HARIANSULSEL.COM, Maros – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bantimurung, menggelar silaturahim dan konsolidasi kader di Warkop Sampeang, Lingkungan Tompobalang, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Jum’at (21/1/2022).
Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Bantimurung, Rustam Sahab mengatakan lewat momentum silaturahmi hari ini kami bersepakat membentuk kepengurusan Majelis Dzikir & Sholawat (MDS) Rijalul Kecamatan Bantimurung serta rencana kegiatan kaderisasi yakni Pelatihan Kepimpinan Dasar (PKD) Angkatan I, InsyaAllah bulan Juni 2022.
Alhamdulillah, setelah melalui diskusi yang santai dengan penuh persahabatan, kami semua bersepakat mengamanahkan Sahabat Ustad Kammas untuk memimpin MDS Rijalul Ansor Kecamatan Bantimurung, jelasnya.
Rustam melanjutkan, dengan terbentuknya kepengurusan MDS Rijalul Ansor Kecamatan Bantimurung, yang di Ketua oleh Ustad Kammas yang notabene adalah Muballig sekaligus penyuluh di Kementerian Agama Kab. Maros, maka pengajian, amaliyyah dan syiar Islam Ahlusunnah Wal Jamaah Annahdliyah bisa digalakkan.
Kami kader Ansor dan Banser di Kecamatan Bantimurung ini bisa senantiasa terus mengaji atau belajar ilmu-ilmu agama Islam kepada Ulama atau Kiyai yang ada di wilayah ini, melalui kegiatan yang akan dirancang dan organisir oleh MDS Rijalul Ansor Bantimurung ini, jelasnya.
Aqidah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah menjadi Aqidah mayoritas masyarakat Bantimurung, sehingga kehadiran PAC GP Ansor Bantimurung dan MDS Rijalul Ansor Kecamatan Bantimurung maka kegiatan atau amaliyah yang menjadi ciri khas warga nahdliyin bisa senantiasa digelar bersama dengan masyarakat, katanya.
Aqidah Aswaja Annahdliyah ini akan tegak, terjaga dan terus berkembang jika pemuda NU bangkit dan bergerak bersama masyarakat dengan terus menggalakkan kegiatan atau amaliyah-amaliyah warga NU yang selama ini sudah dijalankan oleh mayoritas masyarakat Bantimurung.
Amaliyah warga NU adalah tradisi yang baik dan harus dipertahankan, antara lain seperti, Ziarah Kubur, Dzikir dan Sholawat Bersama, Yasinan dan Tahlilan, Maulidan, Peringatan Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan lain sebagainya, meskipun oleh sebagian kelompok di dalam Islam selalu menstigma amaliyah-amaliyah tersebut sebagai sesuatu bid’ah yang sesat.
Kita bentengi akidah ummat yang mayoritas ini dengan menjalankan semua amaliyah-amaliyah tersebut dengan memberi landasan dalil-dalil naqli maupun aqli yang membolehkan bahkan mensunnahkan itu semua, tandasnya. (and/hariansulsel)
