HARIANSULSEL.COM, Makassar – KH Kholil Bangkalan adalah salah satu ulama besar yang menjadi panutan dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Lahir di Bangkalan, Madura, beliau dikenal sebagai ulama ahli fikih, tasawuf, dan pengajar yang mencetak banyak tokoh besar, termasuk KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Pemikiran pendidikan KH Kholil tidak hanya berpengaruh di Madura, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Melalui tradisi pesantren, beliau mengajarkan pendidikan yang menitikberatkan pada keilmuan agama, penguatan akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam pandangan KH Kholil, tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Beliau percaya bahwa pendidikan harus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter spiritual dan moral.
Salah satu kontribusi terbesar KH Kholil adalah penguatan sistem pendidikan pesantren. Pesantren, menurut beliau, adalah institusi yang ideal untuk mendidik generasi Muslim yang berilmu, mandiri, dan berakhlak. Di pesantren, para santri diajarkan untuk menghayati nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari melalui pembelajaran kitab kuning dan praktik ibadah.
KH Kholil menempatkan kitab kuning sebagai inti dari kurikulum pesantren. Kitab-kitab ini mencakup berbagai disiplin ilmu agama, seperti fikih, akidah, tasawuf, dan tafsir. Beliau percaya bahwa penguasaan kitab kuning adalah kunci untuk memahami ajaran Islam secara mendalam. Dengan pendekatan ini, beliau mencetak santri yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang mendalam dan menyeluruh.
Selain ilmu agama, KH Kholil juga menekankan pentingnya pengajaran akhlak. Beliau berpendapat bahwa ilmu tanpa akhlak tidak akan membawa keberkahan. Oleh karena itu, pendidikan yang beliau ajarkan selalu dilandasi dengan nilai-nilai moral, seperti kejujuran, kesabaran, dan penghormatan kepada guru. Pendidikan akhlak ini menjadi salah satu ciri khas pesantren yang beliau kembangkan.
Pentingnya adab dalam menuntut ilmu juga menjadi perhatian KH Kholil. Beliau mengajarkan bahwa seorang murid harus menghormati gurunya dan belajar dengan penuh kesungguhan. Menurut beliau, keberhasilan seorang murid tidak hanya bergantung pada kecerdasannya, tetapi juga pada adabnya dalam menuntut ilmu.
KH Kholil juga memiliki pandangan yang progresif terhadap pendidikan perempuan. Beliau mendukung pendidikan bagi perempuan dengan tetap menjaga nilai-nilai Islam. Menurutnya, perempuan yang terdidik akan mampu mendidik generasi penerus yang lebih baik. Hal ini menunjukkan kepedulian beliau terhadap pentingnya peran perempuan dalam pendidikan keluarga dan masyarakat.
Dalam konteks keilmuan, KH Kholil menekankan pentingnya sanad atau jalur transmisi ilmu. Beliau percaya bahwa ilmu yang diperoleh harus memiliki keterhubungan dengan guru-guru yang memiliki otoritas keilmuan. Dengan sanad yang jelas, keilmuan yang diajarkan di pesantren tetap terjaga kemurniannya dan tidak menyimpang dari ajaran Islam.
Sebagai seorang ulama yang hidup di masa penjajahan, KH Kholil juga memandang pendidikan sebagai alat untuk membangun semangat kebangsaan. Beliau menanamkan nilai-nilai cinta tanah air kepada para santrinya. Pendidikan menurut beliau tidak hanya bertujuan untuk membentuk individu yang saleh, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab dan berkontribusi bagi bangsa.
Selain fokus pada pendidikan agama, KH Kholil juga mendorong pengembangan keterampilan hidup di pesantren. Beliau menyadari bahwa santri perlu dibekali dengan keterampilan praktis agar dapat mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada kehidupan akhirat, tetapi juga pada kebutuhan duniawi.
KH Kholil juga menanamkan nilai-nilai toleransi dalam pendidikan. Beliau mengajarkan para santrinya untuk menghormati perbedaan dan hidup berdampingan dengan damai. Nilai-nilai ini sangat relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk.
Metode pengajaran KH Kholil sangat personal dan penuh perhatian. Beliau dikenal sebagai guru yang dekat dengan santrinya. Interaksi yang erat antara guru dan murid ini menciptakan suasana belajar yang kondusif dan penuh kehangatan. Hubungan ini tidak hanya sebatas pengajaran ilmu, tetapi juga pembinaan akhlak.
Dalam pengajaran spiritual, KH Kholil menekankan pentingnya ibadah dan dzikir. Beliau percaya bahwa pendidikan spiritual adalah elemen penting yang harus diperkuat di pesantren. Dengan spiritualitas yang kokoh, santri akan memiliki landasan moral yang kuat dalam menjalani kehidupan.
KH Kholil juga mendorong keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dari luar. Beliau percaya bahwa umat Islam harus terus belajar dan berkembang agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Dengan tetap menjaga identitas keislaman, umat Islam dapat mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan modern.
Sebagai tokoh pendidikan, KH Kholil tidak hanya mengajar di pesantren, tetapi juga berdakwah kepada masyarakat. Beliau memandang dakwah sebagai bagian dari pendidikan yang bertujuan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada khalayak luas. Dakwah ini menjadi sarana untuk memperluas jangkauan pendidikan yang beliau gagas.
KH Kholil juga menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif. Menurutnya, pendidikan harus dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Dengan pendidikan yang inklusif, semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Sebagai tokoh yang visioner, KH Kholil memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi umat Islam. Beliau percaya bahwa pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi penerus yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Oleh karena itu, beliau selalu mendorong pengembangan pendidikan yang berorientasi pada kemajuan umat.
Pada dasarnya,
pemikiran pendidikan KH Kholil Bangkalan menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama, akhlak, dan keterampilan hidup. Beliau percaya bahwa pendidikan harus mencetak manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Melalui tradisi pesantren, beliau berhasil mencetak banyak tokoh besar yang berkontribusi bagi umat dan bangsa. Pemikiran beliau tetap relevan hingga kini sebagai pedoman untuk membangun pendidikan Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa. Wallahu A’lam Bissawab
Penulis: Zaenuddin Endy – Ketua Harian DPP RHMH Aljunaidiyah Biru Bone