HARIANSULSEL.COM, Makassar – Abdullah bin Amr bin Ash sedikit kecewa. Sudah tiga malam menginap di rumah orang Ansar itu, namun tidak menemukan jawaban. Amalan orang Ansar itu biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Banyak sahabat lain jauh lebih saleh. Tidak seperti ekspektasinya. Sebagai ahli surga.
Ibadah orang Ansar itu normal saja. Tidak salat tahajud. Tidak pula puasa sunnah di siang hari. Seperti orang pada umumnya. Tidak salat kecuali yang wajib saja. Tidak seperti ahli ibadah yang salat sepanjang malam. Tidak juga termasuk ahli zikir, yang lisannya terus bertasbih. Tidak pula termasuk orang zahid, yang membenci harta. Demikian yang disaksikan langsung oleh Abdullah bin Amr.
Namun, Abdullah bin Amr juga masih terkesan peristiwa beberapa hari lalu. Di saat para sahabat berkumpul di masjid di Madinah. Dihadiri sejumlah sahabat ternama seperti Abu Bakar dan yang lain. Tiba-tiba Rasulullah Saw. berkata kepada mereka.
“Sebentar lagi, akan muncul/lewat di depan kalian ahli surga”
Para sahabat saling memandang. Menunggu siapa orang yang paling beruntung itu. Jaminan surga dari Rasulullah. Janji yang pasti kebenarannya. Anugrah dari Allah tentunya.
Tak lama kemudian, seorang lelaki tua muncul dari pintu masjid. Tidak ada yang mengenalnya. Orang tua itu masuk dengan menjijing sandal jepitnya. Janggotnya basah dengan air wudhu. Penampilannya sangat biasa. Sederhana.
Awalanya, para sahabat meragukan. Masa iya orang itu ahli surga. Bukannya para pembesar yang ada di tengah mereka itu lebih pantas darinya? Demikian batin sebagian mereka.
Namun, tiga hari berturut-turut, Rasulullah terus menyampaikan hal yang sama. Seorang ahli surga akan lewat di depan mereka. Dan orang yang muncul dari pintu masjid itu adalah orang yang sama. Orang Ansar itu yang penampilan dan ibadahnya biasa-biasa saja.
Akhirnya, Abdullah bin Amr terus terang, beberapa saat sebelum pamit meninggalkan rumah itu.
“Wahai sahabatku! Amalan apa yang engkau miliki sehingga Rasulullah menjamin surga untukmu?”, tanya Abdullah bin Amr yang masih sangat penasaran.
“Apa yang engkau saksikan wahai sahabatku, ibadahku tidak lebih dari itu?”, orang Ansar itu menjawab dengan penuh tawadhu, sembari keheranan dijamin surga oleh Rasul.
“Tidak mungkin, pasti ada yang lain,” kembali Abudullah bin Amr sedikit mendesak.
“Selama hidupku, saya tidak pernah memejamkan mata, kecuali berdoa sebelum tidur. Mendoakan keselamatan seluruh saudara dan tetanggaku. Serta memaafkan seluruh dosa (dengki, iri hati) mereka kepada saya.”Lanjut orang Ansar itu mengenang wirid saderhana yang ia lakukan selama ini.
Abdullah bin Amr pun terperanjat. Menemukan jawabannya. Wirid itulah sebagai wasilah, kunci surga baginya. Memaafkan tiap malam. Melebihi amalan yang lain. Allah sangat mencintai kebaikan kecil namun konsisten. Demikian dalam hadis.
Di suasana hari Raya Idul Fitri, saling memaafkan adalah ajaran rutin dilakukan seluruh umat Islam. Orang Indonesia lebih mengenalnya dengan halal bil halal. Baik secara langsung. Cipika cipiki, salaman ataupun tidak langsung melalui Whatsapp. Facebook. Semuanya itu sah dan berpahala.
Namun penghuni surga itu mengajarkan lebih dari pada itu. Halal bil halal, menurutnya, bukan sebatas salaman, ucapan lisan dan tulisan. Bukan pula musiman; hanya pada hari raya saja. Tapi, Halal bil halal sejatinya sepanjang masa. Tidak terikat waktu dan tempat. Tiap saat, hati harus terus terbuka untuk saling memaafkan. Saling mendoakan kabaikan.
Dan di masa pandemi Covid-19 saat ini, wirid orang Ansar itu sangat tepat untuk diamalkan. Saling memaafkan dan mendoakan dari jauh. Sekalipun fisik tidak bertemu, tap hati selalu saling merindu. Tidak ada dengki, iri dan benci. Itulah jiwa fitri. Jiwa orang bartaqwa. Penghuni surga. (QS. Al-Imran: 143).
Wallahu A’lam Bisshawab
Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu
