HARIANSULSEL.COM, Maros – Di tengah guyuran hujan deras sebanyak 52 kader baru Banser Maros yang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Angkatan ke-I di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Maccopa, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros dinyatakan lulus dan setelah mengikuti proses pengukuran atau pembaiatan, sabtu malam (15/01/2022).
Dalam amanatnya selaku pembina upacara pengukuhan kader Banser Maros, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Maros, Abrar Rahman menyampaikan, empat konsep ajaran Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) yang digunakan oleh lembaga NU tersebut yakni memiliki empat prinsip dasar, serta menjadi ciri khas warga NU yakni, tawassuth, tasamuh, tawazun dan amar ma’ruf nahi mungkar.
“Pertama, Tawassuth atau moderat, adalah sebuah sikap keberagaman yang tidak terjebak pada hal-hal yang sifatnya ekstrem,” katanya.
Kedua, Tasamuh adalah sikap menerima dan menghargai keberagaman dalam masyarakat dengan menerima semua realitas kehidupan sebagai suatu yang beragam, karena itu sudah merupakan sunnatullah.
Ketiga, Tawazun atau seimbang, yakni sikap keseimbangan keberagaman dan kemasyarakatan, yang bersedia menghitungkan berbagai sudut pandang, dan kemudian mengambil posisi yang seimbang dan proporsional, senantiasa menggunakan secara seimbang dalil naqli dan dalil aqli.
“Prinsip dasar yang terakhir yakni, Amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, lanjut kader Wakil Ketua IKA PMII Kabupaten Maros ini,” katanya.
Ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah merupakan benteng akidah amaliah warga NU. Tantangan besar yang dihadapi warga NU, yaitu mewaspadai dan menghadapi beberapa aliran takfiri yang akhir-akhir ini mulai berkembang.
“Aliran-aliran ini berpotensi memecah belah persatuan kita sebagai bangsa yang utuh. Bahkan jika dibiarkan bisa menyebabkan chaos sosial yang berakibat perang saudara,” katanya.
Karena itu, kader Ansor dan Banser Maros harus cerdas, militan serta terpimpin untuk terus berkhidmat atau berperan ditengah-tengah masyarakat dengan jati diri sebagai kader muda Nahdlatul Ulama yang moderat dan toleran, jelasnya.
Kader Banser juga diharapkan untuk terus menyebarkan faham aqidah ahlusunnah wal jamaah melalui media sosial sebagian upaya mengedukasi atau mencerdaskan ummat agar tetap tercerahkan ditengah era disrupsi informasi seperti saat sekarang ini, tandasnya. (and/hariansulsel)
