Faqir dalam Kitab Anisul Muttaqien (Seri-32)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pertemuan itu berakhir. Para rombongan nasrani Najran segera meninggalkan masjid nabawi. Rasulullah Saw. mengiringi kepergian mereka sampai di luar. Penuh pernghormatan kepada tamunya.

Selama lawatan itu berlangsung, keramahan di antara mereka sangat nampak jelas. Sesekali tawa dan canda terdengar meriah. Percakapan mereka sangat cair. Tidak saling mencurigai. Apalagi membenci. Penuh kehangatan disertai rasa persaudaraan.

“Jika suatu saat nanti aku ingin menemui Anda lagi. Di mana aku bisa menjumpaimu?”. Tanya salah seorang dari rombongan itu kepada Rasulullah dengan penuh rasa takdzim.

“Carilah aku di tengah-tengah mereka yang hatinya luka, yang tersisihkan, yang sepi, yang terlunta.” Jawab Rasulullah sambil melepas kepergian mereka.

Kisah di atas, terinspirasi dari catatan Abah Kiai Husein Muhammad. Salah seorang tokoh yang sangat menginpirasi, khususnya dalam isu-isu kemanusian. Kisah itu beliau singgung dalam tulisan Tasawuf Underground.

Kisah di atas mengandung sarat makna. Tergantung sudut pandang melihatnya. Dalam tulisan ini, kisah itu ditekankan pada keutamaan orang faqir. Bahwa rasulullah sangat dekat dengan orang lemah. Mereka yang, terkadang, termarginalkan dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun politik. Baik karena struktural maupun kultural.

Kefaqiran dalam kehidupan ini adalah sebuah kenyataan. Atau mungkin sunnatullah. Allah menguji kesabaran seseorang dengan kekurangan. Sebagaimana Allah menguji rasa syukur dengan kekayaan. Keduanya sama-sama ujian. Keduanya berpotensi mengantar seseorang menjadi mulia. Atau sebaliknya, menjadi hina.

Dalam konteks tulisan ini, kefaqiran yang disanjung Alquran adalah mereka yang bersabar dengan kekurangan. Merasa cukup apa yang Allah tetapkan untuknya. Tidak merendahkan dirinya dengan meminta-minta. Juga tidak dengan cara mencuri atau korupsi. Justru mereka semakin khusyuk beribadah karena dirinya hanya sibuk dengan Allah. Tidak disibukkan dengan berbagai urusan lain.

Dalam sejarah kenabian, orang faqir seperti itu juga termasuk orang yang paling setia menemani para nabi. Ketika nabi Nuh mendapat ejekan dari para elit umatnya (al-mala), justru yang bertahan mengimaninya adalah orang-orang lemah. Faqir dan miskin. (QS. Hud: 27). Begitupun dalam sejarah dakwah Rasulullah Saw. di saat kebanyakan orang elit mekkah menolaknya dakwah, justru orang faqir berbondong-bondong mendukungya. Masuk Islam.

Maka dari itu, mencitai mereka adalah kemuliaan. Salah satu kunci pintu di surga. Risalah Alquran dan hadis sangat banyak menyeru untuk membersamai mereka (QS. Al-Hasyr: 8; Al-Baqarah; 273). Sebagaimana larangan untuk menelantarkan mereka juga tidak sedikit (QS. Al-Ma’un: 1-3).

Rasulullah saw. pun pernah mendapat teguran karena abai dengan seorang tuna netra. Ketika itu, beliau mengajak Islam kepada pemuka Quraish, lantas Ibnu Ummi Maktum, seorang tua buta, datang memotong pembicaraan mereka. Muka Rasul sedikit berpaling. Masam. Akhirnya turun QS. Abasa: 1-10 sebagai teguran.

Jika Rasulullah Saw., orang yang paling sempurna akhlaknya ditegur hanya karena bermuka masam, lantas bagaimana dengan kita yang tidak peduli sama sekali kepada mereka? Jusrtu cenderung mengeksploitasi ketidaberdayaan mereka yang lemah, faqir dan miskin di jalan raya?

Maka cukup nasehat Syeikh Al-Palembani untuk direnungkan bersama:

“Ketahuilah bahwa kefaqiran itu adalah kemuliaan dari segala kehormatan, Allah tidak memberi kemuliaan itu kecuali para nabi dan orang yang dicintainya. Rasulullah bersabda: cukup kebanggaan saya bersama dengan para orang faqir!”

Wallahu A’lam bishsawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *