HARIANSULSEL.COM, Makassar Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bukan sekadar forum memilih ketua umum. Ia adalah panggung sejarah, di mana partai Ka’bah diuji: apakah berani berubah, atau rela perlahan dilupakan umat. Setelah lebih dari lima dekade perjalanan penuh gejolak, PPP kini berdiri di persimpangan jalan: menjadi partai yang terbuka, atau tetap terjebak dalam lingkaran sempit konflik dan pragmatisme politik.
Harapan umat Islam sederhana: lahirnya pemimpin baru yang mampu mengembalikan marwah PPP. Pemimpin yang tidak sekadar lihai berstrategi, tetapi juga bersih, rendah hati, dan bisa merangkul semua kalangan. Pemimpin yang dekat dengan rakyat kecil, yang mengerti aspirasi pesantren, sekaligus mampu membawa gagasan modern bagi generasi muda. Karena itu, keterbukaan menjadi kata kunci. PPP tidak boleh lagi menutup diri, tidak boleh lagi takut dengan figur eksternal. Justru darah segar dari luar akan membawa energi baru.
Dalam konteks ini, H. Agus Suparmanto adalah sosok yang layak dipertimbangkan sebagai Ketua Umum PPP. Dengan pengalaman, jejaring, dan kapasitas politiknya, ia mampu memberi warna baru yang selama ini hilang. Sementara Gus Yasin, sebagai Sekretaris Jenderal, dapat menjadi jembatan emas antara partai dan basis pesantren, antara elite politik dan ulama muda NU. Kombinasi ini bukan hanya simbol keterbukaan, tetapi juga representasi nyata dari cita-cita PPP: menyatukan modernitas dengan tradisi, eksternal dengan internal, ulama dengan umara.
Keterbukaan ini bukan sekadar jargon. Dunia memberi banyak bukti bahwa keterbukaan adalah kunci keberlangsungan organisasi. Google dan Microsoft tumbuh menjadi raksasa karena berani merekrut talenta dari luar, mendengar kritik, dan terus berinovasi. Gojek di Indonesia mampu meraih kepercayaan jutaan konsumen karena terbuka pada masukan pengguna, tidak kaku pada model lama, dan berani bertransformasi. Sementara organisasi yang menutup diri, menolak perubahan, dan mengabaikan suara publik—pelan tapi pasti—hilang dari percaturan. PPP pun harus belajar: keterbukaan bukan kelemahan, melainkan sumber kekuatan.
Muktamar kali ini harus menjadi momentum kebangkitan sejati. PPP perlu membuang jauh politik transaksional yang hanya menggadaikan kursi kekuasaan, dan kembali menjadi rumah besar umat Islam. Jika berani berubah, PPP bukan hanya akan kembali ke Senayan pada Pemilu 2029, tetapi juga akan kembali ke hati umat.
Seperti kata bijak, “Change is the essence of survival; those who adapt will flourish, and those who resist will fade away.” Jika PPP ingin tetap hidup, maka keterbukaan dan perubahan adalah harga mati. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat PPP sebagai partai yang memilih jalan sunyi: berubah atau punah.