sabar adalah sandaran orang beriman. Kunci kebahagian. Sabar dalam ibadah. Maupun Sabar terhadap musibah.
Hidup ini sendiri adalah ujian. Musibah adalah sunnatullah. Namun, hakekat musibah untuk menguatkan. Bukan melemahkan. Musibah itu mendidik. Bukan menyakiti. Musibah itu mendekatkan diri kepada Allah. Bukan menjauhkan. Itulah pesan Syekh Al-Palembani kepada orang beriman. Termasuk musibah pandemi Covid-19.
Sabar tidak berarti pasrah. Sabar adalah kekuatan jiwa dalam menghadapi segala cobaan dan godaan. Baik dari nafsu, syaitan, shahwat maupun dunia. Empat hal itulah menurut Syeikh Ali Jum’ah godaan berat bagi manusia. Dan yang paling tinggi adalah nafsu itu sendiri yang ada dalam diri.
Banyak orang yang sabar dan lulus dari ujian kekurangan dan kematian. Tapi lebih banyak orang tidak lulus dari ujian kecukupan dan kehidupan. Itu karena tidak sabar terhadap nafsu.
Sabar terhadap nafsu adalah kemampuan mengelolahnnya ke arah positif. Melakukan penyucian, agar terus meningkat ke level yang sempurna. Atau mengontrolnya akar tidak dominan. Sehingga, jiwa mampu memikirkan yang dapat dikontrol. Mengekang angan-angan tak wajar. Sehingga tercipta kelegaan dan kebahagiaan. Berdamai dengan diri.
Itulah kecerdasan hakiki dalam nasehat Syeikh Al-Palembani.
“Orang cerdas itu adalah sabar terhadap bala (musibah), karena bala (musibah) adalah lentera bagi orang berakal, petunjuk bagi pencari kebenaran, dan penghibur hati orang saleh.”
Wallahu A’alam bishawab!
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
