Tangisan Sahabat Abu Bakar (Seri-30)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq tersungkur sedih. Menyesali dirinya yang lalai. Air mata mengalir. Membasahi pipi. Jenggotnya basah kuyup. Doa ia panjatkan dengan kekhusyuan. Kehadirat Yang Kuasa. Hening dalam tafakkur. Memohon ampunan dan petunjuk-Nya.

“Wahai sahabatku! Kenapa engkau menangis?” seorang sahabat menghampirinya, keheranan.

Abu Bakar masih terus menangis. Duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Mencoba menenangkan diri. Memungut kekuatan yang terserak. Seraya mengusap derai air mata.

“Bagaimana mungkin saya tidak manangis. Saya sedang dalam perjalanan yang sangat jauh, sementara bekalku hanyalah sedikit.” Jawab Abu Bakar sembari menghelai nafas sedalam-dalamnya.

Perjalanan jauh yang dimaksud Abu Bakar adalah akhirat. Halte terakhir semua perjalanan manusia. Dunia ini hanyalah transit. Singgah sementara. Mengisi bahan bakar. Bekal hidup di alam akhirat. Kehidupan di sana tergantung persiapan di dunia. Kaya atau miskin. Bahagia atau sengsara. Tergantung amal. Risalah Alquran dan hadis tentang itu cukup banyak. Bertebaran.

Itulah yang membuat Abu Bakar menangis. Merasa dirinya masih sangat miskin persiapan. Kurang bekal dan investasi untuk perjalanan itu. Padahal siapa yang tidak kenal Abu Bakar? Salah seorang sahabat yang kaya dan dermawan. Loyalitas terhadap Agama tidak diragukan. Semua sahabat mengakui hal itu. Bahkan iri kepadanya. Tak terkecuali sahabat Umar bin Khattab.

Suatu ketika, keduanya bertemu di hadapan Rasulullah Saw. Umar sangat antusias. Kali ini ia sudah menyiapkan waqaf terbesar untuk agama Allah. Mungkin saatnya, ia mampu mengungguli Abu Bakar dalam kedermawanan. Demikian pikirnya seraya meminta Rasulullah sebagai saksi.

“Berapa besar engkau waqafkan untuk agama Allah, wahai Umar?” tanya Rasul kepada Umar yang sudah tidak sabar lagi.

“Seperdua harta kekayanku, saya waqafkan untuk agama Allah.” Tegasnya dengan sangat yakin dan percaya diri. Kali ini ia bisa mengalahkan Abu Bakar di hadapan Rasul. Harapnya.

“Terus, bagaimana dengan engkau, wahai Abu Bakar?” giliran Abu Bakar yang ada di samping Umar.

“Semua kekayaanku, saya waqafkan untuk agama Allah. Cukup Allah dan Rasulullah bagiku dan keluargaku.”

Jawaban Abu Bakar membungkam sahabat Umar. Terdiam. Tak bisa berkata-kata. Ini yang kesekian kalinya, kalah telat dari sahabatnya, Abu Bakar. Rasa takjub dan hormat kepadanya semakin tinggi.

“Sungguh engkau orang paling dermawan di antara kami, wahai sahabatku, Abu Bakar .” Umar menyanjungnya dengan tulus.

Dashyat! Jika Abu Bakar sedermawan itu masih menangis takut. Merasa masih sangat minim persiapan untuk akherat. Lantas bagaimana dengan kita semua?

Pernahkah diri ini menangis seperti Abu Bakar? Akankah kita mau mencontoh Umar bin Khattab? Berlomba dalam kebaikan.
Tidak usah semua kekayaan seperti Abu Bakar. Tidak usah seperdua seperti Umar. Cukup dua koma lima percent saja tiap bulan. Pembersih dari segala kotoran (syubhat). Itulah yang pasti kita miliki. Investasi di akherat. Selebihnya belum tentu.

Jiwa muttaqien itu adalah dermawan. Senantiasa peduli berbagi. Untuk agama maupun kepada yang membutuhkan. Baik di kala susah maupun senang. Baik di kala kaya maupun miskin. Baik di kala Ramadan maupun di luar Ramadan (QS Al-Imran; 134). Tetap istiqamah.

“Karena orang yang membutuhkan itu, bukan hanya ada pada bulan Ramadan saja, sebagaimana pahala berlibat ganda itu tersedia sepanjang masa”.

Wallahu A’lam bisshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *